oleh

Tidak Ada yang Lebih Takdzim Pada Gus Dur Melebihi Rasa Takdzim Mbah Maimoen

MALANG – Potret Jatim Daily
Kamis (12/9/2019) | 10.30 WIB

Gus Dur sangat takdim kepada Mbah Maeimoen, sebelum ke Mesir meminta dibacakan kitab khusus dikediamaanya. Tidak ada yang lebih takdzim terhadap Gus Dur melebihi rasa takdzim Mbah Maimoen kepada Gus Dur. Setiap haul Gus Dur, Mbah Maimoen selalu rawuh. Bahkan ceramahnya begitu memuji Gus Dur.

“Aku ngak wani dengan Gus Dur karena beliau itu titisane Mbah ‎Muhammad Hasyim Asy’ari.” Artinya “saya tidak berani sama sekali kepada Gus Dur, karena ‎beliau itu titisan dari KH Hasyim Asy’ari”.‎

Terbukti, ketika Gus Dur wafat, Mbah Maimoen sendiri yang hadir dan mentalkin. Seolah-olah ‎Mbah Maimoen Zubair ingin berkata kepada orang-orang yang dengan mudah ‎mengeluarkan kata “sesat” atau “kafir” terhadap Gus Dur, bahwa Gus Dur itu tidak ‎seperti yang dikira mereka.‎

Bahwasanya kehadiran Mbah Maimoen Zubair itu menjawab bahwa Gus Dur itu ‎bukanlah seperti yang dikira oleh sebagian orang yang suka “menyesatkan”. Sejak Mbah ‎Maimoen Zubair selalu hadir pada setiap tahlilan Gus Dur, orang-orang yang sok suci, ‎menganggap Gus Dur sesat itu akhirnya semakin terbuka, walaupun kebencian terhadap ‎Gus Dur itu masih ada. Itu masih wajar-wajar sajalah.‎

Keduanya adalah tokoh utama NU. Jika Gus Dur perintis PKB, maka Mbah Maimoen penjaga PPP. Keduanya pencinta damai, walaupun dicaci-maki, namun tetep saja damai menjaga NKRI.

Lebih asyik dan menarik, ketika Gus Dur wafat, maka syair tanpo wathan menyebar keseluruh Nusantara. Tua dan muda, hingga anak-anak-pun, hafal terhadap lagu sufi syair tanlo wathan.

Sementara Mbah Maimoen Zubair, begitu wafat maka syair manakib Sayyidah Khodijah ra, membumi dan mendunia. Tua dan muda, hingga anak-anak-pun mengenal dan mendendangkan syair manakib Khadijah ra.

Tiga sifat mulia yang dimiliki Mbah Maimoen dan Gus Dur, sekaligus ciri khas agamawan yang bertaqwa. QS. Ali Imran (3:133), Allah SWT berfirman ” yunfiqina fi Al-Assaroi wa Al-Darroi, wa Al-Khadimina Al-Ghoido, wal ‘afina ‘anin nas”.

Ciri khas orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT, sebagai berikut:

1. Dermawan tingkat tinggi, mementingkan sesama, bukan pribadi dan keluarga. Hampir semua usianya dihabiskan untuk memikirkan umat.

2. Mampu menahan amarah, berapa orang dan istitusi mencaci maki dan membuli Mbah Maimoen dan Gus Dur. Tetapi, kedua tokoh NU, tidak pernah marah sama sekali.

3. Semua orang yang pernah menyakiti, dimaafkan semuanya. Itulah sifat luhurnya.

Siapa yang memiliki tiga sifat mulia di atas, jaminannya adalah surga Allah SWT. Orang-orang bertaqwa itu tidak pernah khawatir dalam urusan dunia, juga tidak pernah sakit hati kepada siapapun.
( Abdul Adzim Irsad, Alumnus Universitas Ummul Quro Makkah )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed