oleh

Target 2020 Ning Lia Ceria: Bismillah Menjadi Tahunnya Nawa Tirta

-All Post-405 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (03/01/2020) | PUKUL 15.58 WIB

Masuk penanggalan awal Januari 2020, maka Surabaya bersiap-siap hitung mundur 8 bulan lagi akan terselenggara perhelatan Pilwali Surabaya. Diperkirakan 14 September mendatang.

Dimana warga Surabaya akan memiliki kesempatan menentukan pilihan siapa yang layak menggantikan walikota incumbent, Tri Rismaharini.

Meski menggantikan Bu Risma dinilai tidak mudah bagi banyak pihak, namun bukan berarti tidak ada figur yang berani masuk dalam bursa pilwali ini.

Bukan hanya dari kalangan birokrat maupun politisi, namun dari kalangan millenial pun turut meramaikan kontestasi politik yang bakal menjadi isu nasional di 2020.

Sebut saja Lia Istifhama atau yang ramai disebut ning Lia Ceria. Perempuan putri dari tokoh nahdliyin, KH Masykur Hasyim, menunjukkan optimisnya. Bagaimana sikapnya menyambut pergantian tahun baru ini ?

“Alhamdulillah, saya masih optimis. Politik hawa nya memang mudah panas, tapi hati dan pikiran harus tetap adem. Ketika kita sedang berproses dalam suatu politik, maka dijalani dengan niat-niat positif.

Hal ini menjadi kunci agar kita memiliki optimisme yang baik, asal jangan sampai jadi ambisi”, jawabnya.

Terkait kans mendapat rekom, Dosen yang baru saja dideklarasikan oleh 38 relawan sebagai satu-satunya cawali perempuan ini, justru mengungkapkan kepercayaan dirinya.

“Bismillah, kita ada target besar. Bahwa 2020 menjadi tahunnya nawa tirta. Kalau sudah begini, maka siapa pencetusnya insya allah namanya akan tertulis di kertas suara pada September mendatang. Aamiin”, jelasnya dengan senyum percaya diri.

Meski tidak eksplisit secara lugas menyebut rekom, tapi jawaban Ibu dua anak tersebut menunjukkan optimisnya.

Adapun nawa tirta sendiri adalah yang dicetusnya pada 9 september 2019 silam, yang merangkum 9 poin program untuk Surabaya yang disebutnya dalam sebuah singkatan dengan istilah Suroboyoan.

Diantaranya: semanggi (semangat membangun kota religi), seduluran (jaga sejarah dan budaya leluhur suroboyoan), serta mbecak (mengurangi beban kemacetan dan mewujudkan budaya aman berkendara). (Spr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed