oleh

Relawan 0 Rupiah Surabaya : Menjadi Tuan di negeri sendiri di pilwali Surabaya 2020

-All Post-501 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY
SABTU (28/08/2019) | 07.40 WIB

Pasca di umumkannya perpindahan Ibu Kota Negara, dari Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta ke luar pulau jawa oleh Presiden Joko Widodo, tepatnya di wilayah administratif kabupaten penajam Paser Utara dan Kabaputen Kutai Kartanegara, Kaltim, Senin (26/09/2019) menarik untuk di sikapi.

Usulan Perpindahan (ibi kota negara) Oleh Pemerintah itu, telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024″.

Seperti diberitakan, Upaya Pemindahan Ibu Kota Indonesia, dimulai pada masa presiden Joko widodo, melalui Rapat terbatas pemerintah, yang digelar di Istana negara Jakarta, Senin (29/04/2019) siang.

Kondisi ini, secara tidak langsung, menempatkan Surabaya sebagai kota yang sangat strategis, baik dari sisi Pembangunan Ekonomi, Sosial, budaya maupun sisi politik, yang akan sangat mempengaruhi Kondisi di bidang yang sama secara Nasional.

Koordinator saksi 0 rupiah Surabaya, Deny Istiawan, mengatakan, “Sebagai bagian dari warga kota (Surabaya), kita patut berbangga. Kini Surabaya “sejajar” atau bahkan lebih dari DKI Jakarta”.

“Namun, jangan lupa harus juga diimbangi dengan meningkatkan kewaspadaan” katanya kepada potretjatimdaily.com, di pasar Sememi Benowo Surabaya, Jum’at (27/09/2019) sore.

Berbicara terkait posisi kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur pasca perpindahan Ibu Kota,

Mantan Koordinator Kecamatan Benowo relawan SAYA SURABAYA ini, menambahkan, “Setelah DKI Jakarta tak lagi berpredikat Ibu Kota Negara, Otomatis (menjadikan) Surabaya dan Jawa Timur, menjadi barometer kota & provinsi di Indonesia”.

“(Barometer) Dalam bidang pembangunan, pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya, teknologi dan juga peta perpolitikan tanah air” tegas Wakil Ketua Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya ini lugas.

“Memang sangat masuk akal, bila semua pihak yang berkepentingan di tingkat nasional, (berdasarkan) Geo politik yang ada disini, untuk “menguasai” Surabaya, baik dari sisi kehidupan warganya maupun roda pemerintahan kota pahlawan ini” tandas Deny.

MENJADI TUAN DI NEGERI SENDIRI

Disinggung Pilwali 2020 dan telah banyak bermunculannya kandidat bakal calon,

Mantan aktivis Pergerakan Rakyat untuk Reformasi Total (PRRT) 1998 ini, menyampaikan, “Prinsipnya tak ada masalah ya, dengan banyaknya yang mencalonkan diri, baik itu dari warga kota sendiri, maupun tokoh non surabaya yang mencoba mencari peruntungan di Surabaya.

“Namun ada beberapa hal, yang harus dijadikan sebagai dasar pemikiran. Baik bagi saya pribadi, calon asli arek surabaya, kandidat bakal calon non surabaya, partai politik maupun warga”Pemilih Cerdas” kota surabaya” lanjut Deny.

Bapak dua orang anak ini, mengungkapkan, “Yang pertama, perlu di ingat, bahwa kami (warga Kota Surabaya) pun sama dengan warga di wilayah lain, sama-sama punya keinginan yang kuat untuk *_menjadi tuan di kotanya sendiri._*

“Maka, tanpa mengurangi rasa hormat, ijinkan kami arek suroboyo, menentukan sendiri nasib kota kami, sebagai mana kami telah berikan (kesempatan) yang sama kepada kalian” tegas Deny.

“Mari kita terapkan bersama, prinsip otonomi Daerah. Dimana, diharapkan melalui peran serta aktif warganya, dengan memaksimalkan potensi SDM dan SDA yang dimiliki oleh dan dalam wilayahnya sendiri, untuk mewujudkan sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya” urai owner CV. Mitra Makmur Surabaya ini, Sambil tersenyum.

“Kedua, bukankah *_hujan batu di negeri sendiri itu, akan lebih baik jika dibandingkan dengan hujan emas di negeri orang”_* lanjut Deny

Aktivis KErja Taruna (KErta) Surabaya ini, berpesan, “(Jadi) Memanfaatkan batu dari jatuhnya hujan untuk mensejahterakan warga di wilayahnya sendiri, adalah perwujudan sifat arif dan sadar diri dari seorang calon pemimpin”.

“Ketiga, *_Ada banyak kader “Arek Surabaya” partai potensial_*, yang mempunyai tingkat popularitas, elektabilitas, eksabilitas dan kredibilitas yang tinggi dan layak (maju Pilwali)” tambahnya.

Lanjut Deny, “Mungkin, Sosok Gubernur Khofifah, bisa dijadikan contohnya. bagaimana, arek asli Wonocolo Surabaya, bisa menjadi Gubernur Jatim periode 2019-2024”.

“Jadi akan bijak bagi partai untuk bijak dengan memberikan kesempatan bagi mereka mewujudkan mimpinya, mengabdi untuk kotanya sendiri, dengan direkomendasi maju dalam pilwali 2020 nanti” kata Deny.

Arek asli Benowo Surabaya ini, berpesan, “Yang terakhir, *_Dimana bumi dipijak, disitulah langit akan dijunjung_*.

“Akan sangat ideal, apabila Arek asli Surabaya sendiri yang jadi walikotanya, pastinya (walikota) itu akan sangat memahami, aspirasi, kebutuhan dan harapan dari warga “pemilih cerdas” kota Surabaya” tegasnya.

Deny berharap, “Mari kita dorong, dukung dan menangkan cawali-cawawali arek suroboyo sendiri, agar kita menjadi tuan di negeri sendiri. Dan (kita) tak akan pernah di salahkan oleh masa depan (anak cucu) kelak, di era kita (dianggap) gagal mewariskan generasi mandiri”.

“Ingat, Kita besar bersama, bersama kita bisa untuk mewujudkan Kota surabaya yang Aman, Damai, Sehat dan Tentram” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed