oleh

UU Omnibus Law, sebuah Konsekwensi?

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (18/10/2020) | PUKUL 08.09 WIB

UU Omnibus Law, Sebuah Konsekwensi?

Oleh : HAMEDI, SE

Ditengah upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona di Indonesia, Penerapan UU Omnibus Law oleh Pemerintah, terus menuai kontroversi.

Bahkan, hingga saat ini, gelombang aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja dengan 812 halaman, yang dianggap oleh banyak kalangan lebih berpihak kepada kepentingan pengusaha dan Asing itu, terus bergejolak, menyebar luas hampir di seluruh Tanah air.

Namun, Pemerintah bergeming.

Dan Bahkan, Mereka terlihat lebih mengedapankan tindakan represif, dan menciderai nilai-nilai demokrasi, dengan menangkapi pihak-pihak yang berseberangan.

Dengan digunakannya, UU Pandemi Covid-19, UU ITE dan Tuduhan makar terhadap pemerintahan yang sah dan NKRI.

Apakah UU Omnibus Law, sebuah ‘Solusi’ bagi permasalahan bangsa ataukah tidak lebih hanya sebuah ‘Konsekwensi’ yang terpaksa harus dijalankan oleh Presiden, JOKOWI?

Awalnya, pada saat penulisan Peta Dunia Tahun 1900, yang dibuat dengan berdasarkan “Wilayah Kolonialisasi”, diantara ada wilayah belgia, wilayah spanyol, wilayah inggris. Dan Inggris, hampir di semua wilayah mereka selalu berperang, sehingga eropa sangat kaya raya pada masa itu.

Memasuki Tahun 1904, Inggris menginginkan Amerika Serikat (USA) untuk menjadi negara junior atau aliansi alay atau negata koalisi boneka Inggris.

Maka, dikirimlah delegasi eropa, untuk mengajak USA datang berkunjung ke eropa. Dan, ini disebut-sebut sebagai satu kesalahan terbesar Inggris dengan memperlihatkan ‘kekuatan’ Eropa secara terbuka kepada delegasi USA.

Sebab, dari kunjungan itu, terkuaklah satu fakta mengejutkan.

Bahwa, Ternyata, teknologi perang yang dimiliki oleh negara Eropa, jauh tertinggal 50 Tahun dibelakang, jika dibandingkan teknologi perang USA.

Hal ini, yang kemudian membuat USA tersadar menolak tawaran Inggris, dan bahkan (USA) sangat menginginkan UNI Eropa bubar atau hancur.

Ketika pecah Perang Dunia Kedua, USA tidak membantu Negara Eropa. Dan, UNI EROPA pun resah.

Disisi lain, Teori ekonomi adam smith, berakhir saat resesi ekonomi dunia melanda, di Tahun 1931.

Kemudian, digantikan Teori ekonomi keynes, dengan dua jurusnya, yaitu ‘World Bank’ dan ‘Inflasi’ nya.

Dipertengahan Tahun 1944, melalui pertemuan 17 Negara Eropa (negara yang bakal jadi pemenang perang dunia kedua, di kota kecil, di wilayah Boston, Amerika Serikat, pihak USA, menawarkan dua syarat alternatif.

Diantaranya, yang pertama, Dollar dijadikan mata uang ‘currency’ dunia. Kedua, Harus punya “World Bank (WB)”, yang akan diawasi oleh “International Moneytary Found (IMF), dan kedua-duanya berkantor di Wasgington DC, Amerika Serikat.

Dan Dunia dipetakan ulang dengan berdasarkan keinginan USA, dimana, Eropa negara produsen, bahan bakunya dari Afrika. Negara Arab sebagai Negara penghasil Sumber Energi Dunia, dipecah menjadi 18 Negara.

Sedangkan negara China, India dan Indonesia, yang memiliki populasi penduduk terbesar, diposisikan sebagai negara market. Serta, Amerika utara bahan bakunya dari Amerika selatan.

Saat USA sedang sibuk menguasai Timur Tengah, sebab, jika suatu Negara yang mampu mengontrol Minyak bumi, maka, Dia akan mampu mengontrol dunia, China membangun infrastruktur.

Dari negara market, menjadi negara produsen. Dari negara ‘peniru’, menjadi negara ‘inovasi’, yang hampir ‘menyalip’ negeri paman sam itu.

Pada Tahun 1998, kembali resesi ekonomi terjadi, dan Teori Keynesia mati.

Dalam kurun waktu antara tahun 1999 hingga saat ini, China di bawah kendali Perdana Menteri, Xi Jinping, menerapkan sistem ekonomi liberal komunis, melalui program One Belt, One Road atau OBOR-nya itu.

Dengan mengadopsi teori ‘sang guru’ -saat Xi Jjnping dan banyak petinggi Partai Komunis China menimba Ilmu di Peking University, China- Michael Hudson, yang mengajarkan kebijakan ‘Printing Money’.

Dimana, Di China, terdapat dua mata uang, yaitu REMINDI (yang dicetak berdasar proyek dan tidak beredar di luar china) dan mata uang YUAN (yang dicetak berdasar atas jaminan Dollar atau Emas).

Lalu, bagaimana aplikasinya?

Jadi, China mencetak uang REMINDI sebanyak-banyaknya sesuai dengan Proyek, tanpa ‘ragu’ akan terjadinya Inflasi.

Misal, ada proyek membangun 1 juta rumah, maka China akan cetak 100 Trilyun untuk merealisasikannya.

Dari satu juta rumah tadi, setelah jadi, bayarnya pasti pakai Dollar. Saat, Dollar masuk, maka, mata uang REMINDI dengan nilai kurs yang sama, akan dibakar musnah.

Dengan begitu ancaman Inflasi tidak mungkin terjadi. Begitu seterusnya.

Bagaimana agar YUAN semakin menguat?

Dengan mendekati calon pemimpin suatu negara. China akan berani ‘membiayai’ demi kemenangan sang calon.

Tak hanya itu saja, bahkan China siap gelontorkan hutang proyek, dengan nilai tak terbatas, dan akan dibiayai dengan Uang REMINDI, cetakan Negeri Tirai Bambu tersebut.

Akan tetapi, dengan satu catatan -agar uang REMINDI tidak keluar dan beredar di luar China- maka, diwajibkan dalam pengerjaan proyek-proyek infrastruktur (seperti : proyek pengerjaan jalan tol, jalur kereta api, bendungan, bandara, pelabuhan, dll) itu, menggunakan seluruh Bahan baku yang digunakan, semua Tenaga Kerja yang akan mengerjakan dan seluruh Pelaksana proyeknya itu, harus berasal dari Negeri China, tanpa syarat dan tanpa terkecuali.

Mungkin saja, Negara Indonesia dibawah Pemerintahan presiden RI, Joko Widodo, menjadi salah satu testimoni.

Dan, sebagai salah satu konsekwensi politiknya adalah paksaan Penerapan UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Jadi, disaat Pemerintah Indonesia salah kelola negara, kita diakali oleh Negara lain.

Ada Dua kebijakan yang harusnya atau idealnya dilakukan oleh para pemimpin di negara Ini, agar pemulihan ekonomi nasional segera terwujud.

Yaitu, kesatu, keluarkan kebijakan, bagi barang siapa yang membawa uang keluar negeri, diancam hukuman mati.

Dan, kedua, Kebijakan bunga nol persen (0%) bagi Tabungan Deposito.

Dan bukannya, malah memaksakan UU ‘kontroversial’ Sapu jagad, yang disahkan melalui Rapat Paripurna bersama DPR RI pada tengah malam, tanggal 5 Oktober 2020 lalu. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed