oleh

PILKADA SURABAYA : BAWASLU Larang Pemillih Bawa Handphone ke Bilik Suara

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (07/12/2020) | PUKUL 11.07 WIB

Hari pemungutan suara Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Cawali-Cawawali) Surabaya kurang satu hari lagi. Agar pelaksanaan coblosan berjalan lancar dan tertib, pemilih selayaknya memahami apa saja larangan di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Surabaya, Agil Akbar menuturkan, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi pemilih selama ada di TPS. Salah satunya adalah dilarang membawa handphone (HP) saat ada di bilik suara.

“Larangan bagi pemilih untuk membawa telepon genggam itu tertuang dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) 18 tahun 2020 perubahan dari PKPU 8 tahun 2018 di Pasal 32 ayat (1) huruf i dan dipertegas di Pasal 39,” jelas Agil, saat dikonfirmasi potretjatimdaily.com, Selasa (08/12/2020).

Dalam PKPU Pasal 32 ayat (1) huruf i disebutkan, larangan menggunakan telepon genggam dan/atau alat perekam gambar lainnya di bilik suara. Sedangkan Pasal 39 ditegaskan, pemilih dilarang mendokumentasikan hak pilihnya di bilik suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38.

Larangan membawa HP tersebut, lanjut Agil, sejatinya melarang pemilih untuk mendokumentasikan hak pilihnya. Sebab hal itu bisa berpotensi pada transaksi politik uang.

“Kami berharap KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) yang ada di TPS selalu mengingatkan dan melarang pemilih membawa telepon genggam atau alat perekam gambar lainnya di bilik suara. Adanya potensi transaksi uang itu sangat terbuka jika ada perekaman gambar yang telah dipilih,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Agil, jika pemilih mengambil gambar saat di bilik suara juga akan menghilangkan azaz rahasia dalam pemilu. “Dilarang membawa HP itu dikhawatirkan azaz rahasia tidak terpenuhi, karena pemilih telah mengambil gambar pilihannya,” terangnya.

Selain dilarang membawa HP, jelas Aqil, orang-orang yang ada disekitar TPS juga dilarang membawa, memakai atribut pasangan calon atau partai politik. Karena hal itu termasuk dalam bagian kampanye. Padahal masa kampanye sudah selesai.

“Khusus untuk saksi, sudah diatur dengan jelas pada Pasal 28. Saksi dilarang mengenakan, membawa gambar dan nomor paslon, simbol partai dan atribut lainnya yang berhubungan dengan paslon dan partai. Larangan ini juga berlaku pada pemilih. Mereka dilarang mengenakan dan membawa simbol atau atribut paslon dan partai,” pungkasnya.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, Dengan dukungan wali dan wali kota petahana, pasangan nomor urut satu, Eri Cahyadi-Armuji itu, terlihat tampil lebih percaya diri.

Duet Paslon yang diusung oleh PDI Perjuangan dan PSI ini, juga didukung oleh koalisi 4 partai non parlemen Surabaya, yaitu Partai Hanura, PBB, Partai Berkarya, dan Partai Garuda.

Pasangan hasil kombinasi antara mantan kepala bappeko Surabaya dengan mantan anggota DPRD Jatim yang mengusung jargon tagar #MeneruskanKebaikan ini, telah mengantongi dukungan 15 kursi DPRD Kota Surabaya 2019-2024.

Disisi lain, seakan tidak mau kalah, Pasangan calon Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno yang didukung oleh gabungan 8 partai, meliputi Partai Golkar, PKB, Partai Gerindra, PAN, Partai Demokrat, PPP, Partai NasDem, PPP, dan PKS.

Tampil dengan nomor urut dua, Pasangan yang disebut-sebut telah mengantongi restu dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa itu, juga didukung oleh dua Partai non parlemen, yaitu Perindo dan PKPI.

Duet serasi antara mantan Kapolda Jatim dengan Dirut PDAM Surya Sembada itu, mendapat dukungan setara 31 kursi DPRD Surabaya hasil Pemilu serentak Tahun 2019. (Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed