oleh

Peringatan HGN : Ketua Perempuan Tani Jatim, Ajak Milenial Sadar Gizi

-Nasional-164 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SABTU (28/02/2020) | PUKUL 08.22 WIB

Indonesia saat ini sedang dihadapi dengan masalah “triple burden” yaitu stunting dan wasing masih tinggi, masalah gizi obesitas dan kekurangan zat gizi mikro juga menjadi beberapa dari tantangan terbesar yang dihadapi di Indonesia.

Sebagai bentuk upaya mengkampanyekan kesadaran gizi di tengah masyakarat, pemerintah menetapkan Hari Gizi Nasional (HGN) di setiap tahunnya. Dan untuk HGN tahun 2020 ini, Kementerian Kesehatan merilis tema HGN ke-60. Adapun tema yang diusung dalam kegiatan Hari Gizi Nasional ke-60 kali ini adalah “GIZI Optimal untuk Generasi Milenial”.

Terkait HGN tersebut, Ketua Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim, Lia Istifhama turut memberikan pendapatnya. Lia mengatakan bahwa peringatn HGN ini merupakan pengingat pentingnya pemenuhan gizi bagi anak bangsa.

Foto :
Lia Istifhama, Ketua Perempuan Tani HKTI Jawa Timur saat penanaman pohon acara pelantikan Pengurus Perempuan Tani HKTI Probolinggo Jawa Timur

“Sebagai generasi milenial, kita harus punya komitmen untuk kampanye dan edukasi tentang gizi, dan akses pangan bergizi agar tercipta SDM yang sehat, cerdas, dan tangguh,” kata Putri NU 2005 ini saat dikonfirmasi Potretjatimdaily.com, Kamis (27/02/2020).

Aktivis milenial ini menyampaikan harapannya agar hasil bumi Indonesia yang penuh dengan gizi dapat dinikmati seluruh warga Indonesia. Menurut Lia, hal ini bisa ada kaitannya dengan konsep ekonomi kerakyatan atau juga prinsip ekonomi Islam.

Keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa itu menjelaskan, semua yang ada di bumi Indonesia harus bisa dimanfaatkan dan dinikmati seluruh masyarakat. Jangan sampai hanya mengejar ekspor lantas melupakan gizi masyarakat Indonesia.

“Kita harus mengutamakan agar hasil bumi Indonesia, segala aspek sumber daya hayati, adalah hak untuk dikonsumsi warga Indonesia,” ujar putri bungsu KH Masykur Hasyim ini.

Jika dari kita sendiri, tambahnya, secara gizi sudah terpenuhi dengan baik, baru ekspor komoditi. Jangan sampai sedikit-sedikit berpikir tentang ekspor komoditi hanya karena ekspektasi profit. Akan lebih baik apabila terlebih dahulu komiditi yang penuh gizi diutamakan dan didistribusikan penjualannya ke wilayah sekitar.

“Jika dalam Islam, istilahnya membangun kemaslahatan untuk orang di sekitar sendiri terlebih dulu,” tuturnya.

Masih menurut Lia, hal ini penting agar jangan sampai kita sendiri malah kurang asupan (gizi) alias defisit gizi. Semua orang pasti berharap gizi dari kelimpahan hasil sumber daya hayati dapat dinikmati generasi mendatang, anak dan cucu kita kelak.

“Jadi, penuhi gizi kita, keluarga kita dan orang-orang sekitar kita dengan hasil terbaik alam kita. Ayo jadi milenial sadar gizi,” pungkasnya. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed