oleh

Ulah Jokowi : AS di Natuna, China meradang

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (22/11/2020) | PUKUL 08.07 WIB

Perseteruan rivalitas antara Amerika Serikat (USA) versus China (RRC), telah memasuki babak baru.

Setelah sebelumnya, duel ‘agresi filtrasi’ antara USA-RRC di Kawasan maritim Laut China Selatan (LCS).

Kali ini, adu strategi politik dalam memperebutkan eksistensi kekuatan militer keduanya di kepulauan Natuna, Indonesia yang berkedok kerjasama bilateral itu.

Memanasnya hubungan diantara kedua negara adidaya itu, berimbas ke seantero belahan dunia, termasuk Indonesia.

Seperti telah diberitakan, Donald Trump menarik dubes AS yang lama dan mengganti kan nya dengan Dubes yang baru untuk Indonesia.

Dia adalah SUNG YONG KIM. Siapakah dia?

Kehadiran Sung sebagai dubes AS di indonesia cukup bikin pejabat tinggi indonesia yang MAOIST berkeringat dingin.

Sung adalah warga Amerika keturunan KOREA, dia adalah seorang diplomat yang ahli intelijen, juga seorang pakar komunis, menguasai seluk beluk pemerintah komunis dan perkembangan komunis saat ini di dunia.

Dimana kehadiran nya di indonesia sebagaimana tugas yang diemban nya, salah satunya untuk menghancurkan pengaruh-pengaruh China komunis di Indonesia.

Tidak cukup dengan mengganti dubesnya, Amerika juga akan mengirimkan menteri luar negerinya, Mike Pompeo ke indonesia, untuk menekan pejabat Indonesia yang Maoist sekaligus menentukan cetak biru hubungan Indonesia dengan RRC.

Selama ini kita ketahui bersama, tak sedikit pejabat tinggi kita yang begitu mesranya berhubungan dengan Komunis China.

Artinya tidak lama lagi pejabat tinggi yang Maoist akan menentukan sikapnya dihadapan Menlu Amerika, apakah Indonesia akan bergabung dengan sekutu lainnya di asia tenggara untuk menghancurkan pengaruh-pengaruh Komunis China ?

Sekaligus menempatkan indonesia sebagai pagar di Laut China Selatan, sebagai negara yang melawan dominasi China di LCS.

Akankah kepandaian pejabat tinggi Maoist kita dalam hal berbohong mampu mempengaruhi penilaian AS terhadap RI ?

Dan kayaknya pejabat tinggi maoist Indonesia akan kesulitan untuk memperdayai Amerika.

Sementara rakyat Indonesia, masih berjibaku untuk menolak UU Omnibus Law.

Umat Islam diluar NU memperhatikan geopolitik yang terjadi dari hari ke hari, sambil mengkonsolidasikan kekuatan umat islam kebawah, minus ormas-ormas Islam yg selama ini rutin menerima uang dari Komunis China.

Pertarungan kekuatan Kapitalis Amerika versus Komunis China itu, di terjemahkan dalam politik nasional sebagai pertarungan antara :

Pejabat tinggi Indonesia Maoist (back up Komunis China), Ormas NU (penerima bantuan Komunis China), Polisi, Militer, buzzer versus Nasionalis , Cendekiawan, Ormas Islam non Nahdlatul Ulama, Umat Islam barisan grassroot (akar rumput Muhammadiyah, NU, dan MUI).

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Komunis China akan begitu saja menyerahkan cengkraman nya pada negara jajahannya, Negara Kesatuan Republik Indonesia ?

Diperkirakan Komunis China akan memilih jalan berperang untuk melindungi boneka Maoist nya di Indonesia dan melindungi negara jajahannya, Indonesia.

Dan Republik Indonesia adalah pilot project ‘Penguasaan Komunis China’ atas Nusantara, dengan Komunis sebagai politiknya dan Kapitalis China sebagai ekonomi nya.

POMPEO SUKSES

Akhirnya memang Pemerintah kita kelas ayam sayur. Kedatangan Menlu AS Mike Pompeo sukses besar.

Utamanya adalah implikasi penandatanganan bersama Menlu Retno Marsudi mengenai Kepulauan Natuna yang bakal “diserahkan” menjadi lahan investasi AS.

Dan Tentunya target AS adalah membuat pangkalan militer. Penguatan strategis dalam perseteruan dengan China. Pompeo sukses.

Konflik Laut China Selatan memasuki babak baru. Bagian Indonesia akan menjadi pangkalan AS.

Sedangkan China yang mengklaim Laut China Selatan sebagai milik warisan kesejarahan akan sedikit terganggu dengan sikap Indonesia.

Jika serius kerjasama dengan Amerika dapat dibayangkan marahnya China kepada komprador Indonesianya. Entah langkah catur apa yang akan dimainkan.

Melihat Michael Pompeo yang sedang menandatangani “kesepakatan” di meja dan Menlu RI Retno Marsudi berdiri tertunduk agak prihatin juga. Akhirnya menyerah dan Luhut pun “nyumput”.

Teringat dahulu menjelang runtuh Orde Baru, Soeharto Januari 1998 menandatangani pinjaman IMF sementara Michael Camdessus berdiri sambil bersedekap. Gagah dan sukses.

Investasi AS di bagian terluar kepulauan Natuna menjadi fase awal masuknya kepentingan AS ke kawasan. Dengan dalih pengamanan teritorial Indonesia, AS akan bebas hilir mudik di kepulauan Natuna. Faktualnya adalah optimalisasi fungsi pangkalan militer AS di area.

Jokowi yang awal ketar ketir kini justru berposisi terjepit antara dua tekanan AS dan RRC. Ikatan kuat dan matang dengan RRC harus terbentur ultimatum AS. Jika dari awal mengambil jalan konsisten “bebas aktif” mungkin konflik AS-RRC menjadi keuntungan besar bagi Indonesia. Namun kondisi itu kini berbeda.

Pilihan sulit di tengah pandemi dan krisis ekonomi. Kedatangan Pompeo bukan membawa berkah buat Pak Jokowi tetapi simalakama. RRC tidak akan tinggal diam. Daleman Istana sudah diketahui. Jika Istana belok belok dalam bermain mesti ada bayaran. Mungkin mahal. Jokowi bukan semakin kuat, tetapi bisa goyah.

Ambivalensi selalu kalah di ujungnya dan loyalitas yang diragukan akan dieliminasi. Amerika yang menekan dapat memberi pil pahit bagi rezim. Dulu Michael IMF datang Januari 1998 dan Mei 1998 Soeharto jatuh. Kini Oktober 2020 Michael AS datang entah jatuh atau bertahankah Jokowi. Yang jelas rakyat sudah mulai mendesak.

Pompeo sukses memainkan panggung diplomasi. Memang langkah kelas dunia. Sekali datang Natuna sudah di tangan. Indonesia dibuat kebingungan menghadapi jasa-jasa investasi dan “debt-trap” RRC. Jokowi bukan figur idealnya AS, Jokowi juga mulai diragukan sebagai figur kuat pengaman kepentingan RRC.

Jokowi tidak aman. Jokowi tidak mengakar. Kasus RUU HIP dan UU Omnibus Law menempatkan Jokowi berhadapan dengan rakyat dan umat. TNI yang tergerus oleh Polri juga rentan untuk tetap menjadi pilar Jokowi.

Pompeo belum banyak bergerak tetapi sudah membuat belingsatan.

Menusuk pertahanan yang memang dari dulu juga lemah.

Pompeo sukses. Moga pak Jokowi tidak lari ke gorong gorong. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed