oleh

“Lossing Trust”

Presiden Amerika Serikat, JOE BIDEN

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
KAMIS (21/01/2021) | PUKUL 15.25 WIB

POLITIK & HUKUM | Ada 8 pelajaran penting dari drama politik AS jelang Pelantikan Presiden terpilih Joe Biden.

Berikut ini, ke – 8 poin penting yang dapat diambil oleh para pecinta demokrasi dari situasi AS saat ini.

PERTAMA : Sistem demokrasi tidaklah sempurna, terutama implementasinya.

Ada wajah baik dan wajah buruk dalam demokrasi.

Namun, tidak berarti sistem otoritarian dan oligarki lebih baik.

KEDUA : Di era “post-truth politics”, ucapan pemimpin (presiden) harus benar dan jujur.

Kalau tidak, dampaknya sangat besar.

Ucapan Trump bahwa pilpresnya curang (suaranya dicuri) timbulkan kemarahan besar pendukungnya.

Terjadilah serbuan ke Capitol Hill yang coreng nama baik AS.

KETIGA : “Post-truth politics” (politik yang tidak berlandaskan pada fakta), termasuk kebohongan yang sistematis dan berulang, pada akhirnya akan gagal.

Pemimpin akan kehilangan “trust” dari rakyatnya, karena mereka bisa bedakan mana yang benar (faktual) dengan yang bohong (tidak faktual).

KEEMPAT : Setiap pemilu ada yang menang, ada yang kalah.

Meskipun berat dan menyakitkan, siapapun yang kalah wajib terima kekalahan dan ucapkan selamat kepada yang menang.

Itulah tradisi politik dan norma demokrasi yang baik.

Sayangnya, sebagai champions of democracy, ini tidak terjadi di AS sekarang.

KELIMA : Soal pergantian kekuasaan yang damai (smooth dan peaceful) tak terjadi di AS.

Transisi kekuasaan disertai luka, kebencian dan permusuhan yang menjadi petaka bagi AS yang politiknya terbelah (deeply divided).

Dan Energi Biden bisa habis untuk satukan AS hadapi tantangan ke depan.

Sebagaimana diketahui jelang pelantikan Joe Biden, Washington DC menjadi kota yang mencekam, hal ini tentunya berbeda dengan kondisi pelantikan Presiden sebelumnya.

KEENAM : Jelang pelantikan Biden, Washington DC mencekam, banyak barikade dan dalam pengamanan ketat 25.000 tentara.

Siapa ancamannya ? Kali ini bukan musuh dari luar, seperti biasanya, tapi “teroris domestik”.

Ini titik gelap dalam sejarah AS. Juga warisan buruk yang ditinggalkan Trump.

KETUJUH : Setiap krisis selalu ada pahlawannya.

Apresiasi pada Wapres Mike Pence yang tunjukkan karakter kesatrianya dengan menerima hasil Pilpres yang lalu meskipun kalah.

Dia tolak “perintah” Trump untuk ubah hasil pemilu karena tak berdasar.

Dia hormati konstitusi dan demokrasi.

KEDELAPAN : Pence bukan tipe yang haus kekuasaan.

Dia tak memanfaatkan kesempatan untuk ambil alih kepemimpinan meskipun diminta secara resmi oleh DPR AS (sesuai amandemen ke-25 konstitusi AS).

Pence menolak, karena bukan itu yang terbaik bagi bangsa AS. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed