oleh

Kenangan bersama DR. KH. HF. Masjkur Hasjim, MM, MBA ( Kesaksian seorang Sahabat )

 

DR. KH. HF. Masjkur Hasjim, MM, MBA.
( Kesaksian seorang sahabat )

Beliau adalah sosok yang pemaaf, dan tidak pernah dendam pada siapapun. Sebagian besar waktu selama hidupnya di-dedikasikan untuk kemaslahatan orang banyak dan hampir tidak pernah memikirkan dirinya sendiri bahkan hingga menjelang wafatnya. Sampai-sampai beliau tidak memiliki apa-apa. Rumah yang beliau tempati sungguh sangat sederhana, sederhana pola kehidupan putra-putrinya. Rumah sederhana di lokasi padat penduduk, jemur Wonosari menjadi saksi sebagai tempat yang bersejarah bagi perjalan pendidikan dan karir politik seorang wanita tangguh, yang sekarang diberi Amanah oleh Allah SWT sebagai Gubernur Jawa Timur, Ibu Hj. Khofifah Indar Parawansa sebagaimana beliau ceritakan sendiri kepada media saat wawancara setelah acara pemakaman Almarhum selesai. Dan rumah sederhana itu pula yang telah mewariskan jiwa sosial dan ghirah politik kepada puteri tercinta beliau, yakni Ning Lia Istifhama yang kini santer digadang-gadang menjadi kandidat Calon Wakil Walikota Surabaya 2020.

Tokoh-tokoh penting seperti KH. Sumli Fadli, KH. Sulaiman Fadli, KH. Masduki Fadli adalah teman seperjuangan Almarhum yang telah lebih dulu berpulang ke Rahmatullah.

Disamping itu Almarhum dikenal sebagai sosok yang mencintai bacaan Burdah. Bacaan itu biasa beliau bawakan bersama-sama para jamaah/hadirin yang hadir sebagai pembuka ceramah beliau. Pembawaan dan alunan syahdu syair dan makna yang terkandung dalam setiap untaian kalimatnya, membuat hadirin menitikkan air mata, haru-biru terbawa oleh kandungan risalah Hadratus Syaikh Hasan Al- Basri, Sang Pengarang.

Konon, Syaikh Hasan Al-Basri sedang mengalami sakit yang berkepanjangan dimana segala macam obat tak mampu menyembuhkan sakitnya. Akhirnya suatu ketika setelah shalat malam beliau bermimpi berjumpa dengan Rusulullah SAW. Dan keesokan harinya atas izin Allah dan syafa’at Rasulullah SAW, penyakit yang sudah sekian lama beliau derita, tiba-tiba sembuh dan sehat seperti sediakala. Sebagai bentuk rasa terima kasih, rasa hormat dan cinta kepada Sang Baginda, akhirnya Syaikh Hasan Al-Basri menuangkannya dalam untaian kata puja-puji kepada Baginda Rasulullah SAW yang diberi nama Burdah yang sering kita baca dalam setiap kegiatan pengajian rutin.

Itulah ke-istiqamahan KH. Maskur Hasyim (Alm) dalam setiap dakwahnya bahkan hingga akhir khayatnya. Saya banyak mendapatkan ilmu tentang kehidupan ini dari Almarhum KH. Maskur Hasyim. Sungguh, saya adalah pengagum beliau.

Selamat Jalan, Wahai pengagum Syaikh Hasan Al-Basri. Semoga kini engkau ditaqdir berjumpa dan dikumpulkan dengan Syaikh Hasan Al-Basri, Sang Waliyullah.

Selamat Jalan, Wahai Hamba yang Penyabar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed