oleh

Risma akui Dirinya ‘Bodoh dan Tidak Pantas Jadi Walikota Surabaya’, HAMEDI, SE : Telah terungkap Fakta Terpendam

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (30/06/2020) | PUKUL 20.34 WIB

Sebuah Pepatah lama mengatakan, bahwa “Batu berlian itu, tidak akan pernah setara apabila dibandingkan dengan Kaca. Walaupun, Jika (Kaca) tersebut, Dibentuk, Disebut, Dijaga dan Dihargai Laksana Batu Berlian”.

Berikut, Petikan dari sebagian ucapan Risma di dalam forum Diskusi dengan IDI dan Persi di Taman Surya Surabaya, Senin (28/06/2020) lalu.

“Mohon maaf pak, Memang saya goblok, dan nggak pantes dadi walikota Surabaya, “ujar Risma.

Dimana, Fakta telah berbicara, bahwa Risma mengakui bila Dirinya memang ‘goblok’ (bodoh, Red) dan ‘Tidak Pantas Jadi Walikota Surabaya’.

Dengan berdasarkan Pengakuan Risma di atas, terkuaklah sudah dua fakta yang selama ini tak pernah terungkap.

Yang Pertama, bahwa Risma telah mengaku sebagai Pribadi yang ‘Bodoh’.

Dan, Kedua, bahwa sebenarnya, dan Rismapun mengakui Dirinya tak pantas menjadi Walikota Surabaya.

Maka, semakin jelas bagi kita semua, mengapa selama ini, ‘seolah-olah’ telah terjadi Polemik yang berkepanjangan antara Pemkot Surabaya dengan Pemprov Jatim.

Bagaimana Gubernur Khofifah bisa dianggap setara dan terus berseteru dengan Walikota Risma, yang ‘Bodoh’ dan Tak pantas menjadi Walikota di Surabaya itu ?

Dan, telah terjawablah sudah bagi kita, warga kota Surabaya dan masyarakat Jawa Timur, mengapa sulit bersinergi dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Virus Corona di Surabaya Jawa Timur.

Bagaimana bisa, bagi Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa itu, untuk bersinergi dengan Walikota Risma, yang mengaku ‘Bodoh’ dan Tak pantas menjabat Walikota di Surabaya tersebut ?

Sementara itu, sebagai Pribadi yang telah mengakui bahwa Dirinya ‘Bodoh’ dan Tak Pantas Duduk sebagai Walikota Surabaya itu, Maka sangatlah wajar apabila :
1). Risma Menganggap sebagai Candaan akan basis massa dari salah satu Partai dan membalasnya dengan pekikan kata ‘Merdeka’, ketika Gubernur Khofifah menetapkan status Zona Merah di Kota Surabaya ;

2). Risma lebih memilih pengadaan Ramuan Jamu pokak sebagai ‘Anti virus’ dari Pandemi Covid di Ibukota Provinsi Jatim ini ;

3). Risma memperbanyak bentuk Kamar Sebagai sarana penyemprotan handsanitizer bagi warga kota, walaupun, WHO dan Kementerian Kesehatan RI yang notabene tidak pernah merekomendasikan Penggunaannya ;

4). Risma lebih memilih untuk menolak masa perpanjangan penerapan PSBB di wilayah Surabaya Raya, dibandingkan mendengar masukan dari para pihak terkait, yang qualified dan berkompeten di bidangnya ;

5). Risma marah karena salah sangka atas peruntukan bantuan dua unit mobil ambulance CPR dari BNPB Pusat dan BIN ;

6). Risma berbeda dengqn Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, yang telah sesuai dengan Arahan dari WHO dan Kementerian Kesehatan RI, dalam mengklasifikasikan Data Penanganan Covid-19 di Surabaya dan di Jawa Timur ;

Atau, dengan kata lain, di bawah pimpinan yang telah mengaku ‘Bodoh’ dan Tak Pantas menjadi Walikota Surabaya itu, akan sangat masuk akal jikalau :
1). Risma meminta maaf kepada Tenaga Medis yang telah berjibaku sebagai Garda terdepan dalam melawan Virus Corona ;

2). Risma merasa selalu dan terus menerus melakukan kesalahan dalam upaya melawan virus Corona ;

3). Risma mengalami kesulitan berkomunikasi dengan RSUD DR. Soetomo Surabaya ;

4). Risma spontan sujud di Kaki dr. Soedarsono, Ketua Tim Penyakit Infeksi Emergin dan Remerging (Pinere) RSUD DR. Soetomo Surabaya. (Red)

Hamedi, SE, Mantan Aktifis Pro Reformasi ’98 Jawa Timur

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed