oleh

TIKTOK alat Intelijen

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (25/10/2020) | PUKUL 07.09 WIB

TIKTOK alat INTELEJEN

Dalam Informasi cara cerdas bernegara kali ini, kita tampilkan sesuatu yang beda. Informasi kali ini, akan mulai dengan memisahkan ‘BOY FROM MAN’.

Kita semua mengetahui, bagaimana seorang anak tumbuh dari akil balig, kemudian menjadi dewasa. Begitu juga, di dalam bernegara.

Dewasa bukan masalah usia, misalnya Amerika negara yang usianya lebih dari 200 tahun saat ini, baru bisa menerima kepemimpinan dari kalangan minoritas pertama pada saat Kennedy menjadi Presiden Amerika. Karena Kennedy beragama Katolik, dan Katolik adalah Agama Minoritas Di Amerika.

Kemudian, di periode lalu, untuk pertama kali Presiden Kulit berwarna Obama, lalu juga bisa menerima Presiden Kongslet macam Trump yang dipilih.

Dibandingkan Presiden Wanita, hingga saat ini belum ada Presiden Wanita di Amerika.

Indonesia jauh lebih maju, sudah ada Presiden Wanita, bahkan banyak lagi yang tidak mungkin terjadi di negara lain terjadi di Indonesia.

Indonesia lebih siap di banyak hal, karena itu selayaknya Indonesia harus menjadi Negara pemimpin dunia, dibandingkan dengan negara Idola, Tiongkok.

Selama komunis akan selalu mayoritas, Suku HAN yang pasti jadi Pemimpin. Catatan : Negara Tiongkok baru terbentuk ‘People Republic’ tersebut belum ada 100 tahun. Kemudian sebuah prediksi gila dari si sontoloyo ini, yang berani mengatakan Tiongkok akan menjadi negara Demokrasi terbesar di Dunia.

Dimana, di Tahun 2030 ke atas Tiongkok akan mengadopsi Demokrasi, karena kalau tidak akan ditekan ekonominya oleh dunia.

Akan ada pemilihan Demokratis di tingkat Walikota dan Gubernur, di sebuah wilayah. Walaupun ketat pesanan dari Polibiro diatasnya, tetapi Demokrasi pasti diadopsi oleh Tiongkok.

Itulah pesan Trump, kepada Tiongkok saat ini. Berkali-kali saya katakan, Perang Tiongkok Amerika itu bukan perang dagang biasa. Dibelakangnya adalah Perang Ideologi antara ‘Komunis dan Demoktasi’. Diantara perang ‘Otoritarian dan Liberalisme’.

Kalau Kapitalisme bagaimana?

China mengadopsi Kapitalisme, namun bukan Kapitalisme murni.

Kapitalisme Globalist yang dianutnya. Dan ini sesungguhnya, membuat Disparitas perbedaan mencolok antara Swasta dan Negara, Kaya dan Miskin, tersistem untuk hanya sebagian saja yang kaya, yang bisa negara kontrol saja yang harus kaya.

Kita akan rincikan bahayanya mengapa jangan sampai Indonesia mengadopsi prinsip tersebut.

Disini kalau sahabat ‘Pemakan Buku’ Tukang baca, dan punya group Diskusi yang dalam akan mulai memahami bahwa beda ‘Kapitalisme Modern’, yang terjadi di banyak negara dengan ‘Kapitalisme Murni’ di bawah DAS Kapital Karl Marx, Pemurnian ajaran Kapitalisme yang sebenarnya.

Bukankah buku Karl Marx merupakan Pegangan Ideologi Komunis? Itu Kapitalisme Murni?

Pertanyaan sekarang, berapa kali kalian baca DAS Kapital di Buku tadi? belum pernah. Belum pernah kok komen sih? Ilmu kok katanya sih?

Kalau Mau kelola Negara, mau memimpin rakyat itu, Ilmu nggak boleh katanya. Ribuan buku hadir dalam 10 tahun terakhir, harus anda baca bahkan kehadiran buku baru tersebut saja, walaupun anda baca nih ya, belum tentu bisa menganalisa mengapa ‘Bytedance’ yang punya ‘TIKTOK’, bisa meledak di dunia, dan ‘ZOOM’ bisa menjadi pilihan dari ratusan Aplikasi sejenis, ZOOM tetap nomor satu (1).

Kita akan menjelaskan secara detail ya, bagaimana ‘TIKTOK’ diciptakan.

Artificial Intelijen yang memacu Adrenalin, anak di bawah umur 25 tahun, di pelajari 3 tahun secara mendalam sebelum membuat Aplikasi. Selama 2 tahun sebelim di luncurkan, 2 tahun yang lalu. Jadi, sudah total 7 tahun perjalanan TIKTOK tersebut.

Dengan mengubah atau Bahasa Sciencenya, ‘Meng-Engineering’ minat seseorang. TIKTOK bukan memenuhi ‘Maunya Pasar’, tetapi Pasar minatnya diubah sesuai maunya ‘TIKTOK’.

Kehadiran TIKTOK, mengagetkan Microsoft, mengagetkan Dunia, yang saat ini Microsoft menjadi Leader di dunia Teknologi. Mereka tidak faham, mengapa TIKTOK bisa lakukan itu. Dan mereka ingin tahu, bagaimana Psikological Engineering tersebut bisa di lakukan?.

Dan ini artinya bisa mengarahkan manusia nantinya kemana saja sesuai maunya Platform. Sekali lagi, dulu Bisnis itu ‘Create Want’, menciptakan keinginan ‘dari sebuah Need’, dari sebuah kebutuhan.

Misalnya, seseorang kerja di Jakarta, tinggal di Depok, kebutuhannya adalah alat transportasi. Dia saat ini naik kendaraan umum, keinginan dia naik mobil.

Maka, pebisnis akan menciptakan iklan Advertising, kampanye, meyakinkan orang seperti mereka, bahwa naik mobil Mercy yang terbaik, naik Toyota terbaik, misalnya kalau Dia Honda, Maka Honda lah yang terbaik, atau Dia Jual Mini Cooppeer, naik Mini Coppeer yang terbaik.

Bersaing meyakinkan calon konsumen untuk memenuhi keinginan mereka, ‘Want nya mereka’. Pebisnis tidak bisa ‘Create Need’, Need nya ada dulu, baru mereka menciptakan Want.

Namun TIKTOK Menciptakan ‘Demand’, menciptakan ‘Needs’, dengan di design. Ada Artifical Intelijen yang mengawal setiap Individu yang begitu anda download aplikasi mereka. Dengan, melihat TIKTOK selama 2 jam keatas, selesai !!

Data anda mereka punya !. Bukan data tanggal lahir, alamat rumah, alamat email, itu mah kuno. Dunia nggak butuh lagi data tersebut. Sudah tuker-tukeran diatas sana, lupakan kalau anda sok-sok an bermain bisnis digital sebatas untuk dapat email, dapat nomor kontak, itu ketinggalan 10 tahun cuk !.

Jaman FB, IG, Twitter dan Google rajanya, sudah diambil mereka semua. Sekarang yang diambil, Psikological Factor nya, seperti minat, passion, interest, focus, harapan, impian, kemarahan, kerinduan, cinta, dan semua terbaca. Oleh karena itu, banyak negara TIKTOK dianggap alat Intelijen. Dan itu ‘Benar’ !!!

Sayangnya hal seperti ini, di negara kita banyak yang nggak faham, termasuk pejabatnya, termasuk masyarakatnya. Ya, karena nggak pernah baca buku, nggak pernah diskusi, nggak ada yang minat.

Dan itulah untungnya, semua menjalankan bisnis, menjalankan kehidupan di Indonesia sederhana, persis tak berubah selama 20 tahun terakhir.

Atau bahkan mungkin 40 tahun terakhir sama.

Kembali ke Tema diawal tentang ‘Kapitalisme’. Kita akan Purifikasikan Kapitalisme di Indonesia dalam pemahaman, agar jangan menjadi Negara ke arah Otoritarian dan Elitis Kapitalis ala komunis.

Kita negara Demokrasi Pancasila, bernegara ya ala Pancasila. Cocok dengan apa yang terlahir diatas bumi dan kekayaan yang terkandung di dalam bumi Indonesia, cocok dengan budaya ribuan tahun peradaban Nusantara tanpa perlu budaya Impor, semua terkandung di dalam ekonomi Pancasila, bernegara Pancasila.

Karena, Ekonomi Pancasila adalah satu-satunya sistem yang menjalankan ‘Purifikasi Kapitalisme. Ada yang minat lebih paham tentang beginian? yang akan membuat ‘INDONESIA Menjadi MAN’. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed