oleh

LIA ISTIFHAMA : Almarhum KH. Masjkur Hasjim Puji Gubernur Jatim Khofifah

Lia Istifhama

Rasa Duka yang mendalam dirasakan oleh Calon Bakal Walikota (Cabawali) Kota Surabaya Lia Istifhama.

Pasalnya, Ayahandanya KH Masjkur Hasjim, tokoh Senior NU yang pernah menjabat sebagai komandan Banser Jatim juga mantan ketua GP Anshor Surabaya. Selain itu kakak ipar Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Kini KH Masjkur Hasjim, telah disemayamkan pada Kamis pagi 2 April 2020 di kediamannya Jemur Wonosari, Wonocolo Surabaya, telah berpulang.

“Usia beliau sebenarnya akan menginjak 71 tahun pada 14 April mendatang, tapi sebelum ulang tahun, ini yang terjadi.Beliau sekitar Minggu lalu sempat tanya, ini tahun berapa Hijriyah? Ternyata mungkin itu salah satu firasat beliau, yaitu berpulang pada 2 Sya’ban 1441 H, ” kata Lia Istifhama, anak keenam dari pasangan KH Masjkur Hasjim dan Hj. Aisyah tersebut.

Masih dengan Lia, Abah sangat kagum dengan ibu Gubernur. Sering sekali memuji-muji kalau dirumah, sebagai mantan ketua IPPNU Surabaya termuda, pintar, lantang berpidato, dan sebagainya. Beliau memang kagum karena harus diakui, jarang sekali figur perempuan sehebat ibu Gubernur.

“Beliau tidak mengukur sesuatu hal secara materi, tapi niat proses. Dan beliau selalu berpesan, jaga kesehatan ibu saya, juga sempatkan sowan ke teman-teman beliau yang kebetulan memang banyak yang saya kenal”, ujar Lia kepada Potretjatimdaily.Com di kediamannya Jemur Wonosari Wonocolo Surabaya. Jum’at (03/04/2020)

Sebelum meninggal, Lia bertanya kepada Ayahanda terkait proses Pilkada yang dijalaninya. “Abah, pilkada ditunda, gimana menurut Abah? , ” tanya Lia.

Ayahanda menanggapi, bagus, semakin bisa memperkuat jaringan, ” jawabnya.

Artinya Apapun yang dilakukan Lia Istifhama selalu mendapat support dari Almarhum KH Masjkur Hasjim.

Ditempat yang sama, Hj. Aisyah (65) adalah istri almarhum juga kakak kandung Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, menjelaskan kebiasaan sang Bengawan politik tersebut sebelum wafat.

“Akhir-akhir ini selalu ke makam setiap hari, ke makam anak kami yang sulung, H. Fery Azhar. Pernah juga bilang ke saya, ayo meninggal bareng. Saya spontan bilang, ya jangan, kasihan anak dan putu (cucu)”, jelasnya.

Lanjut Hj. Aisyah, sebelum berpulang, yaitu sore hari, kami berdua sempat pergi ke pasar.Beliau memang suka ajak jalan-jalan. Biasanya ke pasar, ke rumah anak, dan sebagainya. Tapi yang kemarin itu keluar sebentar saja dan cepat pulang.

“Begitu pulang langsung manggil kedua cucu yang dirumah. Semuanya masih seperti biasa. Baru tengah malam sakit perut, biasanya seperti itu masuk angin saja dan sembuh. Tapi yang kemarin itu tidak”, kisahnya. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed