oleh

Syariat ISLAM ‘Ideologi’ Terbaik

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
KAMIS (08/10/2020) | PUKUL 07.07 WIB

Syariat ISLAM ‘Ideologi’ Terbaik

Ditulis oleh : HAMEDI, Ketua Sahabat Khofifah Indar Parawansa Surabaya

SEJARAH IDEOLOGI

Sejak awal, atau setidaknya sejak perkembangan kehidupan sosial melahirkan begitu banyak perselisihan, dengan demikian, manusia membutuhkan ideologi atau, dalsm terminologi Al-Quran disebut dengan “syariat”.

Waktu berlalu, dan manusia semakin maju, kebutuhan akan hal ini pun semakin kuat.

Di masa dahulu, kecenderungan rasial, kebangsaan dan kesukuan menguasai masyarakat-masyarakat manusia. Seperti misalnya semangat kebersamaan.

Semangat ini kemudian melahirkan serangkaian ambisi—sekalipun tidak manusiawi—yang mempersatukan masing-masing masyarakat, dan memberinya orientasi tertentu.

Sekarang kemajuan ilmu pengetahuan dan akal telah melemahkan ikatan-ikatan seperti ini.

Watak ilmu pengetahuan adalah cenderung kepada individualisme, melemahkan sentimen dan ikatan yang didasarkan pada sentimen.

Juga hanya sebuah filsafat hidup yang rasional yang dipilih secara sadar, atau dengan kata lain sebuah ideologi yang komprehensip dan sempurna, yang dapat mempersatukan umat manusia dewasa ini atau malah umat manusia di masa depan, memberinya orientasi, ideal bersama dan standar bersama untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.

Apa lagi pada saat itu (awal perselisihan), sudah mengedepakan sentimen rasis, dan dalam perjalanan berikutnya terjadi rasisme tersturuktural.

Dengan demikian kebutuhan akan suatu ideologi akan semakin jelas.

Menurut Al-Quran, perselisihan ini muncul pada masa Nabi Nuh as., (dalam konteksnya dengan kehidupan sosial).

Sedangkan, dalam hal konflik dalam arti ego dan sentimen pribadi; terjadi pada masa Nabi Adam as, yakni di mana terbunuhnya Habil as.

MANUSIA BUTUH IDEOLOGI

Dewasa ini, lebih daripada sebelumnya, manusia membutuhkan filsafat hidup seperti itu, sebuah filsafat yang mampu menarik perhatiannya kepada rialitas di luar para individu dan di luar kepentingan mereka.

Fakta bahwa mazhab atau ideologi merupakan salah satu yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial, tak lagi diragukan.

Kini pertanyaannya adalah: Siapa yang dapat merumuskan ideologi seperti itu?

Tak pelak lagi, akal para individu tak dapat merumuskannya.

Dapatkah akal kolektif merumuskannya?

Dapatkah manusia, dengan menggunakan segenap pengalamannya serta informasi lama dan barunya, merumuskan ideologi seperti itu?

Kalau kita akui bahwa manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka mana mungkin kita berharap dia mengenal masyarakat manusia dan kesejahteraan sosial.

Lantas harus bagaimana?

Kalau saja konsepsi kita tentang alam semesta benar, dan kita percaya bahwa dunia memiliki sistem yang seimbang dan tak ada yang tak beres atau tak masuk akal pada dunia, maka harus kita akui bahwa mesin kreatif yang hebat ini memperhatikan masalah besar ini dan sudah memerinci skema pokok sebuah ideologi dari cakrawala yang berada di atas cakrawala akal manusia, yaitu dari cakrawala wahyu (prinsip kenabian).

Kerja akal dan ilmu pengetahuan adalah mengikuti skema ini.

Dengan bagus Ibnu Sina, mengemukakan masalah ini ketika menguraikan kebutuhan umat manusia terhadap hukum Tuhan (syariat) yang diturunkan melalui seorang manusia.

Dalam kitabnya “Najat”, dia berkata:

“Nabi dan penjelas hukum Tuhan serta ideologi, jauh lebih dibutuhkan bagi kesinambungan ras manusia, dan bagi pencapaian manusia akan kesempurnaan eksistensi manusiawinya, ketimbang tumbuhnya alis mata, lekuk tapak kakinya, atau hal-hal lain seperti itu, yang paling banter bermanfaat bagi kesinambungan ras manusia, namun tidak perlu sekali”.

Dengan kata lain, mana mungkin mesin kreatif yang hebat ini, yang kebutuhan kecil dan sepele pun bahkan diperhatikannya, tidak memperhatikan kebutuhan yang sangat penting ini?

Namun, jika kita tidak memiliki konsepsi yang benar mengenai alam semesta, kita dapat mengambil gagasan yang menyebutkan bahwa manusia sudah digariskan nasibnya untuk kebingungan dan salah, dan bahwa ideologi manusia tak lebih dari pada rekreasi atau upaya yang menarik.

Pembahasan di atas bukan saja menjelaskan kebutuhan akan adanya mazhab atau ideologi, namun juga memperlihatkan perlunya para individu mengikuti mazhab atau ideologi.

Sesungguhnya, arti dari mengikuti ideologi adalah meyakini ideologi tersebut, sedangkan keyakinan tidak dapat dipaksakan, juga tidak dapat dipandang sebagai masalah praktis.

Orang dapat saja dipaksa tunduk kepada sesuatu, namun ideologi tidak menuntut ketundukan.

Yang dituntut ideologi adalah keyakinan. Ideologi adalah untuk diterima dan dimengerti.

Ideologi yang bermanfaat harus didasarkan pada konsepsi tentang dunia yang dapat meyakinkan akal dan memupuk pikiran, dan harus mampu menangkap sasaran yang menarik dari konsepsinya tentang alam semesta.

Keyakinan dan semangat merupakan dua unsur dasar dari agama.

DUA JENIS IDEOLOGI

Ada dua jenis ideologi: Ideologi manusiawi dan ideologi kelas.

Ideologi manusiawi adalah ideologi yang didedikasikan untuk seluruh umat manusia, bukan untuk kelas, ras atau masyarakat tertentu saja.

Format ideologi seperti ini meliput seluruh masyarakat dan tidak hanya lapisan atau kelompok tertentu saja.

Sebaliknya, ideologi kelas didedikasikan untuk kelas, kelompok atau lapisan masyarakat tertentu, dan tujuannya adalah emansipasi atau supremasi kelompok tertentu.

Format yang dikemukakannya terbatas pada kelompok itu saja, dan pendukung serta pembela ideologi ini berasal dari kelompok itu saja.

Dua ideologi ini masing-masing didasarkan pada konsepsi tertentu tentang manusia.

Setiap ideologi yang umum dan manusiawi sifatnya, seperti misalnya ideologi Islam, sikapnya terhadap manusia adalah seperti itu, dan sikap ini dapat disebut sikap alamiah.

Dari sudut pandang Islam, manusia diciptakan untuk mengungguli faktor sejarah dan faktor sosial.

Manusia memiliki dimensi eksistensial yang khusus dan kualitas-kualitas kemampuan-kemampuan yang tinggi yang membedakan dirinya dengan binatang.

Menurut pandangan ini, desain kreatif manusia adalah sedemikian sehingga semua manusia memiliki semacam kesadaran dan intuisi.

Karena kesadaran dan intuisi inilah manusia layak diseru dan mampu menjawab seruan.

Ideologi-ideologi manusiawi menjadikan intuisi alamiah manusia untuk dasar ajarannya dan menyuntikkan semangat berbuat pada manusia.

ISLAM IDEOLOGI TERBAIK

Beberapa ideologi berbeda pandangan mengenai manusia.

Menurut mereka, spesies manusia tidak tepat untuk diseru, juga tidak dapat menjawab seruan.

Mereka berpendapat bahwa kesadaran dan kecederungan mnusia ditentukan oleh faktor-faktor sejarah dalam kehidupan nasionalnya, dan faktor-faktor sosial yang menghidupkan status kelasnya.

Kalau kita abaikan faktor sejarah dan sosial, maka manusia, dalam pengertiannya yang utuh, tidak memiliki kesadaran atau kemampuan intuitif, dia juga tidak tepat untuk diminta mengemban misi.

Dalam kasus itu, dia bukan manusia yang konkret, dan eksistensinya konseptual belaka.

Marxisme dan begitu pula berbagai filsafat nasional didasarkan pada pandangan tentang manusia seperti itu.

Dan Filsafat-filsafat ini berupaya mendapatkan keuntungan kelas, atau didasarkan pada sentimen nasional dan sosial atau paling banter pada budaya nasional.

Tak ayal lagi, bahwa ideologi Islam termasuk jenis yang pertama, dan dasarnya adalah fitrah manusia.

Itulah sebabnya Islam menyampaikan pesannya kepada “orang kebanyakan” dan bukan kepada kelompok dan kelas tertentu saja.

Islam praktis mampu merekrut pendukungnya dari semua kelompok, bahkan dari kalangan yang diperangi oleh Islam, yaitu kalangan yang oleh Islam disebut orang-orang yang hidup mewah.

Merupakan suatu prestasi yang luar biasa ketika Islam mampu menarik pendukung dari sebuah kelas untuk memerangi kelas bersangkutan, dan dari sebuah kelompok untuk memerangi kepentingan kelompok bersangkutan, dan bahkan menggerakkan individu-individu untuk memerangi dirinya sendiri.

Inilah yang dilakukan Islam, dan masih dilakukannya.

Islam, yang merupakan sebuah agama yang tumpuannya adalah fitrah manusia dan yang mewarnai ciri paling pokok dari eksistensinya, dapat menggerakkan para individu untuk berjuang dan mewujudkan revolusi melawan dirinya sendiri.

Revolusi ini disebut rasa sesal.

Sedangkan, Kekuatan revolusioner sebuah ideologi kelas atau kelompok hanya sekadar menggerakkan orang untuk menentang orang lain atau kelas menentang kelas lain, begitu juga kelompok dengan kelompok lain, namun tak dapat meyakinkan orang untuk melakukan revolusi terhadap dirinya sendiri, juga tidak dapat membuat orang mampu mengendalikan sentimen dan keinginannya sendiri.

Terbukti, bahwa memang benar “Ideologi” Islam itu, merupakan Ideologi yang terbaik, yang Rahmatan lil ‘Alamiin (Cinta kasih (Rahmat) untuk seluruh alam semesta). (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed