oleh

Indahnya Memaafkan setelah Perselisihan

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (05/02/2021) | PUKUL 09.21 WIB

TOKOH | “Indahnya Memaafkan setelah Perselisihan”

Oleh : DR. Lia Istifhamah, M.E.I

Ada sebuah hadits yang sangat menarik dan layak menjadi renungan dalam mengawali tulisan ini.

الْعَفُوْ أَحَقُّ مَا عُمِلَ بِهِ (رواه البيهقي عن علي)

Artinya: Memaafkan adalah yang paling hak (benar) dikerjakan. (HR Baihaqi dari Ali, Kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 5696).

Demikian juga yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah catatan berikut:

الْفَصْلُ فِيْ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ (رواه هناد)

Artinya: Keutamaan adalah bahwa engkau menghubungi orang yang memutusimu, dan engkau memberi orang yang tidak memberimu, dan engkau memaafkan orang yang menganiayamu. (HR Hanaad, Kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 5983).

Sebagai pelengkap, berikut kisah yang dapat ditangkap maknanya terkait bagaimana seharusnya kita memaknai keadaan. Dan dengan demikian, selaksa maaf diberikan atas nama kemanusiaan dan keluhuran budi.

Dalam buku karangan Habib Achmad Zein Alkaf berjudul Amirulmukmininan Ali bin Abi Tholib Karramallahu Wajhahau. Bahwa dijelaskan tentang peristiwa Fathul Makkah.

Peristiwa tersebut bukan hanya momentum kemenangan umat Islam atas kota suci Makah, namun juga kemuliaan hati manusia yang membebaskan diri dari segala rasa dendam dan amarah dengan menggantinya sebagai hati penuh rasa maaf. Sikap mulia tersebut ditampakkan oleh Rasulullah SAW sesuai kisah berikut :

Saat itu Rasulullah SAW akan memasuki kota Makkah bersama pasukannya yang berjumlah sepuluh ribu orang. Maka Nabi memerintahkan kepada sahabatnya agar diumumkan kepada penduduk Makkah.

“Barangsiapa berada di dalam Masjidil Haram, maka dia aman. Barangsiapa berada di rumahnya dan menutup pintu rumahnya, maka dia aman. Barangsiapa berada di rumahnya Abu Sufyan, maka dia juga aman.”

Setelah pengumuman itu, baru kemudian Rasulullah SAW memasuki kota Makkah sambil menundukkan kepala dan melakukan thawaf. Setelah selesai, Nabi masuk ke dalam Ka’bah bersama Utsman bin Thalhah (pemegang kunci Kakbah), Usamah bin Zeid, dan Bilal bin Robah RA.

Patung-patung yang ada di dalam Ka’bah dan di sekelilingnya, diperintahkan untuk dihancurkan. Kemudian Nabi berdoa dan selepasnya, menemui penduduk Makkah yang sedang menunggu di luar Ka’bah.

Ketika berhadapan dengan penduduk Makkah dari kalangan kuffar (non-muslim), Rasulullah SAW bersabda :

“Hai orang-orang Quraisy, kira-kira apa yang akan aku perbuat terhadap kalian?”

Maka mereka menjawab: “Kebaikan, engkau adalah saudara yang mulia dan putra dari saudara yang mulia.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Kalau begitu aku akan berkata sebagaimana Yusuf berkata (mengambil sikap) terhadap saudara-saudaranya: Tiada cercaan atas kalian pada hari ini, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian, dan Dia Maha Penyayang diantara para Penyayang.”

Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Pergilah, kalian semua bebas.”

Begitulah kemuliaan hati Rasulullah SAW, tidak ada rasa dendam pada diri beliau, bahkan semua orang kuffar yang pernah menyakitinya, dimaafkan begitu saja. Kemuliaan akhlak beliau kemudian menjadi alasan berduyun-duyunnya penduduk Kuffar Makkah berpindah sebagai penganut agama Islam.

Dari kisah ini, setidaknya dapat diambil hikmah bahwa proses pematangan diri ialah bagaimana memaafkan kekhilafan orang lain yang pernah memberikan rasa tidak nyaman bagi kita. Bahkan ketika ia tidak berucap maaf pada kita.

Di situlah kita sedang menanam kebajikan yang semoga kelak tatkala keterbatasan sisi manusiawi kita terwujud sebagai kekhilafan, maka semoga orang lain pun berkenan memaafkannya.

Bahwa banyak orang berpikir lebih sulit mengucapkan kata maaf. Namun ternyata banyak juga yang kemudian berpikir bahwa tidak mudah memaafkan dengan mengatakan bagaimana saya harus memaafkan jika ia sendiri tidak memahami ada kesalahan pada dirinya ?

Mungkin jawab yang paling tepat ialah bahwa bagaimanapun, belajarlah memaafkan terlepas pemahamannya atas kesalahan.Mungkin ia tak sedikitpun menyadari kekkhilafannya, bahkan sebaliknya yang berada dalam benaknya. Namun setidaknya, dengan memaafkan, maka di situlah kau sedang menabung pemakluman (atas kesalahan) di mana kelak ketika keterbatasan manusiawimu berbuat kesalahan, maka semoga tabungan itu membuat orang lain memaafkan kesalahanmu kelak. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed