oleh

Menakar Esprit de Corps PMII

-All Post-231 views

Oleh : Firman Syah Ali

Tiga hari terakhir, sejak tanggal 15 hingga tanggal 17 April 2020 notifikasi grup-grup whatssapp alumni PMII banyak sekali, penuh dengan ekspresi suka cita para alumni dan anggota PMII dalam peringatan Hari Lahir PMII yang setiap tahun jatuh pada tanggal 17 April. Ada alumnus PMII yang posting meme ucapan selamat dengan foto dirinya yang paling gagah atau paling cantik, lengkap dengan seluruh gelar dan jabatan yang sedang diembannya, baik jabatan pemerintahan, jabatan di lingkungan NU, jabatan di kampus maupun jabatan di IKA PMII. Ada juga yang memasang jabatan tertingginya dahulu saat masih aktif di PMII. Semua itu bagus dalam rangka memotivasi para anggota PMII yang masih aktif. Walaupun tentu saja bukan hanya motivasi yang dibutuhkan oleh adik-adik PMII.

Ada juga yang memasang meme hanya berupa foto dirinya tanpa nama, ada juga yang pakai nama saja tanpa gelar dan jabatan, saya termasuk yang kategori terakhir ini, hanya pasang foto dan nama tanpa gelar dan jabatan.

Beberapa alumni juga posting foto-foto lawas PMII yang bernilai sejarah, tentu saja fotonya hitam putih. Sahabat Ali Masykur Musa malah posting foto kartu anggotanya yang masih tersimpan rapi lengkap dengan kartu iuran dana perjuangan. Terharu melihat dokumen bersejarah tersebut, karena KH Ahmad Bagdja dan KH Muhyiddin Arubusman yang membubuhkan tanda-tangan pada Kartu Anggota tersebut kini sudah sama-sama pergi mendahului kita, bahkan mendahului pendiri PMII KH Nuril Huda.

Ada juga yang mengekspresikan rasa syukur dan suka cita hanya dalam bentuk tulisan komentar di medsos, dengan kalimat baku “Selamat Ulang Tahun PMII yang ke-60, Tangan terkepal dan Maju ke Muka. Ttd. Si Fulan”. Tentu saja yang menulis artikel di media arus utama tentang PMII juga tidak sedikit.

Selain berupa meme dan tulisan komentar, ekspresi suka cita juga ditunjukkan dengan video. Baik vlog maupun video singkat akan peristiwa bersejarah PMII maupun peristiwa terkini PMII yang melibatkan dirinya atau diri seorang tokoh publik asal PMII. Misalnya di Jawa Timur viral video pimpinan DPRD Jawa Timur menyampaikan ucapan selamat Harlah PMII saat sedang memimpin sidang. Juga viral foto masa lalu Bupati Pamekasan saat menjadi Ketua PKC PMII Jawa Timur, beliau tampak berdiri memberi sambutan di podium Pendopo Bupati Pamekasan, yang disandingkan dengan foto dirinya saat ini yang berdiri memberi sambutan di podium yang sama sebagai Bupati Pamekasan alias sebagai tuan rumah, bukan lagi tamu.

Suasana penuh suka cita dan romantisme sejarah ini berlangsung meriah sekali di berbagai platform medsos sambil tetap mendiskusikan dugaan praktik KKN Staf Khusus Presiden RI, kasus Puisi Paskah, kontroversi anggaran pemberantasan Covid-19 di Kabupaten Jember, ucapan duka cita terhadap wafatnya Ibunda Gus Baha’ dan Ucapan Selamat terhadap pelantikan Sahabat Benny Ramdhani sebagai Kepala BP2MI.

Aneka kegiatan yang menyesuaikan diri dengan situasi bencana global Covid-19 juga digelar, antara lain Khotmil Qur’an online, seminar virtual tentang PMII, Istighotsah Virtual untuk keselamatan bangsa dari Covid-19, Tahlilan Online untuk arwah para pendahulu PMII, Bedah Buku Online, Bedah Disertasi Online, Penerbitan buku dan penulisan artikel di berbagai media arus utama.

Itu semua terjadi di dunia maya, apakah betul di dunia nyata para alumni PMII se-akrab itu, saling bantu dan saling peduli satu sama lain?. Ini pertanyaan besar yang terus menggelayut. Pertanyaan ini terkait dengan erat dengan esprit de corps atau Jiwa Korsa yang dicetuskan pertama kali oleh Napoleon Bonaparte.

Sejarah Indonesia mencatat bahwa organisasi paling kuat jiwa korps dan militansinya adalah TNI, PKI dan salah satu organisasi Ekstra Universiter yang tentu saja bukan PMII.

Esprit de Corps adalah adalah kesadaran korps, perasaan sebagai suatu kesatuan, kekitaan, kecintaan terhadap suatu organisasi. Esprit de Corps dapat berupa banyak hal, seperti rasa hormat kepada organisasi, setia pada sumpah, janji dan tradisi, kesadaran bersama antar anggota dalam satu korps, dan kebanggaan menjadi anggota sebuah organisasi.

Kesadaran Korps biasanya ditunjukkan dengan aksi nyata secara spotan dan reflek untuk membantu sesama anggota atau alumni PMII yang sedang melakukan sebuah perjuangan, baik berjuang sebagai Calon Pejabat Publik, berjuang sebagai calon Doktor, maupun yang berjuang untuk bertahan hidup dalam kesulitannya mencari sesuap nasi untuk anak-isterinya. Praktik di lapangan masih kita jumpai ketidakpedulian antar sesama kader PMII, terutama yang sudah alumni. Mereka berjalan sendiri-sendiri alias nafsi-nafsi alias wangsewang.

Jika ada salah satu kader PMII berhasil menjadi pejabat publik, kebanyakan karena potensi pribadinya yang memang bagus, sama sekali tidak ada peran korps PMII di dalam proses perjuangannya. Maka setelah memegang jabatan, sang alumni PMII tersebut sebagian tidak peduli terhadap penataan sesama alumni PMII untuk menduduki pos-pos strategis sebagai bagian dari strategi pergerakan sebagaimana pernah diajarkan dalam kegiatan kaderisasi formal baik Mapaba, PKD maupun PKL.

Beberapa kader PMII yang telah berhasil menjadi pejabat publik malah menata korps lain di dalam lingkaran kekuasaanya dan membuang korpsnya sendiri sejauh mungkin. Kalau situasi seperti ini terua berlangsung maka arah juang PMII benar-benar terganggu. Cita-cita para pendiri PMII sedang terancam.

Kita harus menyelamatkan hari depan PMII dengan cara meningkatkan kembali Kesadaran Korps yang tinggi. Misalnya dengan cara :

1. Sering bersilaturahim secara rutin tanpa membedakan pangkat dan jabatan serta status ekonomi. Tentu saja kegiatan seperti ini harus diselenggarakan oleh Pengurus IKA PMII;
2. Pengurus IKA PMII harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap alumni PMII yang sedang berjuang secara politik maupun ekonomi. IKA PMII memang bukan organisasi politik namun alumni PMII mayoritas aktif dalam kegiatan-kegiatan politik itu fakta dan realita yang tidak terbantahkan. Realitas jangan dilawan, realitas jangan diabaikan, tapi harus dihadapi dan ditangani dengan cepat dan tepat.

Inti dari semua ini ada pada kepemimpinan. Kepemimpinan yang kuat akan mampu bangkitkan jiwa korsa. Sekarang bagaimana jiwa korsa akan bangkit kalau uniform saja kita tidak punya, bahkan Badan Hukum saja kita tidak punya.

Selamat Hari Lahir Pergerakanku, Tangan Terkepal dan Maju Ke Muka, Satu untuk semua, Semua untuk Satu, Bangkitkan Jiwa Korps!

*) Penulis adalah Bendahara Umum PW IKA PMII Jawa Timur.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed