oleh

KESOMBONGAN

-All Post-329 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (18/09/2020) | PUKUL 07.05 WIB

KESOMBONGAN

Siapa saja yang bisa sombong itu?.

Jadi gini, orang itu dari punya sepeda terus punya motor, dia mulai muncul kesombongan.

Dari punya motor menjadi punya mobil, tambah lagi kesombongan.

Jadi dia terancam sebenarnya oleh kelemahan jiwa.

Jadi setiap akses yang naik, akses yang berkembang itu resikonya, karena dia harus diwadahi oleh jiwa manusia yang lemah, maka eksesnya adalah kesombongan itu.

Keangkuhan. Jadi singkat kata, makin kita kaya, makin terancam untuk hancur oleh kesombongan.

Dan bukan hanya soal kaya. Makin pintar, juga biasanya makin sombong.

Jadi ada yang namanya kesombongan feodal, itu untuk orang-orang kaya.

Ada kesombongan kuasa. Orang itu makin berkuasa makin sombong, makin tidak tahu bagaimana berdiri sejajar dengan orang lain.

Jadi, kekuasaan menciptakan kesombongan. Kekayaan menciptakan kesombongan.

Dan saya ingin mengatakan, poin yang sebenarnya bukan itu.

Kepandaian juga sangat berbahaya untuk memunculkan kesombongan kita.

Dalam bahasa populer kita sebut keangkuhan intelektual. Tapi yang lebih berbahaya lagi menjadi orang sholeh, orang alim, itu juga bisa menimbulkan kesombongan.

Jadi, banyak orang-orang yang beragama dengan tekun, salah satu hasilnya adalah dia sombong atas orang lain.

Diam-diam selalu merasa lebih hebat dari orang lain. Lebih masuk surga dari pada orang lain. Lebih diterima Allah dari pada orang lain.

Jadi, teman-teman sekalian. Sesungguhnya..ajaran yang paling dahsyat keindahannya adalah ajaran mengenai tawadlu’. Ajaran mengenai kerendahan hati.

Jadi, orang sholat, orang beribadah itu adalah latihan untuk mencampakkan diri, bukan untuk mengunggul dan menegakkan diri. Mencampakkan diri di hadapan Allah.

Kita bersujud-sujud, tersungkur-sungkur, supaya kita siap untuk rendah hati kepada siapapun.

Karena sekarang ini betul-betul bukan hanya orang kaya, bukan hanya orang kuasa, bukan hanya pintar, tapi orang alim juga sombong.

Itu namanya kesombongan orang alim.

Jadi tidak lantas kita, jangan jadi alim supaya tidak sombong, atau jangan tidak kaya supaya tidak sombong, tidak begitu.

Tapi, kayalah !, tapi tidak usah sombong.

Kuasalah !, tapi rendah hati.

Pandailah !, karena itu menjadi justru lebih arif dan menjadi alim serta sholehah, supaya engkau mampu merendahkan dirimu di bawah orang yang paling rendahpun di kampung-kampung yang kumuh tempat engkau lewat dengan kakimu.

Terima kasih. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed