oleh

Omnibus Law ‘Membangun’, tidak ‘Memajukan’.

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (25/10/2020) | PUKUL 07.23 WIB

Omnibus Law ‘Membangun’, tidak ‘Memajukan’

Nasionalisme terkikis Pragmatisme bernegara. Patriotisme tergerus Kebutuhan Ekonomi. Dan, Nation Interest ditenggelamkan oleh Globalist Cabal.

Trump itu, jelek-jelek begitu membangkitkan Nasionalisme, membangkitkan De-Globalisasi, dan Patriotisme di banyak negara. Termasuk Amerika tentunya.

Trump telah menyadarkan bahwa Kekayaan Nasional itu, sangat berharga nilainya. Jangan di hambur-hamburkan ke Asing.

Lalu pemerintah saat ini, menerbitkan sebuah ‘Undang-undang Sapu Jagat’, yang niatnya baik tentunya. Namun, Omnibus Law akan tumbuh baik hanya dengan kondisi tertentu. Atau di lahan tertentu. Harus ada ‘Prerequisite’ atau persyaratan yang harus di penuhi untuk tumbuhnya ‘Omnibus Law’ dengan baik, terutama Produk yang akan menghasilkan ‘Hard Currency’.

Kita faham niatnya, Omnibus Law adalah Meningkatkan Ekonomi Indonesia dengan meningkatkan Investasi Asing mudah masuk di Indonesia dengan FDI salah satunya.

Kita saat ini, di harapkan menyelesaikan ribetnya banyak peraturan di Daerah dan juga peraturan di Pusat. Dan yang paling cepat adalah Semuanya di pusatkan ke pusat, sehingga Daerah jadi simple.

Yang kita terus pertanyakan, bukan Omnibus Law nya. Tetapi, platform berfikir untuk membuat UU tersebut, semuanya kebanyakan Pebisnis Papan atas yang masuk komunitas 3% Top Pengusaha Nasional yang melihat Makro Bisnis Usahanya oke, namun tidak dengan cara pandang bela negara atau bernegara.

Sungguh, di dalam bernegara itu bukan melihat negara seperti perusahaan berbasis balance sheet, negara untung rugi. Negara itu ada unsur rakyat, ada unsur wilayah, ada aset untuk anak cucu cicit kita. Harus aman selama 1000 tahun ke depan.

Rasanya, kalau lihat UU Minerba dan UU Cipta Kerja, bisa-bisa Cucu kita, bisa bertanya, ‘Emangnya Indonesia, punya Nikel ya eyang? emangnya dulu Indonesia Penghasil Batu Bara ya? Bisa musnah itu harta nenek moyang dan pejuang kemerdekaan yang berjuang mengusir penjajah kalau begitu Tata kelolanya.

Dan, sekali lagi kita berikan kaca mata lain, agar bisa jadi acuan bernegaranya.

Kita harus faham, apa bedanya antara ‘Membangun’ dengan ‘Kemajuan’, Atau, memajukan bangsa dan negara.

Masih bingung dengan pernyataan tadi?

Begini, Indonesia saat ini terlihat banyak membangun. Membangun Infrastruktur misalnya, membuat UU Cipta Kerja misalnya. Itu bisa dikatakan ‘MEMBANGUN’.

Namun, jangan sahabat bilang bahwa Membangun itu bisa ‘Memajukan Indonesia !!. Belum tentu.

Bukankah tujuan membangun Infrastruktur dan UU Cipta Kerja adalah untuk kemajuan Ekonomi? Demikian pasti ada.

Iya, tapi belum tentu begitu. Kita harus melihat ‘Bagaimana’ cara Indonesia Membangun dan ‘Dengan Siapa’ membangunnya?

Kita jelaskan, sedikit pengandaian jika dalam Rumah Tangga, katakan anda memiliki penghasilan 10 juta dalam satu bulan. Lalu, anda mau membangun Kamar Tambahan dan ingin membeli satu mobil lagi untuk kebutuhan keluarga.

Anda menggunakan kartu kredit atau meminjam ke Bank. Intinya, anda memakai ‘Uang orang lain’ di dalam membangun.

Apa yang kamu lakukan dengan pendapatan tetap, tadi yang 10 juta tadi? Anda tahu sekali bahwa uang bulanan tadi hanya bisa untuk membayar cicilan, pokoknya tidak bisa. Pokoknya harus dari bisnis yang jalan dan anda berharap kamar tadi anda akan sewakan atau anda akan koskan. Dan mobil tadi, di usahakan ke Grab Car atau Go-Car untuk menjadi bisnis On Line Transportation. Bagus bukan rencananya, perfect ya?.

Tapi, Bisnis bukan Matematis.

Apa yang terjadi, kalau tidak ada yang menyewa kamar tersebut sebagai kos-kosan? Apa yang terjadi kalau setoran Transport On Line tidak mencapai target?.

Pasti dari penghasilan yang 10 juta per bulan tadi, di bayarkan untuk bunganya saja, namun pokoknya tidak terbayarkan.

Kita terus bergantung harapan bahwa kos-kosan akan terisi dan Transportasi On Line akan meningkat hasilnya.

Anda benar membangun, tapi belum tentu membuat maju perekonomian di rumah tangga. Faham?.

Dalam kondisi sulit, mencari modal di tanah air, maka menggunakan dana pihak luar adalah solusinya.

Itu menjadi landasan pemikiran Omnibus Law. Sekali lagi, tidak salah tapi harus hati-hati !!.

Bisnis tidak Matematis.

Fakta lain, kita dapati dalam beberapa tahun tetakhir, angka pertumbuhan kredit, turun begitu tajam Di Indonesia ini, membuat sulit Bisnis bisa berkembang pesat.

Bank biasanya belasan persen per tahun tumbuhnya di dalam penyaluran kreditnya alias kalau dalam 1 tahun ada 1 Triliun Bank kasih kredit, Tahun depannya harus naik 15%. Atau, 1,15 Triliun. Ini 1 Triliun hanya pengandaian.

Namun, sejak Tahun 2014, tumbuh kredit di tahun tersebut 11,58%, lalu di Tahun 2015, tumbuh 10,44%. Di 2016 tumbuh 7,87%, di Tahun 2017, tumbuh hanya 4,18%.

2018, 2019 sekarang, cari sendiri deh, semua di bawah 10%.

Disebuah syarat Ekonomi, tumbuh diatas 7%, seperti cita-cita waktu kampanye dulu yang sengaja tidak di ingatkan lagi untuk pertumbuhan Ekonomi Nasional, maka ‘Kredit’ yang harus di kucurkan harus Double. Minimum 15%.

Jadi, keberhasilan pembangunan Infrastruktur misalnya, jadi tidak menunjukkan ‘Kemajuan’.

Lihat hasilnya Indonesia saat ini apa? Resesi. Dan, bisa-bisa di kuartal ke-3 masih minus. Dan, amit-amit jangan sampai kuartal ke-4 juga minus. Ohhh, lupa lupa lupa ada alasannya ya, ada Covid-19 ya.

Oke lanjut, silahkan pakai alasan virus corona. Oke ya, bener banyak keberhasilan ‘Membangun’, namun belum menunjukkan ‘Kemajuan’. Jadi, solusinya bagaimana?

Dengan Omnibus Law? Oke. Kayaknya, ada yang perlu ditambahkan untuk mendatangkan FDI atau ‘Foreign Direct Investment’, bukan hanya pakai Omnibus Law, tetapi pakai ‘Geopolitik’.

Ingat kata-kata Julius Caesar, ‘Berpihaklah kepada yang berpengalaman, dan yang punya kemungkinan menang’. Jangan buru-buru mengambil di dalam Geopolitik Dunia, terus diawasi. Terus dipepet. Dan, terus Bunglon.

Karena tujuan kita, membangun bangsa dan negara bukan? Bukan hanya sekedar membangun.

Kalau hanya sekedar membangun, berang-berang juga bisa bangun DAM Penahan air. Tetapi, tidak memajukan Species Berang-berang. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed