oleh

Saatnya, ‘Meyalip ditikungan’

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (18/10/2020) | PUKUL 08.12 WIB

Saatnya, ‘Menyalip di tikungan’

Oleh : HAMEDI, SE

BERAKHIRNYA ISU COVID-19

Berdasarkan banyak referensi dan prediksi yang beredar di media.

Di Bulan November 2020 nanti, satu hari, satu minggu setelah kontestasi Pilpres USA.

Tidak peduli, akan kalah atau menangnya Presiden, Donald Trumph kembali.

Atau, sudah ada atau tidaknya vaksin virus corona di Dunia.

Cerita Pandemi COVID-19, akan silam.

Akan hilang datanya, dan kurang dari satu bulan, semua akan berjalan normal kembali.

Lalu, semuanya akan mulai bergerak melandai, ekonomi Indonesia akan terus turun sampai akhir 2020 ini.

Disebabkan, bisnis yang Salah Kelola, dan bukan (karena) virus corona.

Jadi, Sebelum COVID-19, dikarenakan adanya era Digitalisasi.

Dimana diakhir 2019, banyak sekali perusahaan-perusahaan yang kalau tidak adaptif dengan digital itu, sudah kolap.

Disaat itu, Dunia sedang mengalami masa ‘Dekopling’ atau keterputusan dengan masa lalu.

Artinya, tidak ada yang tahu soal strategi apa yang paling tepat untuk diterapkan di masa depan.

Disebabkan, sebagai sesuatu yang tergolong baru, fenomena ini, belum ada refrensi telaah akademisnya atau testimoni dari succses story sebelumnya.

Jadi, apabila ada orang yang bilang, jurusnya ini, strateginya itu, maka lupakanlah itu.

Jadi, Era Dekopling Ini memang benar-benar adalah Dunia baru, tidak ada refrensinya.

Dan bahkan, didalam cara kita menyelenggarakan negarapun, juga berlaku sama dan tiada beda.

Disisi lain, selama ini, ada tiga jenis kondisi perekonomian di dunia, yaitu, yang pertama, Economic at normal condition (dimana ekonomi ada boom, ada bass, ada naik, ada turun), Kedua, Economic at Crisis condition (ada low inflasi dan ada hight inflasi), dan Ketiga, Economic at war condition.

Dan, disaat iklim ekonomi yang berada didalam kondisi perang ini, ada strategi berbinis dan strategi bernegara yang beda.

PERANG USA VERSUS CHINA

Sementara itu, tanggal 20 Januari 2017, Donald Trumph, secara resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat.

Di keesokan harinya, atau tepatnya pada tanggal 21 Januari, Donald Trumph menaikkan Anggaran Perang Negara Paman Sam tersebut, dari 400 menjadi 700 Billyen Dollar (sementara, Indonesia hanya 135 Trilyun Rupiah atau setara dengan 9 Billyen Dollar saja).

Kesimpulan, Dunia dalam kondisi mau perang.

Dan, menariknya adalah, 40 % nya digunakan untuk Dana operasi non kombatan (bukan senapan atau alat perang), seperti Dana CIO Operation (ciri-ciri confirm perang).

Berlanjut, tak lama kemudian, USA mengumumkan ‘perang dagang’ dengan China. Dimana, harga-harga product China naik 25% kepada USA.

Kemudian, China menurunkan mata uang Yuan menjadi 2,5% lebih rendah.

Artinya, dari Trade War menjadi Currency War.

War fair terus berkelanjutan, hingga diakhir Tahun 2019, direleasenya benda bernama COVID-19.

Terlepas (Covid-19) itu adalah milik China atau Amerika, apa biological war fair atau benar-benar biological desease (baik secara natural ataupun by design).

Jadi, Terlepas dari itu semua, dunia sedang berperang melawan virus corona itu. Atau dengan kata lain, kita berstrateginya itu, ‘at war’ atau strategi ditengah kondisi perang.

Jadi, kategorinya adalah economic at war.

Sedangkan, untuk konsep strategi Ekononomi at war itu, adalah Survival of the nations atau survival of the family.

Jadi, Bagaimana Bisnis itu mampu bertahan. Bukan profit, melainkan Survive.

Dan disaat perang, kita dituntut untuk bagaimana bisa menghemat amunisi. Dan salah satunya, soal penerapan sistem Digitalisasi di dunia bisnis.

STRATEGI e-RUPIAH

Terpisah, setelah, mengetahui bahwa isu pandemi COVID-19 akan berakhir usai ajang kontestasi pilpres USA.

Maka, sekaranglah, saatnya untuk ‘Menyalip di tikungan, dengan cara terus nge-gas, dan jangan kasih kendor sedikitpun, apapun bisnis yang kita jalankan.

Dengan begitu, kita akan jadi ‘head’, dan tampil sebagai pemenang.

Banyak negara menerapkan konsep Deglobalisasi, atau Deown for Deown, artinya negara untuk negaranya sendiri.

Eksport berkurang, Import berkurang

Di kwartal kedua, Ekonomi Indonesia terjadi kontraksi 12%, disebabkan 70% nya ada unsur importnya.

Sedangkan Singapura turun 40%, sebab SDA dan SDM nya tidak punya, dan tergantung kepada Import dan Eksport.

Jadi, strategi ditengah kusutnya perekonomian dunia, kita harus bikin jalur baru. Salah satunya, strategi ‘e-Rupiah’ seperti ‘e-Remindi’ ala China.

Sebab, Infrastruktur dan aplikasinya sudah tersedia, dan masyarakat Indonesiapun, telah familiar dalam menerapkannya. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed