oleh

Mengapa NU Diam ?

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
KAMIS (17/12/2020) | PUKUL 09.37 WIB

Kenapa NU diam saat FPI bentrok dengan aparat kepolisian?

Kenapa NU diam saat seorang Habib ditangkap polisi?

Bukankah warga NU sangat menghormati habib?

Pertanyaan semacam itu—entah terorganisir atau tidak—masif dan dominan memenuhi interaksi percakapan kita.

Kira-kira begitulah pertanyaan yang sering ditanyakan berbagai forum oleh pihak yang membela FPI.

Kita disajikan sepotong cerita. Sepotong cerita dari pihak FPI.

Dari rekaman suara pihak FPI, pernyataan sikap dari FPI, dan sekian banyak narasi yang diciptakan dari satu sisi saja.

Setelah sekian gempuran informasi dari pihak FPI, kita dipaksa untuk menggunakan narasi yang mereka sediakan untuk bereaksi.

Inilah yang diharapkan.

Jika NU terlalu dini memberikan pernyataan sikap, maka seolah-olah akan mendukung narasi yang sudah disiapkan.

Tuduhan diam, adalah provokasi FPI terhadap NU.

Padahal organisasi yang bersangkutan sedang berhadap-hadapan dengan negara, dalam hal ini melalui aparat Kepolisian.

FPI harusnya sudah mempertimbangkan resiko ketika negara melalui surat pemanggilan polisi mencari HRS kerumahnya; beberapa anggota FPI menghadang aparat Kepolisian yang sah secara hukum untuk menyambangi rumah HRS seolah-olah Petamburan adalah negara dalam negara.

Ketika kepolisian—dan kita semua sebagai rakyat sipil tidak menyukainya—menggunakan kekuatannya, untuk memaksa HRS hadir kehadapan negara, bukankah ini resiko yang mudah diperhitungkan?

Mengapa NU tidak perlu bereaksi?

Jika kita melihat beberapa peristiwa belakangan, kedatangan HRS ke Indonesia sudah dipersiapkan oleh jaringan politiknya.

Pertama, lahirnya Masyumi Reborn yang dibidani oleh Amien Rais Cs.

Kedua, deklarasi NU tandingan, Komite Khittah NU 1926 (KKNU).

Peristiwa yang kedua ini benar-benar berupaya menguji otoritas dan marwah NU dihadapan publik, terutama dihadapan warga Nahdliyin.

Tapi upaya ini berubah menjadi pepesan kosong, karena beberapa tokoh yang diklaim ikut dalam komite tersebut segera menyatakan bahwa namanya dicatut.

Namun jika diperhatikan, Komite yang dibuat dengan maksud menandingi dan memecah belah warga Nahdlyin ini diberikan ruang politik dan media oleh FPI.

Atau lebih tepatnya, Komite Khitah NU 1926 adalah bagian dari plot FPI untuk mengklaim dukungan NU terhadap FPI dan Imam Besarnya.

Akhir bulan November 2020, Gus Aam yang dikenal sebagai pelopor komite ini langsung menyambangi kediaman HRS.

Rekaman kedatangan ini menjadi liputan khusus front TV, channel resmi FPI yang baru-baru ini akun youtubenya menghilang.

Namun anda masih bisa melihat potongan rekaman kedatangan Gus Aam ke Petamburan di channel FUI dan PKS TV.

Artinya FPI memberikan ruang politik dan media kepada organisasi yang dibuat dengan maksud menandingi dan memecah belah warga NU.

NU memiliki kesempatan untuk melakukan pembalasan politik, tentu tindakan ‘diam’ ini seharusnya dianggap sebagai tindakan moderat dalam menghadapi ancaman perpecahan bangsa.

Bukan pertama kali NU mendapatkan stigma tidak mementingkan persatuan umat Islam, hal ini sudah tercetak dalam sejarah sejak keputusan mendirikan partai pada pemilu 1955—berpisah dari Masyumi.

Ketika kekuatan Islam modern mencap Soekarno bukan pemimpin Islam, NU memberikan gelar Waliyy Al-Amr Al-Daruri Bi Al-Syaukah kepada Pemimpin besar Revolusi ini.

Gerakan Islam Modern lebih mementingkan hasil-hasil politik, sementara persoalan praktis masyarakat ditinggalkan.

Jikalau NU tidak segera memberi gelar Wali kepada Soekarno, dan pemerintahan Republik Indonesia dianggap tidak syariah; bagaimana dengan pengadilan agama, kepengurusan haji, dan penghulu yang bekerja dalam tatanan negara?

Apakah dengan demikian orang yang hidup dibawah otoritas pemerintahan Soekarno dianggap hidupnya tidak sah secara syariah?

Inilah fitnah pertama pada NU yang dilayangkan gerakan politik Islam Modern hanya karena tidak mendukung agenda politik mereka.

Sejarah kemudian berulang. (Red)

Oleh : Imam Zanatul Haeri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed