oleh

MBAH WASIYO : Apa benar “The Real Couple” di Pilwali Surabaya 2020 masih bersembunyi?

-All Post-557 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY
MINGGU (13/10/2019) | 19.05 WIB

Perhelatan Pemilihan Wali – Wakil Wali (Pilwali) Kota Surabaya 2020, digegerkan dengan munculnya istilah Calon “Pemain Figuran” dan Calon “Pemain Inti”, yang beberapa hari ini viral di medsos dan membuat Nitizen bertanya-tanya.

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan, yaitu pengertian dari istilah Cawali-Cawawali, Calon “Pemain Figuran”, dan Calon “Pemain Inti”, sebagai Suksesor Walikota Risma yang akan purna tugas pada tahun 2021 mendatang.

Mendadak muncul pernyataan, “Bahwa Cawali-Cawawali yang sekarang muncul itu, hanya lah “Pemain Figuran, sedangkan “Pemain Intinya”, masih disembunyikan”.

Tak perlu lagi kita mencari cari darimana sumber pernyataan ini, Karena saya yakin itu adalah bentuk sebuah kekhilafan dalam berucap”,

Arti kalimat, CALON YANG SEKARANG MUNCUL, TAK LEBIH HANYALAH PEMAIN FIGURAN, sedangkan kami telah mencatat, ada beberapa nama yang telah muncul, diantaranya adalah : Whisnu Sakti Buana, Ir. Armuji, Dr. Jamhadi, Eri Cahyadi, Hendro Gunawan, M. Sholeh, Samuel Teguh Santoso, Dyah Katarina, Anugerah, Sutjipto Joe Angga, Untung Suropati, Dwi Astutik, Herlina Sanyoto Nyoto, Djodi Galajapo, Gus Hans, Ali Azhara, Vincensius Away, Firman Ali, Sri Setyo Pertiwi, Dhimas Anugrah, Haris Purwoko, Edy Tarmidzi W, dan Lia Istifhama.

Apakah seluruh nama yang tersebut diatas, dianggap hanya sebatas “PEMAIN FIGURAN”?, saya yakin tentu bukan itu maksudnya…

Arti dari kalimat, “PEMAIN INTINYA MASIH DISEMBUNYIKAN”,

Sungguh amat di sayangkan, tak sempat ditanyakan tentang Siapa yang dimaksud dengan “PEMAIN INTI”, Siapa yang telah memaksa Ia untuk tetap SEMBUNYI, dan Kira-kira kapan Ia akan dikeluarkan / keluar dari tempat persembunyiannya.

Ada sebuah hadits, yang kurang lebih berbunyi, “Undhur Maa Qolla, Waa Laa Tandhur Man Qolla”.
Artinya, “Apabila Saudaramu berkata, maka Lihatlah (Perhatikanlah) apa yang dikatakan olehnya, dan janganlah engkau Lihat (perhatikan) Siapa yang mengatakannya”.

Disini, melalui hadits ini, Nabi Muhammad, SAW mengajak kita untuk berfikir Obyektif dan sebaliknya dilarang untuk berfikir Subyektif.

Setelah kita coba melihat arti kata dari pernyataan tersebut, maka jelaslah bahwa pernyataan ini :
– Tidak disampaikan oleh Orang yang berkompeten,
– Jenis Kata Ambigu yang digunakan, berakibat munculnya penafsiran yang lebih dari satu,
– Tidak adanya Standard baku, mengakibatkan para Nitizen berbeda dalam menginterpretasikan nya,
– Tak benar tudingan hanya sebagai “Pemain Latar” kepada Cawali-Cawawali yang sudah mincul dihari ini,
– Tak benar bila masih Ada Cawali-Cawawali yang masih bersembunyi dan nggak mau keluar.

“Karena iki Pilwali rek, duduk tekong-tekong an (Petak Umpet)”

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari pelajaran ini,
Dan diberikan jalan yang terang benderang, biar tak lagi diulang,
Dan Segera Bagi “Pemain Inti” untuk segera Keluar dari tempat persembunyian nya.

Bagaimana menurut anda, Warga “Pemilih Cerdas” Kota Surabaya ?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed