oleh

Pahlawan Nasional : Komposisi Gender, Daerah Asal, dan Agama

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
KAMIS (24/12/2020) | PUKUL 09.57 WIB

Berdasarkan Data Kementerian Sosial menunjukkan, sejak gelar pahlawan dikenalkan pada 1959, pemerintah Indonesia telah memberikannya kepada 173 orang.

Tercatat, dikarenakan adanya perbedaan (masa, style, dan jumlah permohonan) diantara para presiden.

Dan didasarkan pada gender, asal daerah, dan agama dari penerima gelar pahlawan.

Setidaknya ada beberapa pola yang dijadikan dasar pertimbangan sebelum pemerintah menetapkan pemberian gelar pahlawan nasional.

GENDER PAHLAWAN

Dilihat dari Perbandingan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan sangat jomplang. Hanya 7% Pahlawan Nasional adalah perempuan.

Hanya ada 12 perempuan yang ditetapkan sebagai pahlawan.

Sebaliknya, ada 161 pahlawan laki-laki, dari jumlah total 173 pahlawan nasional.

Selama pemerintahan Yudhoyono, tak satupun perempuan ditetapkan sebagai pahlawan. Hal sama dilakukan oleh Habibie dan Megawati.

Terdapat dua pola pemberian gelar pahlawan kepada perempuan.

Enam orang di antaranya berjuang di medan perang. Seperti, Laksamana Malahayati, Cut Meutia, dan Cut Nyak Dhien dari Aceh, serta Martha Christina Tiahahu (Maluku), dan Nyi Ageng Serang (Jawa Tengah).

Sementara, RA. Kartini (Jawa), Dewi Sartika (Sunda), Maria Walanda (Minahasa), Nyai Ahmad Dachlan (Jawa), dan Rasuna Said (Minang) dikenang atas perjuangannya sebagai penulis, jurnalis, serta pendiri sekolah bagi perempuan – sebuah elan tindakan revolusioner bagi perempuan pada zamannya.

DAERAH ASAL PAHLAWAN

Kini hampir setiap provinsi memiliki ikon pahlawannya masing-masing. Jawa Tengah dicatat sebagai tempat kelahiran pahlawan terbanyak, yakni 33 orang, disusul oleh Sumatera Barat (15 orang), dan Yogyakarta (13 orang).

Berdasarkan cacah administratif, hanya provinsi baru seperti Papua Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Barat yang belum ada apa yang disebut “pahlawan nasional”. Selain itu, Pemerintah SBY-Jusuf Kalla pada 2004 menetapkan Raja Ali Haji yang lahir di Selangor (kini masuk wilayah administrasi Malaysia) sebagai pahlawan. (Leluhur Ali Haji berasal dari Bugis.)

Namun, secara keseluruhan, Jawa masih mendominasi. Sedikitnya ada 86 “pahlawan nasional” (yang lahir) dari Pulau Jawa.

Meski ada kesan setiap provinsi, dengan pertimbangan etnis tertentu, hanya ada satu orang etnis Tionghoa-Indonesia yang ditetapkan sebagai pahlawan. Ia adalah John Lie Tjeng Tjoan, laksamana muda Angkatan Laut Indonesia, yang berperan melawan blokade laut Belanda pada periode 1945-1949.

AGAMA PAHLAWAN

Selain itu, ketimpangan terlihat dari agama orang-orang yang ditetapkan sebagai pahlawan. Dari 173 daftar pahlawan nasional, sebanyak 134 orang memeluk Islam, lalu 22 orang Kristen, 8 orang Katolik, 6 orang Hindu, dan 3 orang penghayat kepercayaan.

Keragaman agama yang dipeluk para pahlawan pun bervariasi. Terdapat 24 kali kesempatan pemberian gelar pahlawan adalah orang-orang yang beragama Islam semuanya. Misalnya, pada 1999, gelar pahlawan diberikan kepada Ilyas Yacoub (Minang), Hazairin (Minang), dan Abdul Kadir (Sintang).

Meski demikian, ada 21 kali kesempatan juga ketika agama orang-orang yang ditetapkan sebagai pahlawan tak semuanya Islam. Contohnya, pada 2007, dari empat orang yang ditetapkan sebagai pahlawan, salah satunya beragama Katolik, yakni Ignatius Slamet Rijadi (Surakarta).

Presiden Jokowi sendiri sudah memberikan gelar pahlawan sebanyak empat kali untuk 14 orang, 12 orang di antaranya beragama Islam.

Hanya dalam satu kali kesempatan saja, yakni pada 2015, gelar pahlawan diberikan kepada dua tokoh non-muslim. Keduanya I Gusti Ngurah Made Agun (Bali) yang beragama Hindu dan Bernard Wilhelm Lapian (Minahasa) yang beragama Kristen.

Pola berbeda ditemukan dalam pemberian gelar pahlawan pada era SBY-Boediono. Ada 15 orang yang diberikan gelar pahlawan, 8 orang di antaranya tokoh non-muslim. Pada era kedua pemerintahan Yudhoyono, tak semua pahlawan nasional setiap tahun diberikan kepada tokoh beragama Islam.

Bahkan, pada 2010, gelar pahlawan diberikan kepada Johannes Leimena (Maluku) yang beragama Katolik dan Johannes Abraham Dimara (Biak, Papua) yang beragama Kristen.

Presiden Soekarno | 1945-1965

Di masa Soekarno, sebanyak 49 orang ditetapkan sebagai Pahlawan.

Abdul Muis, yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Gambir yang letaknya tak jauh dari lokasi Monumen Nasional, adalah orang Indonesia yang kali pertama diberi gelar pahlawan.

Laki-laki yang juga pemimpin redaksi ‘Harian Kaoem Moeda’ itu adalah pengurus besar Sarekat Islam.

Muis juga menjadi anggota Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat Hindia Belanda), mewakili organisasi tersebut.

Pada Juni 1959, Abdul Muis wafat. Dua bulan kemudian Presiden Soekarno memberinya gelar pahlawan.

Ditinjau dari asal daerahnya, tempat kelahiran pahlawan yang dianugerahi oleh Presiden Soekarno berasal dari tiga pulau, Sumatera, Sulawesi, dan Jawa.

Sebagian besar yang dipilih pun hidup pada akhir abad 19 sampai abad 20, sebuah masa yang dikenal era pergerakan nasional dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Presiden Soeharto | 1966-1998

Era Presiden Soeharto, ada 55 orang ditetapkan sebagai pahlawan.

Sejak Soeharto berkuasa pada 1968, kali pertama Ia menganugerahkan gelar pahlawan kepada W.Z. Johannes dari Rote (Nusa Tenggara Timur) dan Pangeran Antasari dari Banjar (Kalimantan Selatan).

Pada era Soeharto pula tokoh-tokoh yang lahir pada abad 16 atau abad 17 ditetapkan sebagai pahlawan.

Misalnya, Sultan Hasanuddin (Gowa), Sultan Ageng Tirtayasa (Banten), dan Untung Surapati (Bali).

Terakhir, Fatimah Siti Hartina, dianugerahi gelar pahlawan tujuh bulan setelah ia wafat pada 28 April 1996.

Itu mengacu keputusan Presiden RI Nomor 060/TK/Tahun 1996.

Alasannya, karena Tien Soeharto, dianggap berjasa dalam perjuangan melawan penjajah pemerintah kolonial Belanda. Khususnya dalam perjuangan mempertahankan prinsip kemerdekaan, membangun negara dan bangsa Indonesia.

Sejak Reformasi, yang mengatur seseorang hanya boleh menjabat presiden sebanyak dua periode, jumlah gelar pahlawan yang diberikan tiap presiden tak sebanyak dua presiden sebelumnya.

Presiden Habibie | 1998-1999

Presiden Habibie. Memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada 4 orang.

Diantaranya, Tjilik Riwut (Dayak), Sultan Syarif Kasim Syarifuddin (Siak), Adam Malik (Batak Mandailing), dan La Maddukelleng (Wajo).

Presiden Abdurrahman Wahid | 1999-2001

Presiden Abdurrahman Wahid. memberi gelar pahlawan kepada empat orang.

Pada 1999, Ia menetapkan tiga pahlawan.

Sedangkan, Di Tahun 2000, Gus Dur juga menetapkan Fatmawati sebagai pahlawan.

Presiden Megawati | 2001-2004

Ada delapan orang yang ditetapkan sebagai pahlawan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.

Presiden SBY | 2004-2014

Selama dua periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, sebanyak 39 orang ditetapkan sebagai pahlawan.

Dengan rincian 24 orang di periode pertama, dan 15 orang di periode kedua kepemimpinan SBY.

Presiden Joko Widodo | 2014-sekarang

Semasa Joko Widodo, yang menjabat presiden sejak 2014, sudah 14 orang ditetapkan sebagai pahlawan.

Terbaru, 9 November 2020 kemarin, Jokowi memberikan gelar pahlawan untuk TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Lombok), Laksamana Malahayati (Aceh), Sultan Machmud Riayat Syah (Riau), dan Lafran Pane (Tapanuli, meninggal di Yogyakarta).

Tokoh yang hidup pada masa lampau itu tidak ditemukan lagi dalam daftar pahlawan yang ditetapkan oleh presiden setelah reformasi, kecuali pada era Jokowi yang menetapkan laksamana Malahayati, pejuang Aceh yang hidup pada akhir abad 16. (HMD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed