oleh

Saat Perempuan Jadi Penentu Keutuhan Mahligai Pernikahan

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (23/02/2021) | PUKUL 13.17 WIB

TOKOH | Pernikahan bukanlah sebuah pertautan dua hati, namun juga bagaimana bangunan komitmen melekat padanya. Pernikahan seringkali menjadi topik menarik untuk dikaji, terlebih kemudian jika dikaji mengenai kesetiaan dan perceraian.

Seperti diketahui, perceraian bukan hanya terjadi karena kepergian salah satu pihak, atau yang disebut cerai mati. Melainkan juga terdapat perceraian faktor pilihan pasangan dalam pernikahan, sehingga menjadi putusan cerai hidup.

Cerai hidup bisa disebabkan banyak faktor, meski harus diakui, sebab tidak terjaganya kesetiaan menjadi masalah dominan. Dalam Islam, sebenarnya telah diterangkan pentingnya bagi seorang suami untuk tetap menjaga kesetiaan.

اِنَّ لِلزَّوْجِ مِنَ الْمَرْأَةِ لَشُعْبَةَ مَا هِيَ لِشَيْئٍ (رواه ابن ماجه)

Artinya: Sesungguhnya bagi suami ada cinta kasih dari sang istri (yang sangat besar) yang tidak bagi sesuatu (yang lain). (HR Ibnu Majah, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 2380).

Dalam hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa alangkah kufurnya seorang suami tatkala mengabaikan kebahagiaan yang telah didapat dengan adanya sosok istri yang begitu peduli dan penyayang. Namun, hadits tersebut merupakan perumpamaan yang seharusnya dipahami secara holistik bagi seorang istri juga, bukan hanya suami. Dengan kata lain, seorang istri pun harus menyadari bahwa suami yang menikahinya merupakan sosok yang memiliki cinta besar untuknya. Maka akan menjadi sebuah kerugian dan kesia-siaan jika cinta besar yang diberikan oleh pasangan, terabaikan oleh rapuhnya kesetiaan.

Pertaruhan kesetiaan umumnya berkaitan dengan kemunculan orang lain yang membuat utuhnya cinta pada pasangan tak lagi utuh seperti sebelumnya. Banyak kasus terkait dengan rapuhnya kesetiaan, ialah disebabkan kedatangan pihak ketiga yang dalam hal ini, sosok perempuan di luar pernikahan yang berhasil memecah cinta seorang suami pada istri.

Berbicara kesetiaan, tentu tidak bisa menyalahkan satu pihak, karena hubungan yang salah melibatkan dua orang di dalamnya. Dengan begitu, kesetiaan yang gagal merupakan bukti tidak berhasilnya seorang pasangan memegang teguh komitmen sebuah mahligai pernikahan dan terjebaknya pihak ketiga dalam sisi rendah manusiawi, yaitu ingin terlupa akan batasan hak.

Hadirnya pihak ketiga yang kemudian terlupa bahkan terlena dengan keinginan memiliki sesuatu yang bukan haknya, menjadi sangat wajar jika pihak ketigalah yang memiliki porsi kesalahan terbesar. Tentunya, tidak menafikan kesalahan pasangan yang telah gagal menjadi sosok suami atau istri yang sejati tersebut.

Jika kita bicara fakta dominan bahwa pihak ketiga adalah sosok perempuan, maka sangat penting bagi kita untuk mengambil makna mendalam dari hadits berikut:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِلنِّسَاءِ (رواه الحكيم عن ابن عباس)

Artinya: Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada orang perempuan. (HR Hakim dari Ibnu Abbas, kitab Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 4101).

Hadits tersebut menunjukkan betapa Islam sangat mengutamakan perempuan dan menganjurkan kaum lain selalu bersikap baik kepadanya. Maka, sangat disayangkan jika kebaikan-kebaikan yang diterima oleh perempuan, menjadikannya hanya terlena dan terlupa bahwa kebaikan bukan alasan lahirnya penyakit hati.

Sebagai contoh, jika seorang perempuan mendapatkan ragam anugerah yang menjadikannya sosok penerima berbagai tebaran kekaguman dari orang lain. Maka hendaklah ia mencoba perbanyak waktu untuk proses refleksi diri, bahwa kesempurnaan hari ini bukanlah hari esok. Dan keistimewaan yang dimiliki, hendaklah disikapi dengan sikap rendah hati. Karena keistimewaan yang dianugerahi Allah SWT tak memiliki alasan untuk melahirkan sisi superioritas yang hanya menjadikan lupa, terlebih memunculkan sikap ambisi memiliki segala hal yang dirasa mudah didapatkan.

Akhir kata, semoga kalimat berikut menjadi perenungan yang baik. Perempuan, saat dirimu tumbuh menjadi bunga yang mekar, maka jadikan keindahan itu adalah kebaikan. Berilah tirai pembatas agar segala hal yang menjadikan kekaguman padamu tidak menjadi godaan yang membuatmu tergoda. Karena sejatinya kekaguman yang kau dapatkan adalah ujian tentang sejauh mana kau dapat mengendalikannya.

Dapatkah kau jaga rasa kagum dari orang lain sebagai sebatas motivasi menuju uswatun hasanah? Ataukah justru menjebakmu menjadi pribadi yang tergoda ingin dimiliki dan memiliki sedangkan kekaguman tersebut datang pada waktu dan pihak yang salah? Maka, pilihlah pilihan yang menjaga kebahagiaan banyak orang, pilihan yang mendatangkan manfaat demi manfaat bukan kemudian memupuskan kemanfaatan menjadi kemudlaratan. (Red)

Ditulis Oleh : Dr. Lia Istifhama, ME.I
(Wakil Sekretaris MUI Jawa Timur)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed