oleh

Sopir, Ban Meletus & Wartawan

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (04/09/2020) | PUKUL 09.07 WIB

Sopir, Ban Meletus & Wartawan

Oleh : Emha Ainun Najib

Jadi ada cerita klasik yang banyak orang sudah mulai menertawakannya.

Karena juga pemaknaannya semakin tidak dibutuhkan oleh orang modern.

Jadi, seorang sopir truck di daerah Aljazair, ditumpangi oleh wartawan Amerika yang akan meliput sebuah peperangan, di sebuah Negara Afrika.

Karena sudah ketinggalan sama teman-temannya, dia dapatnya truck itu saja.

Dan itu truck sudah butut, sudah nggak karu-karuan.

Baru berapa kilo, sudah meletus satu bannya.

Tapi diliriknya sopir itu ndak sedikitpun terkejut oleh ban meletus itu, dia malah senyum dan bilang “Alhamdulillah”.

Mulai heran. “Ini fenomena apa ini. Ban meletus kok bilang Alhamdulillah”.

Dah dia sabar dan ban diganti.

Eh, dapat berapa kilo lagi, meletus lagi satunya.

Tetap saja sopir tidak berubah sedikitpun wajahnya. “Alhamdulillah”.

Mulai ini, wartawan protes, “Ini, gimana ini orang?”. “Eh, pak sopir, saya ini wartawan, wartawan perang, dan itu ndak boleh terlambat sedikitpun, Ini saya sudah bayar”.

Jadi, kalau sampean Alhamdulillah terus, saya bisa marah lama-lama. Ini ban meletus kok Alhamdulillah.

“Ya sabar, mau bagaimana lagi, kata si sopir, “Ya sudahlah, kita jalan lagi”.

“Ya saya masak suruh bilang gimana, ya saya bilang Alhamdulillah. Itu yang terbaik”.

Sudah jalan lagi. Ban meletus sampai tiga kali, tetap Alhamdulillah.

Dan yang terakhir, sudah tidak ada gantinya lagi.

Akhirnya terpaksa dijalankan dengan roda yang salah satunya…

Masih bilang, “Alhamdulillah”.

Dan dia bilang sama si Amerika, “Ya, untung bukan semuanya yang gembos. Masih cuma satu dari dua belas ban ini”.

Sampai di tengah jalan, as-nya patah.

Dia bilang, “Alhamdulillah”, dia bilang.

Malah lebih keras Alhamdulillahnya.

Si Amerika marah besar.

“Kamu makin keras-keras lagi mengejek saya. Kamu bilang Alhamdulillah keras-keras lagi”.

“Eh, tuan. Aku membayangkan kalau yang patah punggung tuan, bagaimana?”.

Ini cuma as-nya truck yang patah.

Coba kalau yang patah itu punggung ente atau punggung saya, kan celaka?

“Jadi Alhamdulillah. Makanya saya keras-keras, punggung tuan tidak ada kurang suatu apa. Kita masih sehat wal afiat”.

Orang modern akan melihat ini sebagai fatalisme.

Sebagai rasa menyerah, sebagai orang yang tidak punya jalan lain kecuali menyerah seperti itu.

Tapi sesungguhnya kita harus mencari rahasia ilmu dari kedahsyatan orang yang mampu bersyukur.

Anda tahu orang Indonesia ini dijajah sejak zaman Belanda sampai sekarang, itu bersyukur terus.

Mana ada orang Indonesia kelihatan sedih-sedih?

Ada becak masuk sungai saja, mereka lihat sambil ketawa-ketawa.

Ada penjarahan di situ, dulu. Tanggal tiga belas Mei, empat belas Mei sampai enam belas Mei, Tahun sembilan puluh delapan, itu ketawa-ketawa.

Ketawa -Ketawa, Ada banjir ketawa-ketawa. Sambil naik perahu, ketawa-ketawa.

Orang Indonesia itu, daya survive-nya luar biasa. Biar gelandangan, berumah di pinggir sungai liar, dia tetap ada pot bunganya itu di gubuknya. Itu Orang Indonesia.

Jadi kita ini, punya rasa syukur yang luar biasa sebagai manusia. Sehingga pemerintah, kapanpun, itu beruntung di Indonesia.

Karena rakyatnya agak malas untuk memberontak, karena mereka dalam keadaan menderitapun, mereka mampu bersyukur.

Secara sosial, ini jelek. Secara demokrasi ini jelek. Tapi secara pribadi, ini daya survive yang luar biasa.

Nah, dalam keadaan-keadaan praktis tiap hari, temen-temen sekalian, saya kira rasa syukur ini betul-betul perlu kita pelajari, supaya kita nggak gampang frustasi.

Supaya… Kalau saya sih istilahnya gampang. Kalau saya makan tempe, itu kan… urusan subyektif saya.

Kalau saya anggap daging dia daging, kan terasa daging. Mau apa?.

Saya miskin, kan itu kata orang lain. Kalau saya anggap saya kaya, mau apa?.

Itu soal sugesti saya kepada diri saya. Terserah-terserah sayalah.

Jadi, pintar-pintarlah menindas penderitaan itu. Penderitaan, rasa-rasa minder, rasa-rasa kecil, kita tindas.

Kita bersyukur kepada Allah dan kita mendapat segala sesuatu yang luar biasa, nikmatnya dari Allah.

Dan segala sesuatu yang membikin hati kita menjadi kecil, semua kita hancurkan. Tetap berbesar hati dengan semua ini. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed