oleh

Peringati Hari Santri Nasional, Ning Lia : ada tawadhu, mencintai ilmu dan NKRI

-All Post-569 views

 

-Foto : Lia Istifhamah bersama santri SMA Islam Parlaungan peringati Hari Santri Nasional-

SIDOARJO – POTRETJATIMDAILY
SELASA (22/10/2019) | 17.04 WIB

Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada tanggal 22 Oktober ini, SMA Islam Parlaungan, Jl. Berbek I no. 2-4 Waru Sidoarjo, menggelar pekan hari santri nasional,

Acara yang dilaksanakan pada 21-23 Oktober 2019 dan dihadiri oleh ratusan santri ini, mengambil thema “Santri Milenial 2019, Santri unggul Indonesia Makmur”.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, hadir pada kesempatan ini, Ketua III STAI Taruna Surabaya, Lia Istifhama dengan didampingi kepala sekolah SMA Islam Parlaungan Sidoarjo, Slamet, memberikan motivasi kepada santri-santriwan yang khidmad mengikuti setiap rangkaian acara.

“Dengan Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ini, adik-adik siswa siswi jadi bisa mengenal sejarah resolusi jihad, Bahwa resolusi jihad adalah 5 butir yang di cetuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari, salah 1 pendiri NU pada santri Nahdliyin pada 22 Oktober 1945 lalu”, ujar Ning Lia, begitu akrab Lia Istifhama ini disapa.

“Dimana saat itu, fatwa resolusi jihad disampaikan di kantor PBNU (sekarang kantor PCNU Surabata) Jl. Bubutan 6 No 2. Kantor PBNU sblmnya di Jl kawatan No. 5, yang sekarang menjadi SD Halimah Surabaya”, ungkapnya.

Puteri dari Mantan Komandan Banser, KH. Masykur Hasyim, ini menambahkan, “Konon ceritanya, saya dapat cerita dari ayah saya (KH. Masykur Hasyim) bahwa saat itu santri-santri dulu itu digembleng oleh para kiai, ara guru. Mereka para santri, bahkan kebal terhadap bacokan”, ceritanya.

Ning Lia menjelaskan, “Mengapa begitu ? Karena mereka setidaknya memiliki 3 hal, yaitu doa dari para kiai dan guru, keyakinan jihad hubbul Wathon minal iman dan tawadhu’ yang sangat besar pada pendidik mereka. Nah, sikap tawadhu ini yang seharusnya adik-adik miliki”, ingatnya.

Kandidat Doktor UINSA Surabaya ini berpesan, “Maka hargai hormati dan santunlah pada guru kalian, pada orang tua kalian dengan begitu, insya Allah kelak kalian juga akan dihargai oleh org lain. Karrna, Adik-adik tidak akan tahu kelak akan jadi apa, tapi yang sekarang (Adik-adik) ketahui adalah belajar yang tekun dan yakinlah bahwa tidak ada ilmu yang akan sia-sia”, katanya.

Dengan sedikit mengutip hadist Nabi Muhammad, SAW, Ning Lia menguraikan, “Utlubul ilma Minah Mahdi ilal lahdzi, Tuntutlah ilmu sejak dari buaian ibu hingga kalian di liang lahat. Apa maknanya ? Sedangkan kita yang ketika bayi dalam buaian ibu, tidak tahu apa itu ilmu ?”, ulasnya.

Lebih lanjut, Ning Lia menyampaikan, “Maksudnya adalah ketika kelak kalian semakin dewasa dan insya Allah menjadi Orangtua (aamiin) maka didiklah anak-anak kalian sejak mereka dalam buaian (kalian). Ajari bayi minimal cara bersenyum kemudian bertutur kata baik dan bersikap santun sesuai perkembangan usia mereka”, urainya.

Ning Lia berharap, “Sedangkan kalian sndiri yang sudah menginjak usia remaja, harus selalu belajar, tidak boleh merasa pintar bahwa hidup ini adalah ilmu hingga Allah SWT menutup nafas kita bersama-sama.

“Jangan pernah tinggi hati, cintailah ilmu dan cintailah negrimu”, pungkas Ning Lia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed