oleh

SURABAYA BERSUARA 2020 : Tersingkirnya WSB

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SABTU (22/08/2020) | PUKUL 07.07 WIB

Jelang akan dibukanya pendaftaran pasangan calon yang diusung partai dan atau gabungan partai politik oleh KPU Surabaya itu, mendadak viral beredar kabar.

Kabar satu prediksi kontroversial, soal tersingkirnya Whisnu Sakti Buana, Wakil Walikota Surabaya itu, dari bursa daftar nama bakal calon yang nantinya akan mengantongi rekomendasi dari DPP PDIP tersebut.

Prediksi ini, bukanlah hasil analisa logis yang bukan kaleng-kaleng apalagi berisi berita palsu atau hoax.

Akan tetapi, sebuah asumsi cerdas yang didasari dan ikut dipicu oleh beberapa faktor penyebab sebagai pendahuluan yang qualified dan kredible yang terkalkulasi dengan tingkat validitas tinggi, serta hampir mendekati informasi berkategori benar.

Diantaranya, yang pertama, Posisi WSB sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya telah diganti,

Hal ini, sebagai konsekuensi logis dari penerapan rotasi partai, dan bentuk punishment dari beberapa kegagalan WSB, sebagai kader partai saat mengemban tugas.

1. Munculnya beberapa friksi di tubuh PDI Perjuangan Kota Surabaya, yang hingga saat ini belum berhasil untuk dihilangkan.

2. Kegagalan WSB dalam upaya untuk memenangkan pasangan Saifullah yusuf dan puti guntur soekarno di kota kelahiran bung karno surabaya saat kontestasi pilgub jatim, 27 juni 2018 silam.

3. WSB tidak berhasil menambah perolehan kursi DPRD Surabaya saat kontestasi Pileg, Rabu, 17 april 2019 lalu.

Kedua, Penunjukan WSB sebagai Wakil Ketua Bidang didalam jajaran pengurus DPD PDIP Jawa Timur.

Ketiga, Adanya Tawaran bagi WSB untuk bersedia diusung maju diajang kontestasi pilkada serentak di 18 daerah lain di Jatim (selain diajang Pilkada Surabaya).

Keempat, Kegagalan WSB dalam bersinergi serta dianggap kurang berperan serta aktif berkolaborasi memimpin kota surabaya saat ditugasi untuk mendampingi Walikota Tri Rismaharini sebagai wakil walikota.

Terlihat, dalam banyak kesempatan Walikota Risma terkesan dibiarkan sendirian dalam menjalankan roda pemerintahan di Ibukota Provinsi bumi majapahit itu.

Kelima, Perlawanan para pendukung WSB di PDIP Surabaya, terhitung lebih mudah di netralisir untuk tetap tegak lurus tunduk dan patuh apapun keputusan petinggi partai.

Sehingga, (perlawanan) itu tidak akan berubah menjadi barisan kekuatan lawan di luar PDIP, sebagaimana para pendukung Ahmad Purnomo di PDIP Surakarta atau loyalis Akhyar Nasution di PDIP Medan.

Fenomena ini, telah jelas terekam saat (pendukung WSB) bereaksi atas keputusan DPP untuk mencopot putera mantan sekjen DPP PDIP, Ir. Soecipto itu, dari kursi ketua DPC Surabaya beberapa waktu yang lalu.

Keenam, dengan dibukanya prosesi penjaringan bakal calon untuk umum, bukan hanya bagi kader partai saja, melalui DPC, DPD dan DPP PDI Perjuangan.

Ketujuh, Dimulainya Penerapan agenda regenerasi total 2024 ditubuh PDI Perjuangan diajang kontestasi pilkada serentak 2020 kali ini.

Kedelapan, Semakin meroketnya karier politik dari Ketua Bidang Kebudayaan DPP PDIP, Tri Rismaharini di Partai berlambang kepala banteng moncong putih itu.

Bahkan, Risma berhasil mengalahkan prestasi dari WSB, yang notabene lebih senior, yang hanya mampu menduduki posisi wakil ketua bidang DPD PDIP Jatim.

Yang tentunya, masukan Risma terkait pilkada surabaya akan lebih didengar untuk nantinya lebih dipertimbangkan oleh Megawati ketimbang (masukan) dari WSB.

Kesembilan, hadirnya sosok Eri Cahyadi, kepala bappeko surabaya itu, running di bursa pilkada surabaya.

Dan bahkan, dalam beberapa hasil polling lembaga survey, nama alumni SMA Negeri 21 Surabaya itu, bertarung ketat dan sesekali berhasil mengungguli nama WSB.

Disisi lain, apabila berbicara soal tingkat senioritas, WSB pun kalah dibandingkan Armudji, yang bersedia menjadi bakal calon wakil walikota untuk mendampingi Eri Cahyadi.

Artinya, WSB telah gagal berproses politik dalam upaya memantaskan diri sebagai pribadi yang pantas, satu-satunya suksesor Risma yang akan purna tugas pada 18 februari 2021 tahun depan.

Akhirnya, semua itu hanyalah sebuah prediksi. Dan, politik itu bersifat cair dan dinamis. Dimana, segala kemungkinan dapat terjadi.

Bagaimana dengan prediksi anda ?

( “SURABAYA BERSUARA 2020” )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed