oleh

PMII Garis Lurus?

Firman Syah Ali

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (24/04/2020) | PUKUL 13.28 WIB

Beberapa tahun terakhir kita mengenal istilah NU Garis Lurus yang dipicu oleh Muktamar NU ke-33 di Jombang dan diprakarsai oleh KH Luthfi Bashori Malang, Ustad Idrus Romli Jember dan Buya Yahya Cirebon. Sebagaimana NU arus utama, NU Garis Lurus ini juga membuat struktur kepengurusan mirip NU arus utama, yaitu Syuriyah, Tanfidziyah bahkan Badan-badan Otonom. KH Ja’far Shodiq Sampang pernah mendeklarasikan diri sebagai Ketua GP Ansor Garis Lurus yang tunduk kepada Kepengurusan Pusat NU Garis Lurus.

Sebetulnya akar sejarah NU Garis Lurus ada pada Pengurus NU Tandingan pada era Orde Baru yang dipimpin oleh Abu Hasan, saya lihat para simpatisan NU Garis Lurus tidak jauh-jauh dari itu, yaitu NU Abu Hasan.

NU Garis Lurus lahir bersamaan dengan masuknya peradaban dunia ke dalam periode sosial media, di mana segala bentuk pergolakan pemikiran disampaikan via medsos. Maka ramailah media sosial kita dengan pertarungan kaum yang menyebut dirinya sebagai NU GL melawan para pendukung setia NU Arus Utama. Masalah yang diperdebatkan tidak jauh-jauh seputaran tuduhan NU kesusupan syi’ah, liberal, iluminati, sekuler, freemason, kristen dan sebagainya. Juga tuduhan bahwa NU GL adalah sekelompok kecil NU yang kesurupan teologi kebenaran tunggal ala wahabi.

Peristiwa kontra Ahok dan pilgub DKI semakin memperparah perdebatan sengit antara pendukung NU GL melawan pendukung NU Arus Utama, kemudian berlanjut terus hingga Pilpres 2019. Saya melihat ada saja bahan yang mereka pertengkarkan sehingga notifikasi grup WA berdenting terus selama 24 jam nonstop.

Kelompok yang menyebut dirinya sebagai NU Garis Lurus itu mendapat amunisi baru ketika tokoh populer Ustad Abdul Somad berpidato menyebut bahwa ulama NU yang bisa diikuti hanya tiga orang, yaitu KH Lutfi Bashori, Ustad Idrus Romli dan Buya Yahya, yang kebetulan ketiganya merupakan tokoh sentral NU Garis Lurus.

Dalam dunia diskusi di medsos, NU Garis Lurus segendang sepenarian dengan FPI, HTI, Wahabi dan gerakan-gerakan islam garis keras, sehingga para pembela NU Arus Utama menyebut kaum NU Garis Lurus tersebut sebagai Asrabi, singkatan dari Aswaja Rasa Wahabi, yang dibalas oleh NU GL bahwa NU arus utama itu merupakan Asrani, singkatan dari Aswaja Rasa Nasrani.

Bagaimana dengan PMII sebagai Ormas yang lahir dari rahim NU? apakah ada anggota maupun alumni PMII yang menjadi pengikut atau simpatisan NU Garis Lurus? Saya mengamati tokoh-tokoh utama NU Garis Lurus tidak ada satupun yang berlatar-bekakang PMII, namun di media sosial tidak sedikit anggota dan alumni PMII yang segendang sepenarian dengan pemikiran-pemikiran NU Garis Lurus. Ada yang menyembunyikan diri dan ada yang menampakkan diri dengan terang-terangan. Sebagian diantara mereka ada yang halus dan ada yang main kasar dengan cara menendang tokoh pendukung NU arus utama dari grup-grup WA Alumni PMII.

Sebetulnya pola pikir warga PMII mulai dari yang mepet kiri hingga mepet kanan merupakan kekayaan intelektual tersendiri dalam tubuh PMII dan IKA PMII, maka patut kita syukuri bersama karena warga PMII baik anggota maupun alumni tidak sampai membentuk organisasi PMII Garis Lurus ataupun IKA PMII Garis Lurus sebagaimana terjadi di NU.

Dinamika diskusi di media sosial merupakan bagian dari cara silaturahim dan tegur sapa antar warga pergerakan, karena kaum intelektual menyikapi perbedaan itu sebagai nikmat, bukan kiamat. Bahkan terkadang perdebatan antar alumni PMII yang kekiri-kirian, ketengah-tengahan dan kekanan-kananan bernilai entertainment, berfungsi sebagai hiburan bagi para alumni PMII yang sibuk dengan aktivitas sehari-harinya sebagai pejabat publik maupun sebagai pengusaha.

Semoga PMII dan IKA PMII tetap solid penuh persahabatan tanpa ada pengorganisasian kelompok-kelompok sebagaimana telah terjadi di Ormas lain.

*) Penulis adalah Bendahara Umum PW IKA PMII Jawa Timur

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed