oleh

Nasib Buruk DJOKO TJANDRA 1999 : Selesaikan ‘BB’ Dengan ‘EGP’.

-All Post-73 views
Djoko Soegiarto Tjandra alias Joe Chan, Selesaikan “BB” dengan “EGP”

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (31/07/2020) | PUKUL 21.36 WIB

“Sebuah kisah tentang sosok Djoko Tjandra dilihat dari sudut pandang yang berbeda, dimana DT dengan sengaja dikorbankan melalui ‘Permainan Kotor Politik’, saat menyelesaikan skandal cessie Bank Bali (BB), Tbk dengan menggunakan PT. Era Giat Prima (EGP) di sekitar Tahun 1997,”

(HAMEDI, SE, Ketua Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya).

Nasib Buruk DJOKO TJANDRA 1999 : Selesaikan ‘BB’ Dengan ‘EGP’.

Tahun 1999, saya menulis sebuah buku berjudul “Skandal Bank Bali: Tumbangkan Habibie ?”

Untuk menuliskan buku ini, saya membuat anak usaha bernama ‘Tarawang Press’.

Itu buku pertama, yang kemudian diikuti oleh buku-buku sejenis, yang sesungguhnya memindahkan hasil riset pustaka dan sedikit kajian dengan melibatkan nara sumber independen.

Kemudian dijadikan sebuah dokumentasi agar tidak hilang ditelan sejarah.

Tujuan buku tersebutpun, gagal. Habibie pun tidak tumbang, walau kemudian gagal saat mengikuti kontestasi Pilpres berikutnya.

Habibie tidak pernah diingat menjadi pelopor money politik, dalam era pemilihan presiden secara langsung.

Kalau pun ada yang ingat, pasti akan membela : siapa sih yang tidak (mau) ?. Dianggap wajar dan tidak ada yang akan mempermasalahkannya.

Pertanyaannya seberapa ngeri dan sadis skandal ini sebenarnya ? Sehingga 20 tahun kemudianpun, masih saja menjadi topik yang seolah-olah tidak pernah usang.

Hingga sampai hari ini Djoko Tjandra masih saja dikejar-kejar ?.

Dan, Seberapa brengseknyakah dirinya  Atau lebih tepatnya seberapa buruk nasibnya ?.

Ok, kita akan membahasnya satu persatu.

Pertama : siapa BANK BALI (BB) ?.

Nama ini sebenarnya bentuk kecerdasan orang marketing, tapi sekaligus sejenis kutukan.

Dengan ,’sembrono, tanpa izin dan terlalu berani.

Mungkin, karena itu, karma menerkamnya.

Nama Bali dipakai, karena konon kosa kata “Bali” jauh lebih terkenal dari kata “Indonesia”.

Sialnya, Ia tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bali secara apa pun !.

Kabar baiknya, ia dikelola dengan sangat rapih dan professional.

Ketika saya memutuskan menuliskannya (dalam arti ikut membelanya).

Tentu atas dasar hal tersebut, tidak rela ketika bank yang sehat, bersih, dan jujur diacak-acak oleh perilaku para politisi busuk.

Terjadinya skandal, bermula dari ketika Bank Bali yang gagal menagih hutang kepada tiga bank.

Yaitu BDNI dan BUN yg timbul dari transaksi money market, SWAP, dan pembelian promissory notes.

Proses yang sangat biasa didalam pergaulan dunia perbankan.

Tagihan pada BDNI (belum dihitung bunga) Rp 428,25 miliar dan US$ 45 juta.

Sedangkan untuk tagihan yang ke BUN adalah senilai Rp. 200 miliar.

Sialnya, ketika ia meminta tolong kpd BI sbg Bank Sentral ditolak. Hanya karena dianggap terlambat mengajukan klaim. Permainan administrasi biasa yg memang kemudian ditengarai “by design” untuk membunuh bank ini.

Dari titik inilah sebenarnya skandal cessie itu dimulai !

Kedua : Siapa Djoko Soegiarto Tjandra ?.

Sesungguhnya DT adalah seorang pengusaha properti yang sukses.

Di Jakarta, sebelum “kejeblos terlibat main politik”, ia tercatat telah memiliki beberapa aset property yang cukup besar.

Bahkan Ia identik dengan Grup Mulia, yang memiliki bisnis inti properti. Grup Usaha, yang didirikan melalui kongsi empat bersaudara, diantaranya, yaitu : Tjandra Kusuma, Eka Tjandranegara, Gunawan Tjandra, dan Djoko Tjandra sendiri.

Pada dekade 1990-an, grup ini menjadi komandan utama dalam kepemilikan properti perkantoran seperti antara lain : Five Pillars Office Park, Lippo Life Building, Kuningan Tower, BRI II, dan Mulia Center.

Grup Mulia juga menaungi sebanyak 41 anak perusahaan, baik didalam maupun di luar negeri.

Selain properti, group Mulai, terekam pada tahun 1998, telah memiliki aset sebesar Rp 11,5 triliun. Dan, mulai merambah ke bisnis keramik, metal dan gelas.

Singkat kata Joko Tjandra bukanlah “pengusaha kaleng2”.

Ia sudah lebih dahulu kaya, bahkan apabila dibandingkan dengan kasus yang dipersangkakan kepada dirinya.

Jumlahnya sungguh tidaklah berarti.

Di sinilah kejinya politik. Kejamnya ketika pengusaha jatuh jadi keledai politik partai!

Ketiga : Tentang kasusnya sendiri

Letak kesialan Djoko Tjandra dimulai saat Dirinya berhubungan dengan sosok Setya Novanto, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Bendahara Partai Golkar (catat: partai politik ya !).

Ia kemudian diajak oleh Setya Novanto terlibat dalam perusahaan bernama PT. Era Giat Prima (EGP).

Sebuah Akronim yang sering diplesetkan menjadi ‘Emang Gue Pikirin (EGP).

Kepada perusahaan (EGP) ini, setelah frustasi menagih piutang tertanam di BDNI, Bank Umum Nasional (BUN), dan Bank Tiara pada 1997.

Dimana saat itu, Krisis moneter sedang melanda sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Total piutang di ketiga bank tersebut, telah mencapai sekitar Rp. 3 triliun.

Namun, hingga ketiga bank itu masuk perawatan di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), tagihan yang dimaksud ternya tidak kunjung cair.

Di sinilah untuk kesekian kalinya, terbukti bahwa bank yang baik itu justru tidak ada yang mau untuk menolong. Karena, Ia maunya main bersih.

Coba, Bandingkan dengan bank-bank jahat dan kotor itu.

Kemudian bagaimana hal ikhwal munculnya Skandal Cessie itu ?

Bermula dari perjanjian kerja sama yang diteken pada 11 Januari 1999 oleh Rudy Ramly, Direktur Bank Bali, Firman Sucahya dan Setya Novanto.

Dikatakan dalam Surat itu, bahwa EGP akan menerima fee sebesar setengah dari piutang yang dapat ditagih.

Bank Indonesia (BI) dan BPPN akhirnya setuju untuk menggelontorkan uang sebesar Rp. 905 miliar.

Namun, Bank Bali hanya kebagian Rp. 359 miliar saja,

Sedangkan Rp. 546 miliar sisanya, masuk ke rekening PT. EGP., lalu Dana yang diterima PT. EGP inilah yang nantinya digunakan membiayai pencalonan BJ Habibie diajang kontestasi Pilpres 1999.

Keempat : Kenapa kasus ini menjadi besar dan berlarut-larut ?.

Ternyata proses pembayaran cessie tersebut tidak sah !

Kejanggalan itu terlihat dari total fee yang telah diterima oleh EGP, di luar ternyata melampaui kewenangan banyak lembaga lain.

Disisi lain, proses cessie juga tidak pernah diketahui oleh BPPN, Padahal, BDNI saat itu sedang dirawat oleh BPPN.

Cessie itu juga tidak pernah dilaporkan ke BAPEPAM dan Bursa Efek Jakarta (BEJ), meski Bank Bali telah melantai di bursa.

Selain itu, penagihan kepada BPPN ternyata tetap dilakukan oleh Bank Bali, bukan EGP.

Kepala BPPN saat itu, Glenn MS Yusuf yang menyadari adanya sejumlah kejanggalan itu akhirnya membatalkan perjanjian cessie.

Tapi terlambat, sebab uang sudah terlanjur keluar dan beredar sebagai dana politik !.

Di titik inilah kemudian selain Djoko, Kejaksaan Agung menetapkan sejumlah nama sebagai tersangka yaitu : mantan Gubernur BI, Syahril Sabirin, Wakil Kepala BPPN, Pande Lubis, mantan Menteri BUMN, Tanri Abeng, dan Rudy Ramli.

Namun, dari sejumlah nama tersebut, hanya tinggal tiga yang akhirnya diadili yaitu : Djoko Tjandra, Syahril dan Pande Lubis.

Sedangkan dari semua para elite petinggi partai Golkar tak satu pun yang tersentuh ! Padahal merekalah pihak yang paling menikmati.

Lalu apa yang terjadi hingga kasus ini berlarut-larut hingga hari ini ?.

Pada tahap peradilan tingkat pertama, awal Februari 2000, Kasus pidana itu mulai bergulir ke Pengadilan Negeri Jaksel.

Meski sebelumnya Kejaksaan Agung sempat menahannya, akan tetapi pada 14 Januari-10 Februari 2000, Djoko menyandang status tahanan kota pada 10 Feb berkat ketetapan Wakil Ketua PN Jakarta Selatan.

Pada 6 Maret, putusan sela PN Jakarta Selatan menyatakan dakwaan jaksa terhadal Djoko tidak dapat diterima.

Jaksa lalu mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta melalui jaksa penuntut umum (JPU) Antasari Azhar berupa dakwaan dugaan telah melakukan perbuatan tindak pidana korupsi dalam kasus Bank Bali.

Ia pun dituntut hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan. Namun majelis hakim yang diketuai oleh Soedarto, dan Muchtar Ritonga serta Sultan Mangun sebagai anggota itu justru melepaskan Djoko Tjandra dari segala tuntutan.

Dalam putusannya, majelis menyatakan dakwaan JPU terbukti secara hukum. Akan tetapi, perbuatan itu dinilai bukan sebagai perbuatan pidana, melainkan perdata.

Kemudian Antasari pun mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Kegigihan Antazari dalam kasus inilah yang membuat namanya jadi populer, hingga kelak Ia diangkat sebagai Ketua KPK.

Namun, majelis hakim agung MA kembali melepaskan Djoko Tjandra dari segala tuntutan.

Putusan itu diambil dengan mekanisme voting karena adanya perbedaan pendapat antara hakim Sunu Wahadi dan M Said Harahap, dengan hakim Artidjo Alkostar.

Belakangannya, pada Oktober 2008, Kejaksaan Agung mengajukan peninjauan kembali (PK) ke MA.

Majelis PK yang diketuai Djoko Sarwoko dengan anggota I Made Tara, Komariah E Sapardjaja, Mansyur Kertayasa dan Artidjo Alkostar menerima PK yang diajukan jaksa.

Selain menjatuhkan vonis 2 tahun penjara atau lebih berat dari tuntutan jaksa di tingkat banding, uang milik Djoko di Bank Bali sebesar Rp. 546 miliar dirampas untuk negara.

Di sinilah kemudian sebagaimana yg kita tahu !

Djoko Tjandra karena dikorbankan, akhirnya memilih jadi buron ! Sementara penghasutnya Setya Novanto sempat nangkring jadi Ketua DPR.

Walau kemudian juga harus menerima karma-nya walau harus melalui kasus yang berbeda lagi.

Ia harus menerima nasib menjadi “gelandangan antar Negara”.

Jelas Ia masih cukup kaya untuk melakukan apa saja. Ia sudah kaya dari dulunya.

Saya cukup tersentuh degan kata-kata Djoko Tjandra : “kalau saya (DT) bersalah, jangankan dua tahun dipenjara, seumur hidup pun saya rela. Tapi, karena saya tidak bersalah, sehari pun saya tidak akan mau dipenjara.” tegasnya.

Saya pikir saya percaya memang ada ketidak adilan terhadap dirinya.

Kasus Djoko Soegiarto Tjandra ini adalsh drama yang saya sendiri tidak tahu untuk apa ? Rivalitas Polisi dan Tentara ? Atau KPK dan Kejaksaan ? Atau antar partai politik ?.

Bisa apa saja. Bisa dipahami bagaimana Ia justru dengan mudah akan bisa mempermalukan siapa saja.

Ia adalah figur yang karena nasib buruknya bisa “melampaui”, bahkan menjadi jauh lebih besar dari musuh-musuhnya.

Ketika Ia mendadak muncul kembali, lalu banyak yang berteriak-teriak, tanpa pernah mau memahami sesungguhnya apa yang sebenarnya terjadi.

Ia korban dari ketidak adilan, nasib sial dari ketidak hati-hatian, yang sesungguhnya bisa menimpa siapa saja.

Pesan Moral dari kasus Djoko Tjandra :

“Bisnis itu apabila ingin tetap besar, harus bersedia dikerjai atau ditunggangi kepentingan politik”.

Boleh dibolak-balik, tapi intinya sama saja.

Mustahil tanpa itu !!

Itu Menjelaskan kenapa oligarki dan korupsi tak akan pernah mati. (Red)

#Judul Asli, ‘NASIB BURUK DJOKO TJANDRA”, Ditulis Oleh : dr. Andi Setiono Mangoen Prasodjo.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed