oleh

HUT RI Ke-75, Dr. LIA ISTIFHAMA, ME.I : Pentingnya Angkat Kembali Makna Praja Muda Karana

Dr. Lia Istifhama, ME.I Ketua III STAI Taruna Surabaya

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SENIN (17/08/2020) | PUKUL 08.58 WIB

Memasuki tahun kemerdekaan ke 75, Indonesia genap berusia berlian. Istilah usia berlian ini merupakan etape ketiga usia ulang tahun, yaitu setelah 25 tahun yang bermakna perak dan 50 tahun yang bermakna emas. Mengambil tema kesetaraan, peringatan HUT RI pada 2020 ini dimaksudkan pemerintah guna mewujudkan ‘pertumbuhan ekonomi rakyat Indonesia dan progress nyata dalam bekerja untuk mempersembahkan hasil yang terbaik kepada semua rakyat Indonesia’.

Berbicara tentang bekerja yang membuahkan hasil terbaik, maka penting sekali untuk mengkaitkannya pada kompetensi generasi muda untuk berperan aktif di dalamnya. Momentum ini seyogyanya mengangkat kembali makna peringatan sebuah hari yang diperingati tiga hari sebelum Dirgahayu Indonesia, yaitu tepatnya 14 Agustus yang menjadi peringatan hari Pramuka.

Hari Pramuka yang diperingati sebelum hari kemerdekaan, bukan sebatas peringatan sebuah gerakan kepanduan, melainkan pengingat makna penting dibalik singkatan Pramuka, yaitu susunan kata dari Praja Muda Karana. Dicetuskan pada 14 Agustus 1961, praja muda karana memiliki arti ‘jiwa muda yang suka berkarya’.

Harapan kemudian tersemat pada generasi muda agar memiliki kemauan membesarkan potensinya sebagai penghasil karya-karya terbaik untuk bangsa Indonesia. Dikaitkan pada makna HUT RI yang telah menginjak usia berlian ini, menjadi penting memahami filosofi berlian, yaitu tangguh (ketangguhan) dan berkilau. Ketangguhan adalah resiliensi (daya tahan) menghadapi segala sesuatu dan sebuah suistanabilitas (keberlanjutan). Sedangkan berkilau adalah sebuah keindahan, kegermelapan.

Diartikan sebagai harapan sebuah usia, maka usia berlian adalah harapan akan yang melambangkan ketangguhan, mengingatkan kembali pada hari-hari jelang pembacaan teks proklamasi, yaitu hari Jum’at, 17 Agustus 1945 di jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, pukul 10.00 WIB.

Ketangguhan saat itu menjadi alasan logis mengapa akhirnya kemerdekaan dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri, bukan campur tangan atau dukungan penjajah. Jepang yang telah menyerah pada sekutu, menjanjikan kemerdekaan Indonesia.

Namun para tokoh pemuda, seperti Sutan Syahrir, menafikan komitmen Jepang yang saat itu mengalami kehancuran akibat bom atom menimpa Nagasaki. Desakan cita-cita untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan, berujung pada penculikan Soekarno-Hatta yang dikenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tanggal 17 Agustus pun menjadi potret keberanian bangsa Indonesia yang dengan tegas menyatakan kemerdekaan.

Ketangguhan dan keberanian para pendahulu kita, juga sangat nampak dalam peristiwa-peristiwa mempertahankan kemerdekaan RI, diantaranya peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya, Bandung Lautan Api 1946, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Serangan Umum Surakarta 1949, dan Medan Area yang berlangsung pada 1945-1947.

Segala peristiwa perjuangan para pahlawan, tak lepas dari karakter gotong royong yang menjadi kearifan lokal bangsa Indonesia. Dijelaskan oleh Clifford Geertz (2007) bahwa kearifan lokal bangsa adalah penentu harkat martabat bangsa. Dengan begitu, gotong royong yang terbukti menjadi pondasi kuat persatuan bangsa (terutama melawan penyerangan penjajah Belanda dan Jepang), harus tetap dijaga sebagai identias kearifkan lokal Indonesia. maka identitas gotong-royong menjadi ciri penting ketangguhan bangsa Indonesia.

Memaknai hari kemerdekaan dengan spirit karakter ketangguhan bangsa, setidaknya sebagai bentuk optimisme mengingat peringatan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid 19 yang telah mengubah berbagai tatanan, membuat peringatan HUT RI tidak semeriah sebelumnya, meskipun 75 tahun adalah usia berlian.

Berbeda dengan Libanon, yang dua tahun lalu ‘cukup beruntung’ melalui usia berlian tidak saat pandemi Covid 19, sehingga Presiden Michel Aoun saat 22 Nopember 2018 lalu masih bisa menghelat parade militer dan menyalakan obor. Situasi keterbatasan memperingati Dirgahayu Indonesia di usia berlian saat ini, bukan kemudian menafikan pentingnya entitas peringatan kemerdekaan RI.

Bukan hanya ketangguhan, entitas peringatan Kemerdekaan RI di usia berlian, juga sebagai makna momentum sesuatu hal yang berkilau. Berkilaunya sebuah negara, tak lepas dari karakter bangsanya. Sedangkan penentu utama identitas karakter bangsa, terfokus pada bagaimana karakter atau situasi generasi bangsanya. Inilah yang menjadikan spirit Praja Muda Karana seperti yang dijelaskan di atas, seyogyanya menjadi tempaan terwujudnya generasi bangsa yang berkilau.

Generasi bangsa yang memiliki tekad dan potensi membuahkan karya, akan mewujudkan kerja nyata mereka bagi kemasalahatan banyak orang. Karya anak bangsa tak lepas dari karakter berlian yang tangguh, yaitu mampu beradaptasi dan ber-resliensi terhadap segala perubahan situasi.

Ketika sekarang era digitalisasi, maka karya yang kreatif dan inovatif bukanlah hal tidak mungkin. Kemudahan di era modernisasi tentu menjadi akses besar terwujudnya karya-karya anak bangsa Indonesia.

Namun, kearifan lokal (local wisdom), seperti spirit gotong royong, harus tetap menjiwai kehidupan nyata sebagai penguat solidaritas sosial. Begitupun nilai-nilai budaya timur dan aspek agama, tentunya harus meneladani karakter berlian yang tidak berkarat, yaitu tetap menjaga nilai-nilai sopan santun dan moral agama.

Pada akhirnya, entitas peringatan kemerdekaan RI tetaplah momentum penting. Jika tekad memadukan spirit Praja Muda Karana dengan spirit filosofi berlian, maka ungkapan ‘Jayalah Indonesiaku’ benar-benar akan mengantar perubahan besar yang sangat positif dan signifikan, yaitu membangun spirit generasi muda yang mau berkarya untuk bangsa dan tangguh dalam segala situasi perubahan jaman yang dihadapi. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed