oleh

Sosok Ideal Penerus Walikota Perempuan Surabaya, Tri Rismaharini itu, bernama REKOMENDASI

-All Post-754 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY
SABTU (21/09/2019) 07.00 WIB

Perhelatan Pilwali Surabaya 2020, untuk mencari penerus Walikota, Tri Rismaharini dan Wakil Walikota, Whisnu Sakti Buana, yang akan purna tugas 2021 mendatang, digelar akhir bulan September tahun depan.

Namun, eskalasinya semakin memanas saja, seiring dengan mulai bermunculan nya bakal cawali-cawawali, Improvisasi/manuver strategi partai politik, tak lupa “kontroversi” pemberitaan awak media, tumbuh subur nya lembaga survey, sampai dengan bervariasinya prediksi jitu ala pengamat politik.

Warga Kota Surabaya, yang tersebar di 31 Kecamatan, 154 Kelurahan, tergolong masyarakat yang hererogen dan rata-rata melek politik,

Kondisi ini, menjadikan Surabaya ibarat area medan perang, yang tak akan mudah untuk di baca, apalagi untuk di menangkan, sekalipun oleh PDI Perjuangan Surabaya itu sendiri,

Terlebih lagi, Walikota perempuan Surabaya, Tri Rismaharini, telah meletakkan standard capaian yang tinggi, dengan prestasi yang mendunia, akan sulit bagi calon walikota yang baru, menjadikan itu tolak ukur, sebagai garis start, mengawali roda pemerintahan di kota pahlawan ini, lima tahun kedepan.

Tak mudah memang mencari sosok pemimpin penerus Walikota Sarat prestasi ini, figur yang sepadan dengan Ibu dari fuad Bernardi ini,

Dan konon pertanyaan itu (mencari calon pemimpin bergender perempuan) juga belum terjawab tepat, dan benar oleh Walikota Risma Sendiri?

Kondisi yang sama pun, di rasakan oleh PDI Perjuangan sendiri, sebagai partai pemenang pemilu 2019, yang dulu mengusung Risma, walau berhasil menempatkan 15 orang legislator nya untuk menduduki kursi DPRD Surabaya periode 2019-2024 ini, masih tak mampu mencetak sosok walikota se qualified Walikota Risma,

Alhasil, muncul lah tak kurang, ada beberapa calon kuat representasi dari 3 faksi besar, yaitu dari Faksi Bambang DH, Whisnu Sakti Buana dan Tri Rismaharini.

Padahal tradisi juara telah lama melekat pada Partai besutan Megawati itu, Mulai pilwali 2005, 2010 dan 2015 ini, langganan mengusung pasangan cawali-cawawali, sebagai walikota-wakil walikota surabaya.

Pasangan Walikota Bambang dengan Wakil Walikota Arief affandi (Pilwali 2005), Walikota Risma- Wawali Bambang DH (Pilwali 2010) dan Pasangan Risma dan Whisnu Sakti Buana (Pilwali 2015) adalah bukti, dominasi partai berlambang banteng moncong putih, di kota pahlawan ini.

Kami mencatat, Ada beberapa hal, yang memicu DPP PDI Perjuangan, untuk turun tangan sendiri, dalam proses pilwali surabaya 2020, antara lain :
1. Adanya perpecahan di dalam tubuh PDI Perjuangan Surabaya 3 Faksi besar dalam PDI Perjuangan kota Surabaya, yang sama-sama mengusung cawali yang berbeda beda.

2. Kegagalan proses pembinaan, kaderisasi dan regenerasi oleh Walikota, Risma kepada Pendamping setianya, Wakil Walikota, WSB.

3. Kekalahan Mendukung dan memenangkan pasangan cagub Syaifullah Yusif – Puti Guntur Soekarno, saat pilgub Jatim 2018 di Kota Surabaya.

4. Hasil perolehan 15 kursi DPRD Surabaya (Pemilu 2019), yang sama dengan perolehan kursi DPRD Surabaya periode sebelumnya (pemilu 2014).

5. Mengamankan kepentingan Nasional 2024, dengan membangun sinergitas antara Pemkot Surabaya, Pemprov Jatim dan Pemerintah pusat.

Dengan Mempertimbangkan hal-hal diatas, ditambah besarnya Tuntutan untuk harus menang di kandang banteng (basis suara PDI P) kota surabaya inilah, yang mengusik DPP PDI P untuk lebih selektif dalam merekom calon dan lebih inovatif dalam berstrategi agar tak mudah/tak cepat terbaca oleh lawan.

Langkah awal, Melalui Surat Keputusan yang di bacakan saat Konfrensi Cabang Serentak, di Empire hotel surabaya, minggu (7/07/2019) siang, Dihadapan utusan 31 Pengurus Anak Cabang se kota Surabaya, DPP PDI Perjuangan yang menunjuk Adi Sutarwiyono, sebagai ketua DPC, Baktiono, sebagai sekretaris DPC dan Tata Sasmita, sebagai Bendahara DPC PDI Perjuangan Surabaya yang baru.

Walau pun sempat ditentang, melalui aksi pendudukan Kantor DPC oleh 31 PAC se Kota Surabaya, dan Aksi mimbar bebas, namun keputusan DPP PDI Perjuangan tetap dan tak bergeming.

Dan sebagai salah satu petugas partai, WSB-sapaan akrab-Whisnu Sakti Buana pun, tegak lurus, tunduk dan patuh menempati posisi barunya, yaitu menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.

Belum cukup sampai disitu, Melalui Mukernas ke-5 di bali, (8-10/8/2019) Diputuskan, Tri Rismaharini, di tugaskan menduduki Ketua Bidang Kebudayaan DPP PDI Perjuangan.

Sementara itu, melalui forum yang sama, Bambang DH, di purna tugaskan dari ketua Bappilu DPP PDI P. Adapun Posisi Suami dari Dyah Katatina ini, di ganti oleh Bambang Pacul, yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah.

Melalui Peraturan PDI Perjuangan Nomor 24 tahun 2017 tentang penjaringan Calon Kepala Daerah dan Wakil kepala Daerah, DPC dan DPD juga DPP, membuka pendaftaran secara terbuka, jadi tak hanya kader, melainkan calon dari eksternal dengan berbagai macam latar belakang, ikut untuk mencoba peruntungan melalui PDI Perjuangan.

Tercatat, ada 18 Cawali-cawali, yang telah mengikuti tahapan fit and proper test di kantor DPD PDI P Jatim, Jl. Kendangsari Industri Surabaya, Rabu (18/09/2019).

Kapasitas DPC & DPD hanyalah memfasilitasi saja, sedangkan semua hasil dari semua tahapan yang di syaratkan untuk dilalui akan di laporkan ke DPP PDI Perjuangan untuk di jadikan bahan pertimbangan dalam menerbitkan surat rekomendasi.

Kini, ketiga faksi itu (Bambang-Risma-Whisnu) di hadapkan pada posisi berbeda dari sebelumnya, dan ini menuntut mereka untuk cepat beradabtasi, gunakan strategi baru untuk dapatkan rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan bagi kandidat cawali kota surabaya 2020 yang mereka usung.

Rivalitas jadi semakin keras, karena masih harus bersaing dengan calon yang terdaftar melalui DPC, DPD dan DPP kemarin?

Pasangan Cawali-Cawawali “representasi” faksi siapakah yang bakal direkomendasi oleh DPP PDI Perjuangan, melalui hak prerogatif “ketum Megawati” yang biasanya di putuskan menjelang detik2 akhir tahapan pendaftaran calon olah Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya?

Sebagai pasangan calon walikota dan wakil walikota surabaya melalui partai Demokrasi Indonesia Perjuangan?

Bagaimana menurut pendapat Anda, Warga “Pemilih Cerdas” Kota Surabaya?

( Ditulis Oleh : Deny Istiawan, Koordinator Relawan Saksi NOL Rupiah Surabaya )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed