oleh

PILWALI SURABAYA 2020 : Gara gara Foto Berjilbab Merah Bersama Bambang DH, Ning Lia Mengingatkan Kembali Fenomena Mega Bintang

-All Post-827 views

 

SURABAYA – Potret Jatim Daily
Minggu (8/9/2019) | 06.07 WIB

Pemilihan Wali dan wakil wali (Pilwali) Kota Surabaya 2020, sebagai sebuah proses konstitusional untuk mencari penerus Risma, semakin menarik saja untuk dibicarakan.

Seiring memanasnya tensi politik yang ditandai dengan mulai bermunculan Sejumlah figur, yang sudah turun ke bawah untuk menyapa masyarakat dengan berbagai segmentnya, satu diantaranya masyarakat akademisi/kampus Kota Surabaya.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, Salah satu kandidat bakal calon wali kota surabaya, Lia Istifhama, yang datang mendampingi Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, di acara Pembekalan Wisuda ke-119 Program Diploma, Sarjana, Magister dan Doktor Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) Surabaya, Sabtu (7/9/2019) siang.

Tampak pula, dalam kesempatan yang di hadiri oleh 1.470 wisudawan wisudawati Program Diploma, Sarjana, Magister dan Doktor Untag ini, mantan Walikota Surabaya, Bambang Dwi Hartono (Bambang DH).

Ada Fenomena yang menarik, ketika beredar dan langsung viral di medsos, foto bersama Ning Lia – sapaan – Lia Istifhama, dengan mantan ketua Bappilu DPP PDI-P (Bambang DH) ini, yang sontak saja memunculkan berbagai persepsi warga kota surabaya.

Moment langkah itu, seakan kembali mengingatkan kita akan sebuah fenomena Mega-Bintang.

Dimana dalam Perkembangan yang tidak terduga (Fenomena Mega-Bintang) itu — pertama dalam sejarah Pemilu Orde Baru — yang sempat memunculkan spekulasi kontroversial.

Saat itu, hampir saja terbentuk opini bahwa akan terjadi koalisi lintas ideologis antara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan massa Megawati (PDI), dalam pemilu 1997.

Namun, isu itu akhirnya patah, ketika di tingkat elit (DPP PDI versi Mega dan DPP PPP), ternyata tidak dilakukan negosiasi dalam kerangka tawar- menawar secara “kelembagaan” untuk menggoal-kan kepentingan masing-masing.

Artinya, fenomena Mega-Bintang itu lebih terbangun dari inisiatif massa akar bawah, daripada sebagai sebuah strategi kepartaian secara sistematis.

Apakah Mega-Bintang (menyandingkan Pasangan Nasionalis-Religius) yang notabene merupakan suara grass root warga kota surabaya ini, akan mampu di wujudkan dalam pilwali yang akan di gelar tahun depan ?

Kita tunggu saja tanggal mainnya ! ( AND )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed