oleh

STRATEGI PECAH KONGSI, DARI 3 FAKSI DI TUBUH PDI P SURABAYA

-All Post-656 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (10/12/2019) | PUKUL 10.18 WIB

Kontroversi munculnya Fenomena perpecahan (faksi) di tubuh PDI P Surabaya menjelang Kontestasi Pilwali 2020 mendatang itu, spontan saja mengundang reaksi beragam, khususnya dari Warga Kota Surabaya.

Ada yang menganggap ini adalah fakta realita dari peristiwa yang memang benar benar terjadi, Ada pula yang memilih tidak berkomentar.

Namun, tak sedikit pula, yang berpendapat bahwa itu, adalah murni bagian dari strategi politik, yang dengan sengaja memunculkan peta konflik antar Kader PDI P, berharapan, adanya mengalihkan perhatian publik semata.

Seperti diberitakan sebelumnya, ada tiga kubu (faksi), yang saling berseteru dan masing masing mempunyai Kandidat Calon yang berbeda. Yaitu, antara lain Faksi Bambang DH, yang mengusung Cawali Dyah Katarina, Faksi Tri Rismaharini, yang mengusung Cawali Eri Cahyadi dan Faksi Whisnu Sakti Buana, yang maju sendiri sebagai cawali dalam gelaran pilwali surabaya 2020 itu.

Ketua Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya, Hamedi, SE, mengatakan, bahwa strategi pecah kongsi, terkadang diterapkan guna pengalihan issue dalam rangka merusak konsentrasi lawan.

“Biasanya, langkah yang diambil secara acak, terkesan tak teratur, dengan pilihan bahasa (baik lisan, tulisan dan bahasa tubuh) yang multi tafsir. Memang Sengaja, publik diijinkan untuk menginterpretasi sesuai sudut pandang masing masing”, ujarnya kepada awak media potretjatimdaily.com, Selasa (10/12/2019) siang.

Hamedi menambahkan, agar berjalan sesuai rencana, akan efektif, efisien dan mencapai target maksimal, maka ada tiga syarat dasar yang harus dimiliki oleh “otak strategi” dan obyek perintah dari strategi ini.

PERTAMA, sang decition makernya punya hak prerogratif untuk terbitkan keputusan yang absolut, tak bisa diintervensi oleh pihak manapun. Sehingga nantinya, keputusan yang akan diambil disaat injury time itu, harus cepat dilaksanakan, tak boleh dianulir, dan tak menyisakan sedikitpun ruang untuk bertanya, protes apalagi ditentang.

KEDUA, Seluruh obyek penerima perintah strategi, berada dalam satu ikatan emosional persaudaraan yang erat, dalam naungan organisasi yang terstruktur kuat, dan memiliki tingkat loyalitas kepada pimpinan dan organisasi yang tinggi. Sehingga, saat aba aba dari pimpinan, maka (Obyek perintah) akan secara tegak lurus, patuh dan tunduk melaksanakan apapun hasil keputusan yang diambil.

KETIGA, Harus berada pada “Leading Position”, memiliki basis “Mayoritas Vote” dan saat meng aplikasikan strategi secara profesional dalam mode silient operation. Sehingga, kerahasian strategi akan rapat terjaga, sulit terbaca lawan, bahkan sampai dengan akhir episode, tak kan pernah terungkap.

Saat ditanya dasar menganggap bagian dari sebuah Strategi, Mantan aktivis PRRT 98 ini mengatakan bahwa Ada Kesengajaan dengan menampilkan secara fulgar, untuk jadi konsumsi publik akan adanya perpecahan dalam partai menjelang Pilwali Surabaya 2020.

“Padahal kita tahu benar, didalam partai manapun, yang namanya faksi itu adalah bentuk kegagalan dalam memimpin, dan (kegagalan dalam memimpin itu) adalah aib yang seharusnya ditutupi untuk diselesaikan dan bukan malah di beri ruang untuk semakin berjarak”, ungkap Hamedi.

Sementara itu, Masih menurut Hamedi, dirinya belum menemukan alasan yang substansi bagi Risma, WSB dan Bambang yang memaksa mereka untuk ber faksi. (Jadi) Mustahil ada faksi diantara kader, petugas partai yang sama.

“(Sebab) Disamping mereka ada dalam partai yang sama saat ini, Mereka juga, dalam periode yang sama, pernah menjadi pimpinan di lembaga legislatif dan eksekutif kota surabaya”, jelas Hamedi.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, Risma-Bambang menjabat Walikota dan Wakil Walikota Surabaya, sedangkan WSB, menjabat ketua DPRD Surabaya pada periode 2010-2015,

Terakhir, adanya batasan terluar (garis pembatas) yang diperuntukkan bagi Risma, Bambang, dan WSB. Garis itu, adalah Batas Gerak Maju yang pantang untuk dilanggar.

“Dan garis itu bernama Garis Kasus Japung, Garis Kasus YKP dan PT. YeKaPe serta Garis Kasus Amblesnya Jalan Gubeng Surabaya”, ulas Hamedi.

Arek asli Benowo Surabaya yang juga Alumni SMA 21 Surabaya ini mengingatkan, kepada warga “pemilih cerdas” kota surabaya, agar tak mudah terkesima dan terlena akan strategi pemenangan yang sedang dimainkan. Sehingga, kita akan dewasa dalam menyikapinya”, pungkasnya. (Basuki)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed