oleh

Ketika Pendekar Fatayat NU Berlaga dan diterima Di Kandang Banteng.

-All Post-738 views

 

Oleh : Irwansyah Surabaya (mantan aktifis, warga kota surabaya)

Nama Lia Istifhama belakangan ini semakin santer terdengar sebagai salah satu calon penimpin Kota Surabaya yang akan berkontestasi pada Pilwali Surabaya 2020, tokoh Fatayat NU dan Muslimat NU tersebut tercatat sebagai salah satu nama yang bertarung memperebutkan rekomendasi PDI-P melalui penjaringan bacalon Wali kota-Wawali.

Langkah politik yang telah ditempuh oleh sosok yang akrab dengan panggilan Ning Lia tersebut, merupakan langkah strategis yang penulis nilai cukup berani sekaligus jitu.

Mengapa demikian??? Karena memilih untuk ikut bertarung memperebutkan rekomendasi dari PDI-P, memberi kesempatan kepada Lia Istifhama untuk maju dari Partai yang mendominasi peta politik Surabaya setidaknya dalam satu dekade terakhir.

Selain itu langkah politik tersebut dinilai sebagai langkah berani, sebagaimana yang telah diketahui bersama PDI-P memiliki stok kader yang cukup berkualitas dan memiliki modal politik yang mumpuni. Setidaknya nama-nama seperti Wishnu Sakti Buana mantan Ketua DPC PDI-P sekaligus Wakil Wali Kota Surabaya saat ini, Nugraha kader senior PDI-P, dan Dyah yang diketahui sebagai istri mantan Wali Kota Surabaya dan sekaligus tokoh senior di PDI-P diketahui juga turut bertarung memperebutkan rekomendasi Partai berlogo kepala Banteng tersebut.

Namun begitu, langkah politik Ning Lia Istifhama tersebut patut diperhitungkan dengan cermat oleh PDI-P. Tokoh yang berangkat dari background organisasi Fatayat NU sekaligus Muslimat NU, memberikan warna tersendiri bagi dinamiki penjaringan bacalon yang dilakukan oleh PDI-P. Selain itu nama Lia Istifhama juga dikenal sebagai ponakan Ibu Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur saat ini, menambah nilai jual tokoh wanita yang juga dikenal sebagai pemerhati pendidikan tersebut dalam arena pertarungan memperebutkan rekomendasi PDI-P.

Sementara itu, yang tak kalah pentingnya adalah di terimanya Ning Lia oleh basis partai besutan megawati soekarno putri itu.

bukan hanya banyaknya relawan semifinalis Ning Surabaya 2005 tersebut yang berasal dari basis merah, namun beberapa hari terakhir ini, Ning Lia diundang dan disambut dengan tangan terbuka di sebagian besar wilayah kantong suara PDI P Surabaya

Tiga modalitas politik yang dimiliki oleh Lia Istifhama sebagaimana telah penulis ulas diatas, merupakan modalitas yang berharga dan akan diperhitungkan dengan serius oleh PDI-P. Strategi pemenangan Pilwali 2019 dengan memajukan pasangan Nasionalis-Religius tentu akan lebih mudah dengan masuknya nama Lia Istifhama, sebagaimana diketahui meski saat ini Surabaya masih dikenal sebagai salah satu “Kandang Banteng” tapi PDI-P juga harus memperebutkan pemilih religius terutama budaya pemilih santri.

Dengan berdasar pertimbangan diatas patut kita nantikan laga pendekar Fatayat NU sekaligus Muslimat NU Jatim, di Kandang Banteng, bagaimana jurus jitu Lia Istifhama dalam memperebutkan rekomendasi dari PDI-P dan menghimpun dukungan politik dari kelompok kepentingan lainnya yang memiliki pengaruh dalam konstelasi Pilwali Surabaya tahun 2020 mendatang.(ARB)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed