oleh

Jubir Risma Versus Cakada Surabaya

Jubir Risma Versus Cakada Surabaya

Oleh : HAMEDI

Mengamati Hasil rekaman soal debat perdana Pilkada Kota Surabaya 2020 yang berdurasi selama 2.16.26 detik itu, publik jadi paham.

Bahwa, lebih seperti debat antara ‘Duet Juru Bicara’ Walikota Surabaya, Tri Rismaharini melawan Pasangan Calon Mahfud Arifin-Mujiaman.

Daripada, debat antara dua pasang, pasangan calon wali dan wakil wali Kota Surabaya dengan mengambil thema : Menjawab permasalahan dan tantangan kota surabaya di era pandemi COVID-19 itu.

A. Duet Erji : Juru Bicara Risma

Tercatat, sedikitnya lima indikator sebagai dasar pembenar mengapa warganet, publik, dan warga kota menganggap Pasangan Erji ssbagai Juru Bicara Risma, yaitu :
1. Ajang kontestasi Perdebatan cenderung berlangsung searah;
2. Adanya aksi main klaim secara sepihak atas hasil kinerja dua periode kepemimpinan Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana;
3. Adanya Pemakaian bahasa ‘Kita’ oleh duet pasangan Eri-Armuji;
4. Duet Erji, terlihat mati-matian bela Capaian Kinerja Risma, dan
5. Adanya tagline, tagar meneruskan kebaikan dan meneruskan kemajuan.

Hal ini, membuktikan soal adanya anggapan bahwa semua kinerja Risma – tanpa terkecuali – dianggap ‘baik’ dan dikategorikan ‘maju’, yang akan pasangan Erji lanjutkan.

Sedangkan, menganggap Pasangan yang lain itu, (saat menyampaikan permasalahan), sebagai pihak yang bisanya cuman kritik, dianggap tidak tahu, belum teruji mampu, belum terbukti bisa, untuk meneruskan kebaikan dan kemajuan.

Sehingga, prosesi penyampaian ada ‘masalah’ dan ada ‘tantangan’ yang didasarkan atas penyerapan aspirasi dan masukan dari masyarakat bawah (grassroot) melalui serangkaian agenda kampanye yang dilakukan Pasangan MA-Mujiaman itu, oleh Pasangan Eri-Armuji dianggap :
1. Sesuatu yang sebenarnya tidak ada, hanya sengaja mengada-ada,
2. Tidak relevan dengan fakta realita yang dilihat oleh Pemerintah, dan
3. Tidak sesuai dengan data-data yang pemkot Surabaya punya, dan
4. Belum teruji mampu dan belum terbukti bisa untuk menjalankan roda pemerintahan seperti Risma.

B. Ada masalah dan ada tantangan

Sementara itu, Berdasarkan thema diatas, dapat pula diartikan, bahwa saat ini memang benar ada ‘masalah’ dan nanti akan ada ‘tantangan’ di Ibukota provinsi Jawa Timur ini.

Atau dengan kata lain, KPU atau Komisi Pemilihan Umum Surabaya dan para panelis, beranggapan Ada Rangkaian ‘masalah’ yang harus diselesaikan – melalui visi misi paslon – dan beragam tantangan yang harus dihadapi – dengan program kebijakan paslon – apabila nantinya mereka terpilih sebagai Pasangan suksesor Risma-Whisnu yang akan purna tugas pada 18 februari 2021 nanti.

Dimana, melalui penyampaian visi misi, program kerja, dan kebijakan yang akan diambil di debat perdana ini, yang akan dijadikan satu literatur cerdas oleh calon pemilih, warga kota Surabaya sebelum menggunakan hak pilihnya di TPS terdekat pada Rabu, 9 Desember 2020 mendatang.

Berikut ini, serangkaian masalah dan beragam tantangan di Kota Pahlawan tersebut, antara lain :

Bidang Kesehatan :

Tidak adanya aplikasi terpadu soal angka kematian ibu melahirkan dan kasus stanting, tingginya biaya berobat dan masih rendahnya insentif bagi kader posyandu, bu jumantik dan kader sosial, masih banyak keluarga yang tak memiliki jamban sehat, Banyaknya sungai yang kotor, dan pemukiman tak layak huni (kumuh).

Bidang Sosial kemasyarakatan :

Penyelesaian masalah Surat Ijo, Masih minimnya insentif bagi Rukun Tetangga, Rukun Warga, dan LPMK, minimnya insentif bagi guru honorer, guru ngaji, penjaga makam, dan marbot masjid, dan masih tingginya angka pengangguran, serta besarnya ketimpangan sosial diantara si kaya dan si miskin.

Bidang infrastruktur :

Masih banyak bangunan yang tidak sesuai dengan peruntukannya, banyak bangunan yang telah rusak tak terawat, tidak adanya skala prioritas pembangunan, banyak pasar dan sentra wisata kuliner yang terbengkalai, kurangnya koordinasi dengan lembaga legislatif, dan minimnya melibatkan partisipasi publik atau warga kota.

Ekonomi dan UKM :

Minimnya nilai investasi luar negeri, berlarut-larutnya pasar turi, pasar tunjungan, dan pasar wonokromo, dan masih tingginya angka pengangguran, serta pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

Generasi milenial dan olah raga :

Masih tingginya angka pengguna narkoba dan psikotropica, aksi ‘nge-lem’, tingkat kriminalitas, kurangnya fasilitas publik bagi kaum muda Surabaya dalam menyalurkan ekspresi dan kreatifitasnya, dan larangan penggunaan fasilitas olahraga sepakbola di lapangan karang gayang, GOR Tambaksari dan Gelora Bung Tomo Surabaya bagi tim ‘bajol ijo’ Persebaya Surabaya.

Soal Penanganan Pandemi Covid-19 :

Masih lambannya upaya pemutusan rantai penyebaran wabah virus corona, kurangnya sinergitas program dengan pemprov jatim dan pemerintah pusat, masih tingginya angka terkonfirmasi positif corona, banyaknya warga terdampak pandemi yang belum tersentuh bantuan, banyaknya ketua RT/RW yang harus tekor pakai kocek sendiri, disparitas penerapan kebijakan antara warkop dan cafe, pedagang pasar tradisional dan pengusaha outlet di mall, dan jauhnya TPU yang diperuntukkan bagi jenazah Covid-19, serta minimnya insentif dan uang lembur bagi tenaga kesehatan dan relawan Covid-19.

C. Duet Erji bukan Duo Risma-Whisnu

Selama ini, Keberhasilan capaian dua periode kepemimpinan Risma-Whisnu di Surabaya, merupakan hasil kerjasama yang baik, antara pemkot surabaya (eksekutif), DPRD Surabaya (legislatif), jajaran Muspida, sinergitas pemprov Jawa Timur dan Pemerintah Pusat, dan tak lepas dari partisipasi publik, baik warga kota maupun pihak swasta.

Jadi, terang bukan hanya milik walikota, Tri Rismaharini dan wakil walikota, Whisnu sakti buana semata.

Maka, sangat tak bijak jika Risma-Whisnu, merasa paling berjasa.

Jadi, jelas bukan hanya milik kedua pasangan calon yang berkontestasi di pilkada serentak 2020 kali ini saja.

Maka, tak elok jika Pasangan Erji, meng-klaim dengan merasa paling berhak dan menjadi ‘juru bicara Risma’.

Disisi lain, secara konstitusional, mewajibkan bagi seluruh kandidat calon yang sebelumnya tercatat, baik sebagai ASN maupun Pejabat penyelenggara negara aktif untuk terlebih dahulu mengajukan proses pengunduran diri.

Dari sini terlihat, bahwa tidak lagi ada korelasi diantara Pasangan Erji dengan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dan Pasangan Maju dengan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa lagi.

Meskipun, Eri Cahyadi merupakan mantan kepala Bappeko Surabaya, dan Armuji, mantan anggota DPRD Jatim.

Begitupun, Machfud Arifin, yang mantan Kapolda Jawa Timur, dan Mujiaman Sukirno, eks Dirut Surya Sembada, PDAM Kota Surabaya tersebut.

Selain itu, masyarakat surabaya merupakan warga negara yang cerdas, melek politik, dan tidak mudah ‘termakan’ serta menelan mentah-mentah propaganda dan informasi atau berita palsu (hoax) terkait aksi main klaim sepihak, keberpihakan Kepala daerah dan kepala pemerintahanan, baik tingkat regional maupun tingkat nasional, hanya kepada salah satu pasangan calon saja dan bukan yang lain.

Sebaliknya, apabila hal itu dilakukan, sesungguhnya paslon tersebut bukan merupakan kandidat kredible dan kapable, figur berkompeten, dan ‘sosok’ ideal untuk memimpin, menjalankan roda pemerintahan, dan mampu membawa perubahan yang lebih Maju dan Sejahtera, baik bagi calon pemilih, warga serta Kota Surabaya lima tahun kedepan.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, Bertempat di JW Marriot Hotel, Jalan Embong Malang, Surabaya, Rabu (04/11/2020) malam, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya menggelar debat publik perdana pemilihan calon wali dan wakil wali (Pilwali) Kota Surabaya Tahun 2020.

Pada debat publik perdana Pesta Demokrasi lima tahunan di Surabaya itu, dengan mengambil tema “Menjawab permasalahan dan tantangan Kota Surabaya di era pandemi COVID-19” itu, disiarkan secara langsung melalui stasiun Televisi lokal, JTV.

Sebagaimana di beritakan, di ajang kontestasi pilkada serentak surabaya kali ini, diikuti dua pasangan calon.

Pasangan dengan nomor urut satu, Eri Cahyadi-Ermuji, yang diusung oleh PDI Perjuangan dan PSI, serta didukung oleh Koalisi Membangun Surabaya atau KMS (yang terdiri dari 5 koalisi Partai Non Parlemen Surabaya, yaitu Partai Hanura, PBB, Berkarya, Garuda dan PKPI).

Berikutnya, Pasangan Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno, yang diusung oleh 8 koalisi partai politik, yaitu Partai Golkar, Demokrat, PKB, NasDem, Gerindra, NasDem, PPP, dan PKS, serta, didukung oleh Perindo. (Red)

#Penulis adalah Eksponen 98 Jawa Timur

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed