oleh

Yuan China Makin Gencar “Kuasai Dunia”

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (25/10/2020) | PUKUL 19.09 WIB

Bank sentral China (People’s Bank of China/PboC) kembali membuat terobosan agar mata uang yuan semakin banyak diminati dan digunakan dalam pembayaran internasional. Gubernur PBoC, Yi Gang, mengatakan China akan berusaha meningkatkan fleksibilitas mata uang yuan, dan mengurangi pembatasan penggunaan yuan di luar negeri.

Yi yang berbicara dalam konferensi Bund Summit di Shanghai Jumat (23/10/2020) menambahkan langkah tersebut dibutuhkan untuk mempromosikan terbukanya industri jasa finansial China.

“China akan meningkatkan fleksibilitas yuan, membiarkan nilai tukar berperan lebih besar sebagai penyeimbang dalam ekonomi makro serta neraca pembayaran international,” kata Yi sebagaimana dilansir Potretjatimdaily.com.

“Guna mendorong internasionalisasi yuan, China akan meningkatkan infrastruktur penggunaan yuan antar negara,” tambahnya.

Langkah tersebut menunjukkan China semakin gencar mempromosikan yuan sebagai mata uang internasional.

“Internasionalisasi yuan berubah dari sesuatu yang diinginkan menjadi hal yang sangat diperlukan bagi Beijing. China perlu mencari pengganti dolar di tengah ketidakpastian politik,” kata Ding Shuang, kepala ekonom Standard Chartered untuk wilayah China dan Asia Utara, seperti diberitakan Bloomberg bulan Juli lalu.

Saat ini pergerakan nilai tukar yuan sangat dikontrol oleh bank sentral China, (People’s Bank of China/PBoC).

Setiap harinya PBoC akan menetapkan nilai tukar yuan terhadap dolar AS, dan membiarkannya bergerak melemah atau menguat hingga maksimal 2% dari nilai tengah.

Kontrol PBoC terhadap nilai tukar tersebut menjadi kurang disukai dalam transaksi perdagangan. PBoC bisa sewaktu-waktu melemahkan atau menguatkan nilai tukar mata uang yang juga disebut renminbi ini. Tentunya akan kurang menguntungkan saat memegang yuan, kemudian PBoC mendepresiasi nilai tukarnya secara signifikan.

Contohnya pada bulan Agustus 2019 ketika PBoC mendepresiasi nilai tukar yuan terhadap dolar AS ke level terlemah dalam lebih dari satu dekade, gejolak timbul di pasar finansial. AS bahkan sampai menjuluki China manipulator mata uang.

Yuan merupakan satu dari lima mata uang yang termasuk dalam Special Drawing Rights (SDR) IMF, empat lainnya yakni dolar AS, euro, yen, dan poundsterling. Status tersebut baru didapatkan pada September 2016 dan menguatkan posisi yuan sebagai mata uang internasional.

Tetapi, meski sudah mendapat status “istimewa” tersebut, dibandingkan mata uang lainnya porsi yuan dalam cadangan devisa ternyata memang sangat kecil.

Berdasarkan data dari International Monetari Fund (IMF), porsi yuan di cadangan devisa global hanya 1,92% atau serata US$ 230,4 miliar di kuartal II-2020. Sangat jauh dibandingkan dolar AS yang “menguasai dunia”, porsinya di cadangan devisa global mencapai 57,45% atau US$ 6.901,5 miliar.

Yuan hanya berada di urutan ke-5 mata uang cadangan devisa. Dengan rencana PBoC untuk membuat yuan lebih fleksibel, tentunya tujuannya agar yuan lebih disukai dan semakin banyak digunakan untuk transaksi internasional.

Dalam beberapa tahun ke depan yuan diprediksi masuk dalam tiga besar mata uang cadangan devisa. Porsi yuan di cadangan devisa global sebenarnya terus bertambah secara konsisten dalam berapa tahun terakhir. Pada kuartal IV-2016, porsi yuan di cadangan devisa global hanya 1,07%.

Penambahan porsi yuan tersebut diprediksi masih akan terus terjadi di tahun-tahun mendatang hingga mencapai 5-10% dari total cadangan devisa dunia.

“Pada akhirnya, apa yang kita pikirkan akan terjadi dalam 25 tahun ke depan adalah kita akan maju, kita akan memiliki dunia dengan tiga mata uang utama: dolar AS, euro, dan yuan” kata Massimiliano Castelli, head of strategy and advice, global sovereign markets, dari UBS Asset Management, sebagaimana dilansir Reuters.

CHINA TERDEPAN KEMBANGKAN MATA UANG DIGITAL

Pada April 2020, PBOC meluncurkan pilot project mata uang digital China atau yang lebih dikenal dengan Digital Currency/Electronic Payment (DCEP) atau e-CNY.
Pada bulan Maret lalu, Bank for International Settlement (BIS) dalam sebuah laporan menyebutkan ada 3 model mata uang digital bank sentral yakni:

1. Indirect dimana tagihan (claim) dilakukan ke perantara (bank komersial), sementara bank sentral hanya melakukan pembayaran ke bank komersial.

2. Direct dimana tagihan dilakukan langsung ke bank sentral.

3. Hybrid dimana tagihan dilakukan ke bank sentral, tetapi bank komersial yang melakukan pembayaran.

e-CNY ini menggukan model mata uang digital hybrid, yang menurut Moody’s memang paling layak diterapkan dibandingkan 2 model lainnya karena menimbulkan disrupsi palaing rendah di sistem keuangan saat ini.

China mengungguli negara-negara lain dalam pengembangan mata uang digital.

Sampai medio 2020, ada 10 negara yang sudah mulai melakukan pilot project penggunaan mata uang digital buatan bank sentralnya termasuk China dan dua negara dari OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) yakni Swedia dan Korea Selatan.

AS dan belasan anggota OECD lain masih berada di tahap riset terhadap pengembangan mata uang digital ini.

Sebagai informasi China memang beberapa langkah lebih awal dalam pengembangan mata uang digital.

CSIS melaporkan bank sentral China (PBoC) mulai membentuk tim untuk melakukan studi pengembangan mata yang digital pada 2014.

Kemudian di tahun 2017, anggota dewan memberi izin PBoC untu mendesain mata uang digital itu melalui kerja sama dengan bank komersial.

PBoC juga membentuk institusi riset yang dinamai Digital Currency Research Institute di tahun yang sama setelah mendapat lampu hijau dari anggota dewannya.

Mei tahun lalu, Gubernur PBoC Yi Gang mengatakan bahwa proses top level design mata digital China tersebut sudah selesai dan siap diinisiasi di Chengdu, Shenzhen, Suzhou, dan Xiong’an. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed