Nuansa Universalisme Peradaban Di Negara Islam

 17 views

Lia istifhama saat berada di depan hotel grand zam-zam Makkah

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (05/03/2021) | PUKUL 14.07 WIB

Seperti kita ketahui, Islam adalah agama universal. Seperti yang diterangkan dalam sebuah hadis, bahwa al-Islaamu shalihun li kulli zaman wa makan. Yang dapat diambil makna bahwa pengejawantahan nilai-nilai Islam adalah relevan atau adaptif dengan perkembangan peradaban manusia, yaitu perubahan waktu dan tempat.

Hal ini kiranya menjadi salah satu motivasi bagi umat Islam agar tetap mampu mengikuti perkembangan apapun dengan tetap mengutamakan kemanfaat dan menjauhi kemudlaratan. Menolak perkembangan zaman, yaitu tidak mengikuti kemajuan teknologi dan budaya peradaban manusia saat ini, hanyalah menjadikan kita terjebak dalam ketertinggalan.

Pada faktanya, kemajuan peradaban telah ditampakkan oleh negara-negara mayoritas Islam, seperti berdirinya Menara pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Dubai dan kemegahan bangunan di sekitar Baitullah Makkah. Oleh Prof. H. MASDAR HILMY S.Ag.,M.A.,Ph.D., dalam bukunya Spiritualitas Haji, kemegahan di tanah suci disebutnya sebagai “Perkawinan Kenyamanan”.

Perhotelan super megah, yaitu grand zam-zam di sekitar Masjidil Haram menjadi salah satu bentuk nyata perkawinan kenyamanan, sebuah fenomena yang meneguhkan harmoni dan perdamaian antara Islam dan Kapitalisme. Dalam pengalaman penulis (Lia Istifhama, red.), hadirnya grand zam-zam dengan jam besar di puncak menaranya, merupakan nilai tersendiri dalam ibadah umrah, yaitu memberikan nuansa takjub dan bangga bahwa negara Islam telah menjadi potret negara maju.

Meski terkesan telah lahir nuansa kapitalisme di negara-negara Islam, namun hal tersebut memang sangat wajar terjadi karena perkembangan jaman memang harus dapat diikuti oleh kaum muslimin. Yang terpenting, universalnya nilai-nilai Islam, yaitu semangat merelevansikan Islam dengan perkembangan peradaban, tidak boleh melunturkan asas manfaat.

مَصْلَحَةُ أَدَاءِ الْوَاجِبِ أَعْظَمُ مِنْ مَفْسَدَةِ الْوُقُوْعِ فِي الشُّبْهَةِ

Maslahat melakukan hal yang wajib lebih besar dari pada mafsadat (kerusakan akibat) terjatuh dalam syubhat.

Kaidah tersebut kemudian menjadi penting untuk diinternalisasi, bahwa dalam melakukan hal apapun, harus melihat masalahat dan manfaat yang dapat diterima. Manfaat tersebut tentunya harus lebih besar daripada dampak lainnya. Jikalaupun ada sisi kerusakan yang secara tidak langsung melekat dalam suatu perkembangan, maka diperlukan upaya-upaya tambahan untuk mengantisipasinya, bahkan diharapkan dapat mereduksi sisi kerusakan yang bisa timbul. Hal ini penting untuk direnungkan bersama, terutama berkaitan perkembangan pola komunikasi dan interaksi sosial di era digitalisasi. (Red)

Dr. Lia Istifhama, MEI
Wakil Sekretaris MUI Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *