oleh

Perayaan Imlek, Ini Kata Ning Lia

-All Post-363 views

 

-Foto : Lia disaat menghadiri baksos yang diselenggarakan yayasan pondok kasih-

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (24/01/2020) | PUKUL 14.15 WIB

Lia Istifhama, atau akrab disapa Ning Lia ini, adalah merupakan sosok yang masih bertahan sebagai salah satu kandidat dalam pilwali Surabaya, angkat bicara soal kesan Imlek baginya.

Ditanya arti imlek Tahun ini, Ning Lia mengatakan, “Saya kira setiap pergantian tahun, baik imlek, hijriyah, maupun tahun baru masehi, semua memiliki arti positif. Arti bahwa setiap anak bangsa harus memiliki resolusi yang baik dalam hidupnya. Semakin berpikir positif agar apa yang dialami dalam sebuah pergantian baru, insya allah membawa keberkahan dan kemaslahatan”, ujarnya kepada potretjatimdaily.com, Jum’at (24/01/2020) siang.

Disinggung soal apa harapannya sebagai Cawali Surabaya kepada warga kota di perayaan imlek ini,

Menurut Mantan putri NU 2005 ini, “Saya lebih suka berpendapat dalam kapasitas saya sebagai warga surabaya, dan saya berharap masyarakat Surabaya semakin wungkul, bersatu, gak sampe ambyar. Ambyar maksudnya adalah mudah tercerai berai”, tandasnya.

Lebih lanjut, Ning Lia mengharapkan, “Maka dari itu, semoga di setiap pergantian tahun, kita semua, terutama warga Surabaya, semakin menjaga solidaritas dan menghindari karakter-karakter ujaran kebencian sesamanya”, tambahnya.

Bicara soal rencana meramaikan Imlek bersama warga Tionghoa Surabaya, Alumni Unair dan UinSa ini mengungkapkan, “Alhamdulillah , sudah ada beberapa event, yang digagas dan diagendakan oleh para relawan”, jawab Lia.

Sementara itu, saat ditanya jika nanti terpilih jadi walikota, apa yang akan dilakukannya agar keberagaman tetap rukun di Surabaya, Ning Lia mengungkapkan, “Agar masyarakat rukun, ya itu tadi. saling menjaga solidaritas, saling menghargai, tidak saling melakukan ujaran kebencian dan senantiasa down to earth. Saling merasa rendah hati, humble, sederhana, tidak neko-neko”, imbuhnya.

Ketua Perempuan Tani HKTI Jatim ini, kembali menegaskan, “(Bahwa) Tidak neko-neko disini adalah menjadi diri sendiri. Tidak harus memakai sesuatu yang branded, memaksakan sesuatu hal secara konsumtif hanya demi citra diri, demi dianggap bagus atau semacamnya. Karena yang penting itu, kita selalu menjaga kearifan lokal Surabaya. Tidak harus pamer ini itu biar dicap keren dan sebagainya”, pungkasnya.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, perayaan Imlek tak lepas dari jasa Tokoh Bangsa yang humanis, yang juga Presiden RI Ke-4, yaitu KH. Abdur Rahman Wachid, atau akrab disapa Gus Dur ini.

Dengan beliau mencabut Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 dan menggantikan dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000 itu, maka perayaan Imlek pun bisa berlangsung terbuka. (And)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed