Keutamaan Menghormati Kebaikan Orang Lain, Termasuk Umat Agama Lain

 14 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (07/03/2021) | PUKUL 19.48 WIB

TOKOH | Keutamaan Menghormati Kebaikan Orang Lain, Termasuk Umat Agama selain Islam.

Al-Qur’an, Surat An nisa’ ayat 86:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.

Firman Allah SWT diatas menjelaskan keutamaan menghormati orang lain, terlebih saat orang lain yang telah lebih awal menghormati kita. Dalam buku biografi KH. Abdul Wahab Chasbullah yang ditulis KH. Choirul Anam, dijelaskan pengalaman KH. Masykur Hasyim saat nyantri pada Mbah Wahab.

“Suatu ketika saya ini santri usil, karena melihat ada warga keturunan (non-muslim) yang membawa material (semen) untuk disumbangkan ke pondok, saya bertanya ke beliau: ‘Kiai dos pundi kok ada warga Tionghoa ikut membantu pembangunan masjid, pondok. Bukankah mereka itu orang kafir?’ Ternyata jawaban kiai Wahab sederhana: ‘Gak opo-opo, kur (KH. Masykur Hasyim, red.) soal kafir dan tidaknya menjadi urusan Allah. Bantuannya termasuk amal baik atau tidak itu juga terserah Allah. Kita sesama manusia harus saling menghormati, kita terima bantuan itu sebagai Bentuk penghormatan (atas kebaikan mereka),’ katanya. Jadi mbah Wahab itu, meski ulama besar tidak mau menutup hubungan baiknya dengan warga keturunan. Karena itu, beliau sangat dihormati oleh warga keturunan saat itu.”

Kisah tersebut tentunya menjadi pengingat bagi kita untuk tetap menghormati sesama manusia, meski memiliki latar belakang agama berbeda. Tatlkala kita mendapat kebaikan, tentunya kebaikan yang sama kitab alas, minimal dengan penerimaan bijak atas kebaikan tersebut.

Kisah tentang rasa menghormati sesama manusia, dikisahkan juga oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin yang diterjemahkan Ismail Ya’kub:

Satu ketika, seorang majusi minta bertemu pada Nabi Ibrahim AS. Lalu Nabi Ibrahim AS. menjawab: “Kalau kamu masuk Islam, niscaya aku pertemukan engkau (Nabi Ibrahim, red.)”. mendengar jawaban seperti itu, orang majusi itu kemudian pergi.

Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim: “Hai Ibrahim! Engkau tidak memberi makan kepadanya, selain dengan mengubah agamanya. Dan Kami tujuh puluh tahun yang lalu, memberi makan kepadanya, di atas kekafirannya. Maka jikalau engkau pertemukan engkau semalam, niscaya apa yang ada atas engkau?”.

Atas wahyu tersebut, maka pergilah Nabi Ibrahim AS. berusaha mencari orang majusi itu. Dan dimintanya kembali pertemuan yang diinginkan orang majusi tersebut. Lalu orang majusi itu bertanya kepada Nabi Ibrahim AS.: “Apa sebab, pada apa yang nampak bagi engkau itu (keinginan bertemu)?”.

Nabi Ibrahim AS. lalu menerangkan kepada orang majusi tadi. Maka orang majusi tersebut bertanya kepada Nabi Ibrahim: “Adakah yang begini engkau mengadakan hubungan dengan aku?”. Kemudian orang majusi itu menyambung: “Kemukakan kepadaku Agama Islam!”. Maka orang majusi itu pun masuk Agama Islam sebagai awal hubungan antara dia dengan Nabi Ibrahim AS.

Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menganjurkan agar hablum minannas berjalan dengan sikap-sikap saling menghormati. Terlebih kaum Muslimin dapat menjadi uswatun hasanah sikap-sikap mulia sehingga menjadi panutan bagi kaum agama lainnya. (Red)

Ditulis Oleh : Dr. Lia Istifhama, ME.I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *