oleh

Hari Pahlawan 2019, SAHABAT K1P SURABAYA : Ada Tiga Warisan Karakter Khas Arek Suroboyo (“Cinta Tanah Air”, “Wani” dan “Opo Ono’e”) untuk AKU PAHLAWAN MASA KINI

-All Post-1.051 views

Hari Pahlawan 2019, SAHABAT K1P SURABAYA : Ada Tiga Warisan Karakter Khas Arek Suroboyo (“Cinta Tanah Air”, “Wani” dan “Opo Ono’e”) untuk AKU PAHLAWAN MASA KINI

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (10/11/2019) | PUKUL. 07.00 WIB

PERTEMPURAN “HEROIK” AREK-AREK SUROBOYO, 10 NOVEMBER 1945

Dahulu, di KOTA SURABAYA ini, tepatnya 10 NOVEMBER 1945, adalah merupakan batas akhir waktu dari ultimatum (ancaman) yang dikeluarkan oleh tentara Inggris kepada seluruh warga Surabaya, untuk menyerahkan pembunuh Jenderal Mallaby, menyerahkan seluruh persenjataan dan kembali tunduk patuh kepada pemerintahan Inggris lagi.

Mendengar ultimatum itu, alih-alih takut atau menyerah, Arek-Arek Suroboyo, di komandani oleh Arek asli Blauran, Bung Tomo, ternyata lebih memilih untuk tetap MERDEKA ATOE lebih baik MATI sebagai Syuhada’ (Pahlawan).

Sementara itu, para ulama’ pun tidak tinggal diam, melalui pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU), KH. Hasyim Ashari, menyerukan fatwa jihad atau RESOLUSI JIHAD, yang diserukan melalui musholla-Musholla dan masjid-Masjid.

Dalam Resolusi Jihad itu berisi fatwa, diantara Wajib hukumnya (Fardhu a’in) bagi semua umat islam (Muslim) yang berada dalam jarak 94 kilometer dari Surabaya untuk ikut membela Surabaya. Dan (Bahwa) melawan sekutu adalah sebagai sebuah bentuk dari “hubb al-wathan min al-iman” (mencintai tanah air adalah bagian dari pada iman).

Seruan Resolusi Jihad ini, kemudian melahirkan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah yang Dengan gagah berani, walau hanya berbekal “Opo Ono’e” Bambu Runcing dan beberapa persenjataan perang dari hasil rampasan. (Akhirnya) mereka dapat memukul mundur tentara sekutu dari Kota Surabaya, Ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu.

Disini, sejarah telah mengajari Kita, Bahwa walaupun Arek-Arek Suroboyo yang berada dibawah ancaman ultimatum tentara inggris yang memaksa Mereka untuk menyerah, tak sedikitpun Membuat mereka bergeming.

Namun, hanya dengan bermodal karakter “Cinta Tanah Air”, “Wani” (Berani) dan “Opo ono’e” (Apa adanya) itu, telah Membuat Mereka (malah lebih) memilih untuk bersatu padu, antara kaum NASIONALIS (dibawah komando Bung Tomo) dengan Kaum RELIGIUS (yang dipimpin KH. Hasyim Ashari) untuk tegak angkat senjata dan berperang mengusir para penjajah.

Hanya dengan semangat patriotisme yang tinggi, rasa kecintaan yang besar pada Kota Surabaya, serta menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, Mereka secara “Heroik” telah “MENGHARGAI” jasa Para pendahulunya (Pahlawan Kemerdekaan masa sebelum Tahun 1945), Mereka telah “MENGINSPIRASI” seluruh Rakyat indonesia di daerah lain saat itu untuk berani melawan segala bentuk penjajahan serta (Mereka) telah “MEWARISKAN” kepada anak cucunya saat ini, sebuah harga diri bangsa, yaitu Kemerdekaan 17 Agustus 1945, yang telah susah payah diproklamasikan dan harga mati untuk dipertahankan serta harus diisi oleh kita, generasi “Arek-Arek Suroboyo” Khususnya yang hidup di masa sekarang ini.

Kini, Pertempuran 10 November 74 Tahun silam itu, Oleh Pemerintah telah ditetapkan sebagai Hari Besar Nasional dan akan diperingati setiap tahunnya sebagai HARI PAHLAWAN, yang ditandai dengan didirikannya Monumen TUGU PAHLAWAN, yang berada tepat di depan Gedung Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Jalan Pahlawan No.110 Surabaya tersebut.

TIGA KARAKTER KHAS AREK-AREK SUROBOYO, MODAL DASAR AKU PAHLAWAN MASA KINI

Hari ini, 10 November 2019, Kewajiban kita sebagai Arek-Arek Suroboyo, untuk menjadi sosok “AKU PAHLAWAN MASA KINI”, dengan tetap mewarisi nilai-nilai kepahlawanan, sebagai identitas khas “Arek-Arek Suroboyo” dalam rangka mengisi kemerdekaan.

Ada tiga Karakter mendasar dan menjadi ciri khas dari Para Pahlawan “Arek-Arek Suroboyo” di masa itu, yaitu karakter “Cinta Tanah Air”, “Wani” dan “Opo Ono’e”, yang (tentunya) bisa kita warisi dan masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara di masa kini.

PERTAMA, karakter “Cinta Tanah Air”, yang akan mencetak Pribadi yang Religius, Toleran, berjiwa Patriotisme tinggi dan taat serta patuh kepada Negara/Pemerintah.

Dengan mengutip salah satu hadits Nabi Muhammad, SAW, yang berbunyi “Hubb al-wathan min al-iman” (Mencintai tanah air adalah bagian dari iman).

Dimana, Kita adalah makhluk ciptaan Allah, SWT dan juga bagian dari warga negara Indonesia dengan mayoritas pemeluk muslim ini, disamping Kita berkewajiban untuk meng-imani (Mempercayai) akan keberadaan sang pencipta (Allah, SWT) dengan taat menjalankan semua perintah-NYA dan sabar menjauhi semua larangan-NYA.

Juga Kita harus cinta NKRI, memiliki Rasa memiliki (sign of bellonging) Indonesia, sebagai Salah satu tanda Ke- Imanan kepada sang pencipta. Adapun (Rasa Cinta Tanah Air) itu dapat kita implementasi kan, dengan mencintai seluruh tumpah darah Indonesia tanpa membedakan latar belakang Suku, Adat, Ras dan Agama (SARA), Taat dan Patuh tanpa pernah membedakan (Tingkat kadar ketaatan dan kepatuhan dan Tinggi rendanya tingkatan Pemerintah) nya sebagai warga negara kepada PEMERINTAH, baik Pemerintahan ditingkat kota Surabaya (Walikota), Pemerintahan ditingkat Provinsi Jawa Timur (Gubernur), maupun Pemerintahan ditingkat Pusat (Presiden RI) dan mejunjung tinggi persatuan dan kesatuan guna menangkal aksi Terorisme, Radikalisme yang dapat mengarah terjadinya Disintegrasi bangsa.

Ingat, bahwa Generasi saat ini, setelah diwarisi oleh para Pendahulu kita, harus berbuat lebih baik. Karena, kita pun tentunya, tak ingin bila nantinya akan “disalahkan” oleh masa depan. Sebab dianggap tidak mampu mewariskan Negara ini kembali dengan kondisi berdaulat sebagai negara, bermartabat sebagai bangsa serta Maju dan Sejahtera sebagai Rakyat, kepada anak cucu kita sebagai generasi penerusnya.

KEDUA, Karakter “Wani” (berani) yang akan dapat melahirkan Pribadi yang Cerdas, Optimis, Inovatif dan mampu menghadirkan harmonisasi dalam melakukan “KErja BERSAMA”.

Seperti kita ketahui bersama, Kata SURABAYA atau SUROBOYO itu, berasal dari penggabungan dua suku kata, yaitu kata “SURO” atau Ikan SURO/ikan Hiu, yang melambangkan “Keberanian” dan kata “BOYO” atau hewan Buaya, yang melambangkan “Bahaya”.

Atau Dapat disimpulkan, kata “SURABAYA” memiliki arti “Lambang Keberanian (Wani) dalam menghadapi Bahaya dan ancaman”. Maka sangatlah wajar bila Arek-Arek Suroboyo khususnya, sebagai Cucu Pahlawan (Yang terlahir di Kota Surabaya) ini, harus mewarisi sikap kepahlawanan dan keberanian.

Karakter “Wani” (Berani) disini harus dimaknai Berani dalam hal-hal yang positif, diantaranya sikap berani melakukan “INTROSPEKSI DIRI” dengan mengeksploitasi kemampuan (SDM) yang dimiliki untuk kemudian memaksimalkannya menjadi sebuah Kekuatan baru yang lebih besar.

Mencetak Sosok Pribadi yang mampu merubah “Tantangan/Ancaman” menjadi “Peluang/Harapan”, sehingga (mampu) memotivasi dirinya dan Orang disekitarnya untuk Berani Ber-Inovasi melalui Program yang terukur, terarah dan Sinergi dengan Program Pemerintah Pusat, sehingga mampu bersaing menjelang Era Post Truth dan Disrupsi ini.

KETIGA, Karakter “Opo onoke” (Apa adanya), yang akan (Dapat) melahirkan Sosok Pribadi yang Berprinsip kuat, Jujur dan Amanah demi terwujudnya masyarakat yang “MAJU DAN SEJAHTERA”.

Termasuk, bentuk penerjemahan dari Sikap “Opo Ono’e” ini kehidupan sehari-hari, antara lain Sikap mau mengakui kekurangan dan bersedia menerima masukan, Menyampaikan Realita sebenarnya tanpa menutupinya dengan Retorika dan Sadar akan kapasitas tanpa pernah memaksakan kehendak pribadi atau golongan.

Adapun, Kita Manusia, sebagai makhluk sosial, yang dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, masih memiliki sifat ketergantuan akan campur tangan dari manusia lainnya. Maka, diharapkan, dengan adanya Karakter “Opo Ono’e” itu, menjadikan nya Figur Pribadi yang Berprinsip kuat, Pribadi yang jujur sampaikan apa adanya dan Pribadi yang Amanah saat (Kepadanya) diberi kepercayaan untuk memimpin serta (Dia) Akan mampu memberikan Kemajuan dan Kesejahteraan kepada Masyarakat yang dipimpinnya.

Dimana, hanya dengan memiliki Kejujuran untuk menyampaikan “Opo Ono’e” (Apa adanya) itu, akan menumbuhkan “Kepercayaan” (Trust) bagi Orang lain, sehingga akan memudahnya dalam berinteraksi sosial dengan manusia lainnya.

Sudah tiba saatnya bagi kita, Khususnya Arek-Arek Suroboyo dan Masyarakat Jawa Timur Pada Umumnya, untuk menjadi AKU PAHLAWAN MASA KINI, dengan tetap meneladani Karakter “Cinta Tanah Air”, “Wani” dan “Opo Ono’e” dari para pahlawan, yang telah dengan Rela mengorbankan darah dan nyawanya dalam mempertahankan serta mewariskan kemerdekaan kepada kita generasi penerus bangsa ini.

Dan hendaklah kita mampu menjadikan (Karakter “Cinta tanah air”, “Wani” dan “Opo ono’e”) itu, sebagai dasar dalam mengisi kemerdekaan, dengan cara membangun negeri sesuai kapasitas kita sebagai Rakyat, melalui bersemangat mendukung Program Kerja Pemerintah demi terwujudnya Warga Kota Surabaya Jawa Timur yang Maju dan Sejahtera.

( Oleh : HAMEDI, SE, Ketua Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya )

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed