oleh

Ikuti Proses Pilwali Surabaya 2020, NING LIA semakin menyelami makna kaidah Islam

-All Post-445 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
RABU (04/12/2019) | PUKUL 11.14 WIB

Pilwali Surabaya semakin gencar diperbincangkan jelang tahun 2020 ini. Aroma persaingan pun semakin memanas, bahkan bersifat serangan personal tentu semakin dirasakan oleh kandidat yang semakin moncer di penghujung 2019 ini. Salah satu kandidat yang masih bertahan, yaitu Lia Istifhama, tidak menampiknya. Bahkan cawali yang sempat dicibir sebagai cawali bonek maupun cawali boneka ini, mengaku bersyukur dalam proses yang dilaluinya.

“Serangan personal memang sudah lumrah terjadi ya, karena barang siapa yang dianggap sebagai ancaman, ya pasti berhadapan dengan konsekuensinya. Dicibir, difitnah, itu kan hal yang pasti diterima oleh pemimpin, bahkan calon pemimpin. Ini saya sampaikan dalam beberapa majelis. Terlebih ketika kita bicara dalam kapasitas Maulid Nabi Muhammad SAW. Diantara karakter yang harus kita teladani dari beliau adalah kesabaran dan ketabahan beliau selama berdakwah.

Orang kafir selalu ingin menjatuhkan beliau dalam hal apapun, padahal Rasulullah tidak melakukan apapun yang berpotensi untuk dihina oleh orang lain. Secara logika tentu aneh. Ibarat orang tidur, gak ngapa-ngapain, eh tiba-tiba ada yang mau nyiram air. Hehehe.

Nah, inilah yang paling utama. Bagaimana kita bisa mengajak masyarakat untuk selalu sabar dan tabah. Dalam pesan maulid Nabi, saya juga berusaha mengingatkan 4 karakter Rasulullah, terutama Fatanah, yaitu cerdas. Cerdas terutama dalam berlisan, yaitu tidak menjadikan lisan sebagai tempat menghujat ataupun memfitnah”, jelas Lia selepas sambutannya pada pengajian rutin Ikatan Alumni santri Al Ihsan Njrangon, di Bulak Banteng.

“Alhamdulillah dengan proses pilwali, justru saya semakin menyelami makna kaidah Islam yang pernah diterangkan Gus Fahmi (Ketua Baguss Jatim asal Tebu Ireng, Jombang, red.) mengenai syubbanul yaum rijalul ghod. Bahwa generasi muda adalah pemimpin hari esok. Jadi harus selalu siap. Saya merasakan sendiri, bahwa kesiapan itu bukan hal yang bisa dianggap remeh. Seperti malam ini, saya berada diantara jamaah yang jumlahnya hampir ribuan, laki-laki semua dan mereka berkultur madura. Meski mereka sudah menjadi warga Surabaya, tapi dialek madura masih kental. Dan mereka ini para santri yang ilmu agamanya tentu jauh di atas saya.

Nah, hal seperti ini kan tidak bisa dianggap remeh, melainkan bagi saya ini merupakan kesempatan yang sangat bagus. Sama halnya dengan minggu kemarin di Majelis Suroiya, ribuan jamaah ibu-ibu muslimat yang mereka notabene jauh lebih fasih mengikuti pengajian rutin daripada saya. Tapi nyatanya saya berkesempatan bersapa dengan mereka semua dengan sedikit menyampaikan pesan maulid Nabi. Alhamdulillah, saya cuma berpikir ini semua kuasa Allah SWT”, jelas Dosen yang dikenal sebagai aktivis NU sejak remaja.

“Yang jelas, rajin turba (turun ke bawah) mengikuti majelis-majelis, bagi saya merupakan syiar ajakan bagi masyarakat untuk selalu bersiap menjadi pemimpin, termasuk bagaimana para orang tua bersiap menjadikan anaknya sebagai pemimpin kelak. Itu harapan saya setiap turba dalam majelis-majelis pengajian”, pungkas Lia. (Spr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed