oleh

Sejarah Berdirinya Ponpes Lirboyo

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (04/12/2020) | PUKUL 08.21 WIB

KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) dan KH. Abdul Karim (1856-1954) Adalah Sahabat Karib

Dulu sepulang mondok di Bangkalan Madura, Mbah Manab (KH. Abdul Karim) mengingat-ingat sahabat-sahabat karibnya. Diantaranya ialah:

a. Mbah Munawwir Krapyak (1870-1942), ahli penghafal Al-Qur’an/al-Hafidz;
b. Mbah Ma’sum Lasem (1868-1972), ahli Tirakat dan pengamal Sholawat Nariyah;
c. Mbah Raden Asnawi Kudus (1861-1959), pencipta Sholawat Asnawiyah/versi Fasholatan; dan
d. Mbah Ma’ruf Kedunglo (1852-1955), ahli Tirakat dan sholawat Nariyah serta doa-doa nya yang terkenal ampuh di zamannya.

Dan masih banyak lagi sahabat-sahabat karibnya.

Namun diantara semua itu ada salah seorang sahabat karib yang paling akrab dengan beliau.

Beliau bernama Mbah Hasyim ‘Asyari dari Keras, Diwek, Jombang.

Mbah Manab mengetahui kalau sahabat karibnya tersebut telah mendirikan pondok pesantren di daerah Tebuireng Jombang sejak tahun 1899.

Kemudian Mbah Manab tertarik untuk belajar ilmu disana.

Tepatnya di tahun 1904, sejarah membuktikan bahwa Mbah Manab benar-benar nyantri di Tebuireng.

Meskipun pengasuhnya merupakan teman sebaya sewaktu nyantri di pesantren milik Mahaguru Syaikhona Kholil Bangkalan (1820-1925).

Selain ngaji ke Mbah Hasyim, Mbah Manab juga diminta menjadi guru bantu di pesantren Tebuireng.

Karena mbah Hasyim mengakui bahwa Mbah Manab mengusai ilmu Nahwu Shorof.

Meskipun berguru kepada teman sendiri, Mbah Manab tetap tawadlhu’ dan menghormati Mbah Hasyim.

Begitu juga Mbah Hasyim yang mengakui bahwa Mbah Manab juga merupakan gurunya.

Mbah Hasyim pun juga tak segan-segan bertanya kepada mbah Manab bila mendapat suatu kemusykilan terkait tarkib dan i’rob dalam salah satu kitabnya.

Begitu juga Mbah Manab tak segan-segan bertanya kepada Mbah Hasyim tentang Hadist yang shohih dengan dalil yang bersumber dari Rosulullah SAW.

Karena Mbah Hasyim adalah ulama ahli hadist pemilik sanad hadist Bukhori dan Muslim yang mewarisi keilmuan gurunya sewaktu belajar di Makkah, yaitu Syaikh Mahfudz At-Termasi (1842-1920) asal Tremas Pacitan yang bermukim di Makkah.

Kelak di kemudian hari tepatnya tahun 1908, Mbah Hasyim menjodohkan Mbah Manab dengan Nyai Dlomroh (Khodijah) puteri dari Kiai Sholeh Banjar Melati Kediri, yang masih kerabat dari Mbah Hasyim.

Ketika itu usia Mbah Manab sudah 50 tahun lebih, sementara Nyai Dlomroh masih berusia 15 tahun.

Setelah menikah dan memiliki putera pertama bernama Hannah, mbah Manab masih ikut dirumah mertuanya di Banjar Melati (sekarang Mojoroto) kota Kediri.

Kemudian atas arahan mertua, Mbah Manab memboyong keluarganya ke Lirboyo.

Disana beliau di belikan sebidang tanah seluas 1.785 meter persegi oleh Kiai Sholeh (mertuanya).

Di atas tanah itu di bangunkan rumah sederhana dengan dinding berupa anyaman bambu dan atap daun rumbia.

Kiai Sholeh dengan melalui tangan menantunya itu memulai membuka surau untuk mengajarkan agama kepada masyarakat yang masih awam.

Tercatat santri pertama yang belajar agama kepada Mbah Manab bernama “Umar” asal Madiun.

Karena semakin banyak santri yang belajar, tahun 1913 dibangunkan sebuah langgar/musholla yang kelak akan menjadi masjid besar yang di beri nama Masjid Lawang Songo.

Dari situ memulai lah Mbah Manab merintis mendirikan pondok pesantren Lirboyo, terhitung sejak mendirikan rumah sederhana itu tiga tahun sebelumnya.

Jadi Pesantren Lirboyo resmi berdiri tahun 1910.

Wallohualam…

Begitulah sifat para sesepuh-sesepuh kita. Sebagai santri kembali bersemangat meneladani akhlaq akhlaq beliau. Alfatihah. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed