oleh

Mengapa Walikota Risma selalu bersiteru dengan Gubernur Khofifah

Perseteruan antara Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dengan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, bukanlah sesuatu yang baru bagi publik Warga Surabaya dan Masyarakat Jawa Timur.

Bahkan, Ditengah Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19, Serunya Rivalitas diantara kedua Sosok Srikandi di Surabaya dan di Jawa Timur itu, terasa semakin memanas saja.

Tercatat, Tak sedikit pihak baik yang dengan sengaja maupun tidak, mencoba untuk memaksakan ‘Membanding-bandingkan’ Sosok Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur dengan Sosok Walikota perempuan pertama di Surabaya itu.

*’Ketika Walikota Risma terpaksa untuk bersiteru’*

Memang sulit bagi publik untuk memungkiri bahwa ‘Kepentingan politik’ lah, yang telah berhasil memicu semakin lebarnya jurang perselisihan diantara Kedua figur pemimpin bergender perempuan tersebut.

Sebagai salah satu kader partai, Walikota Risma memang ditugaskan untuk ‘Menghancurkan’ Dominasi Kepemimpinan Mantan Menteri Sosial di era Presiden Jokowi itu.

Dengan Target akhir, mencukupkan satu periode saja bagi Ketua Umum Muslimat NU itu, menjalankan Roda Pemerintahan di Bumi Majapahit.

Berharap, akan memuluskan langkah ‘Keponakan’ sang Ketua Umum Partai dimana Dia bertugas untuk berada di Gedung Grahadi Surabaya saat Suksesi Kepemimpinan Jawa Timur, Empat Tahun mendatang.

Setelah sebelumnya, Presiden UCLG Aspac itu, menolak di usung oleh PDI-Perjuangan sebagai Bacawagub Jatim untuk menggantikan Abdullah Azwar Anas.

Mantan Kepala Bappeko Surabaya itupun, Telah Gagal melestarikan Tradisi juara di Kota Pahlawan itu,

Bahkan, Ibunda dari Fuad Bernardi itu, harus mengakui Kemenangan Alumni Unair Surabaya yang juga Arek Asli Wonocolo Surabaya itu, diajang kontestasi pilgub jatim yang sukses digelar pada Rabu, 27 Juni 2018 lalu.

Dengan Berdasar hal diatas, Maka tak mengherankan apabila Ketua Bidang Kebudayaan DPP Partai besutan Megawati Soekarno Putri itu untuk terus berpolemik, tetap berseberangan dan selalu berulah serta wajib untuk ‘Melawan’ apapun Program Kebijakan yang dilaksanakan oleh Gubernur Khofifah di Ibukota Provinsi Jawa Timur ini.

Berikut, empat upaya Walikota Risma untuk menunjukkan loyalitasnya dalam ‘Ngerecoki’ Kepemimpinan Gubernur Khofifah, antara lain yang Pertama, Kontroversi adanya bau sampah di Gelora Bung Tomo yang berasal dari TPA Benowo Surabaya ;
Kedua, Aksi Menutup diri untuk menolak tawaran Tujuh Stadion di Jatim dari Gubernur Khofifah sebagai Alternatif Venue Pertandingan FIFA World Cup U-20,

Ketiga, Polemik soal Ada tidaknya Penggunaan APBD saat Kunjungan Walikota Surabaya ke Luar Negeri dan Keempat, Tarik ulur pengelolaan Terminal Joyoboyo serta Revitalisasi Kali Mas Surabaya.

Sedangkan walaupun ditengah masa Pandemi Covid-19, Walikota Risma tetap eksis ‘berulah’.

Dimana, terdapat, sembilan Ulah walikota Risma, Diantaranya,
1. Candaan & pekik Kata ‘Merdeka’ Walikota Risma untuk menyikapi penetapan Kota Surabaya sebagai Zona Merah Pasien Positif Corona oleh Gubernur Khofifah ;
2. Program ‘asal beda’ pembagian Wedang Pokak dan Telor ayam ;
3. Pengadaan Bilik Penyemprotan Mandiri tanpa rekomendasi dari WHO dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia ;
4. Menigkatnya jumlah Pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Surabaya paska diterapkannya PSBB di wilayah Surabaya Raya ;
5. Perbedaan Cara pengIdentifikasian Klaster Pasien Positif Covid-19 ;
6. Lambatnya Penanganan Pasien Dalam Pemantauan (PDP) di Klaster Pabrik Rokok Sampurna Surabaya ;
7. Perbedaan Cara menghitung prosentase pembagian bantuan dari pemerintah pusat bagi warga Surabaya, warga Sidoarjo, Warga Gresik dan Masyarakat Jawa Timur ;
8. Aksi Walk Out saat Perpanjangan PSBB ;
9. Aksi Klaim keberatan apabila banyak Pasien dari luar Surabaya yang sekarang dirawat di Rumah Sakit milik Pemkot. Surabaya.

( Ditulis Oleh HAMEDI, SE )
Penulis adalah Mantan Aktifis Reformasi ’98 Jatim, Alumni SMA Negeri 21 Surabaya, Koordinator Surabaya Barat Relawan ‘Saya Surabaya’ 2015, Ketua Forum Komunikasi Warga Eks Lokalisasi Surabaya dan Ketua Relawan Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya.

HAMEDI, SE

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed